Dunia digital telah menjadi ruang baru bagi anak-anak, tempat mereka tumbuh dan mencari jati diri. Namun, di balik gemerlapnya mayanya, tersimpan ancaman yang tak kasat mata. Mulai dari intimidasi online, tekanan sosial, dan standar kesempurnaan yang menyesakkan dari para makhluk yang disebut "influencer". Tidur terganggu, harga diri dipertaruhkan, dan terkadang, kebahagiaan diukur dari jumlah follower dan like. Tak sedikit yang menjadikan dunia maya sebagai panggung utama. Sebagao tempat di mana konten menjadi mata uang dan eksistensi ditentukan oleh algoritma, pengikut, dan komentar pujian. Dulu, cita-cita anak-anak terpatri dalam profesi yang dianggap mulia: dokter, guru, pilot, astronot. Kini, anak-anak bermimpi menjadi konten kreator, YouTuber, atau seleb TikTok. Bukan hal yang salah, selama mereka memahami esensi dari setiap karya yang mereka bagikan. Namun, ketika orientasi bergeser hanya pada keuntungan materi, nilai-nilai norma perlahan bisa jadi akan me...