Setiap tahun, momen Hari Guru tiba dengan suasana haru. Di sekolah-sekolah, siswa berlomba mengucapkan terima kasih kepada para guru mereka. Bunga, hadiah-hadiah kecil kartu ucapan, atau puisi menjadi tanda cinta dan hormat. Di tengah senyuman dan rasa haru, ada kebahagiaan sederhana dari guru yang merasa dihargai. Namun, sering kali perayaan ini hanya menjadi kenangan yang terhenti di gerbang sekolah. Setelah siswa lulus, jarang sekali mereka kembali mengingat Hari Guru atau menyampaikan rasa terima kasih pada guru-guru yang dulu membentuk karakter mereka. Rutinitas hidup menggeser kenangan itu. Sebagian mungkin masih ingat sekilas, namun hanya segelintir yang benar-benar menjaga hubungan dengan guru mereka. Namun, hal ini berbeda dengan para santri. Para santri memandang guru atau kiai mereka bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai panutan hidup. Dalam tradisi pesantren, seorang kiai adalah figur yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memberikan keteladanan m...
Blog ini cuma berisi renungan-renungan ngawur yang muncul pas lagi bengong di kamar mandi, opini liar yang nyelonong tanpa permisi, atau puisi asal-asalan yang tercipta gara-gara kehabisan kopi.