Langsung ke konten utama

Postingan

MENG-NU-KAN NU

Sekeruh dan sekacau apa NU Kok acapkali menjadi obrolan bernuansa rasan-rasan di kalangan jamaah sipilnya. Apalagi kalau sudah menyandingkan jamiyah mulia ini dengan masalah bangsa dan negara, yang katanya, sudah terlalu jauh dari maqashid sang muassis.  Hei, bukankah NU dulu lahir dengan semangat untuk memperjuangkan hak dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegeara.  Ketika mereka berani menampar para pemimpin-pemimpin yang bengis. Memperjuangkan kebebasan beribadah di negeri makkah. Menolak keras penghancuran situs bersejerah.  Belum lagi seruan fatwa jihad untuk membasmi para penjajah.  Bahkan, dengan rasa kewibawaannya betapa NU dulu lebih memilih bersitegang dengan para penguasa. Demi apa? Demi memperjuangkan hak-hak dan keadilan bagi bangsa.  Sekarang yang terjadi, versi gibahan itu, justru  sebaliknya. Terlalu banyak noda noda membandel yang melekat di tubuh jamiyah yang sudah seabad ini. Noda yang dipenuhi dengan nafsu kepemimpinan, jabatan...
Postingan terbaru

SERTIFIKASI TENAGA AHLI KONTEN

Semalam sebelum tidur, saya mendengarkan podcast di channel YouTube Helmy Yahya Bicara. Dpandu oleh Helmy Yahya sosok yang dikenal luas dengan wawasan umumnya. Dengan bintang tamu Gofar Hilman, seorang podcaster sekaligus pimpinan Grindboys yang dikenal piawai mengobrol ngalor-ngidul. Hal yang menarik perhatian saya adalah ketika Helmy Yahya, yang kini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Konten Kreator Indonesia, mengemukakan inisiatif tentang pentingnya sertifikasi keahlian bagi para konten kreator. Terutama ketika mereka membahas topik-topik yang memang membutuhkan kompetensi khusus. Seperti kesehatan, hukum, agama, dan beberapa lainnya.  Gagasan ini berangkat dari keresahan atas maraknya konten yang dibuat tanpa dasar keilmuan yang memadai. Akibatnya, tidak sedikit yang memicu konflik, perang antar buzzer, kesalahpahaman, hingga penggiringan opini yang sulit dikendalikan. Seolah-olah, setiap orang bebas berbicara tanpa “rem. Bahkan pada hal-hal yang bukan bidang keahlian...

KERETAKAN LOGIKA DI BALIK KRITIK PESANTREN

Beberapa waktu terakhir, dunia maya kembali diramaikan oleh perbincangan soal tayangan Trans7 dalam acara expose unsencored yang dianggap memuat framing negatif terhadap pesantren. Cuplikan video yang beredar menampilkan narasi seolah pesantren identik dengan feodalisme, kiai yang otoriter, atau praktik-praktik yang dianggap tidak manusiawi. Dari potongan singkat itu lahirlah hujan komentar, sebagian bernada kritik, sebagian lagi hujatan dibumbui fitnah. Sontak protes dan beragam kecaman muncul dari para kalangan santri.  Rupa-rupanya persoalan itu tak berhenti pada sikap ketidaksetujuan dari para santri. Tapi banyak kemudian konten kreator mendukung isu yang diangkat oleh trans7 tersebut. Dengan berpayung pada kata "kritik", mereka turut melontarkan kalimat demi kalimat untuk berusaha menyatakan ketidaksetujuan terhadap fenomena di pondok pesantren.  Lantas apakah yang disampaikan oleh trans7 dan para konten kreator itu layak disebut sebagai kritik? Atau hanya narasi sepihak...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

Mencari Zamzam

Sudah masyhur di kalangan kita, bahwa suatu waktu Siti Hajar pernah berlari mondar-mandir antara bukit Shafa dan Marwah. Ia mencari air untuk putranya yang masih kecil, Ismail, yang menangis kehausan. Namun, di kedua bukit itu, air tak ia temukan. Sampai akhirnya, secara tiba-tiba, air memancar dari dekat kaki kecil Ismail. Air ini yang kemudian dikenal sebagai mata air Zamzam. Kisah ini bukan hanya menjadi bagian penting dari rangkaian ibadah haji, yakni sa’i, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan kita. Bahwa jalan keluar bisa datang secara tak terduga. Ia bisa muncul kapan saja, di mana saja, bahkan tidak selalu sebanding dengan usaha yang kita lakukan. Namun, satu hal yang perlu kita yakini, bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, akan melahirkan hasil. Sejauh mana langkah kita hari ini, sejatinya adalah cermin dari keberhasilan kita di masa depan. Oleh karena itu, fokuslah pada proses. Hasilnya? Biarkan waktu yang membuktikan. Tak ada satu pun orang hebat di dunia ini ...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.