Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

PESANTREN; JAWABAN ATAS SEGALA KERESAHAN

Pesantren adalah sumber berita positif. Siapa lagi yang akan melawan berita negatif kalau bukan kita yg konsisten membawa atau berdakwah hal-hal positif. Budaya2 pesantren, ilmu dan pengetahuan yg ada di pesantren harus dusebarkan dan dipahamkan  Bahwa sebagai santri, Kita dididik untuk mampu mengendalikan perubahan pada kebaikan. Berdiri di depan bukan bersembunyi di belakang. Maka bagaimanapun juga, budaya-budaya pesantren, ilmu dan pengetahuan yang ada di pesantren, harus disebarkan dan dipahamkan kepada masyarakat luas dengan media yang digandrungi masyarakat saat ini, yaitu sosial media.

MEMPERERAT TALI VIRTUARRAHIM

Kalo pernah terbersit di pikiran, "Oh iya udah lama gak silaturrahim ke saudara yang ini." Atau, "Eh... Temenku ini apa kabar, ya??!" Jangan biarin ada susulannya, "Gampang... Nanti deh ke sana." Atau, "Nanti deh aku hubungin." Oke, mungkin ada yang terhalang jarak dan dengan kondisi seperti ini, orang-orang nggak mudah berpergian. Hei, teknologi memudahkan kita kalo semisal jauh, bukan? Yang dekat, bisa segera datangi. Yang jauh pastikan tetap jalin komunikasi. Tidak perlu menunggu nanti. Tidak usah dengan kata "habis ini". Hei, kita sudah sejauh ini berkejaran dengan waktu. Setidaknya sebagai syukur, bahwa tuhan telah menyematkan sedikit ingatan tentang lamanya waktu kita tak berkabar dan sapa dengan kawan lama. Tak perlu menampilkan keabaian, agar tak jadi penyesalan. (Tulisan ini saya buat tepat di malam takbiran Hari Raya Idul Fitri 1442 H lalu. Sempet ketilisut dan ketemu lagi)

BIAS PERSEPSI AJARAN TUHAN

Adam dilahirkan di surga. Mendapat edukasi langsung dari tuhan tentang berbagai hal. "Bertemu" Dengan Sang Maha Kuasa, sudah pasti. Sampai pada akhirnya ia dan kekasihnya diturunkan ke bumi oleh Tuhan. Pada perkembangan waktu berikutnya, Adam membawa ajaran konsep Tuhan dan ketuhanan kepada keturunan yang juga menjadi pengikutnya. Lambat laun, terjadilah berbagai penyimpangan dari ajaran ini. Tak ayal banya kaum-kaum Nabi pasca Adam berbuat kesyrikian dengan berbagai macam dan pola terus menerus dan turun-menurun. Apakah ajaran murni itu telah terdistorsi secara sengaja oleh manusia. Atau kita istilahkan dengan adanya korupsi sejarah atas ajaran yang dibawa oleh Bapak pertama manusia itu. Perubahan yang kemudian menjadi lebih picik, lebih terkesan kufurisme, yang bisa jadi, dibuat demi suatu kepentingan. Sampai kemudian diutuslah para Nabi dan Rasul untuk meluruskan ajaran  dari beragam bentuk penyimpangan yang terjadi? Ataukah disebabkan karena Kelemahan manusia itu sendir...

ABSTRAKSI RINDU

Terdendangkan selarik bait merindu Dalam simponi semilir angin Sayup menghantar perasaan pada kegersangan jiwa Menghampakan raga pada oase gulana Tertorehkan tinta di atas lembar kertas putih itu Tersuratkan kata bertemakan rindu Sebait kata menjadi susunan paragraf utuh Mengejawantahkan arti kata menunggu Masing-masing kita, Tengah khusyuk bertekur di ruang imaji Menapak mimpi pertemuan di suatu pagi Menikmati paras sendu tersipu senyum menari. Di luar kesadaran, kita menjadi diri Karena satu hal... Cinta

DISPOINIDA

Terendap perasaan mengeras sedemikian lama Saat jarak terhalang satir tebal tak bertepi Memutar ingatan Keberadaan tentang segumpal perasaan Juga masa penantian dalam rentan waktu tak berjeda Segala harap mencari keberpihakan Oleh sebab rindu telah menjadi saksi bisu perihal menunggu. Dan, Ketika camar bersenandung pada suatu pagi Di sela rindang dedaunan membasah oleh tetesan embun. Menyanyikan nada pilu Di pucuk dahan tempat mereka saling merindu Celotehnya terdengar sendu Gersanglah pagi pada suatu waktu Maka, Di situlah romansa Tempat di antara kesunyian yang tak mereda Nuansa sejuk merubahku menjadi suntuk Kesiur angin mengalih menjadi badai Bising menjadi suara tak bergeming Mengisak batin Berucap lirih Aku merindukanmu...!!?

SASTRAKU MELULUH

(Foto: Instagram) Tak ada lagi sajak bagi para pemimpi Lenggana masa untuk kembali menemani Menggubah ayat kehidupan menjadi sepenggal sastra Sayangnya, Tersirat sisipan kata tak tereja Pun sesekali tiba di suatu masa Mereka terjerembab dalam kubang duka Di ujung harap yang masih tersisa Mereka menyutubuhi rangkaian warna Tertentang semburat pelangi mewarna jingga Terjamah cipta oleh kirana Sampai menunggu saatnya tiba Keteraturan itu lungsur tercabik murka Teriak para pemimpi berdusta Seketika Segala mimpi dan asa Hanyut bersama tetes peluh yang tersisa

MASIH

Waktu melaju sebagaimana garis ketentuannya Adakah yang kau lupa di ingatanmu Tentang dia dan aromanya Tarian bayangnya kian gemulai Sebab rapuh telah menjebak dan menghantuimu Jelas sekali Di ujung bibirnya Ada kata terakhir yang melekat dikepalamu Jangan sesekali kau lupakan Katanya suatu ketika Biarkan saja Tanpa jarak ia akan mengikut Di meja makan, jendela kamar Atau di dalam saku celana kusam itu Dan itu benar Setiap kali menatap nanar di segala hening Waktu melintas tanpa ada sentuh Segalanya, tentang seseorang itu Menghujam keras di setiap gerak nadimu.

SUIT... SUIT... HE HE; CATCALLING

Dilema jadi seorang perempuan itu kerap disalahkan atas apa yang terjadi pada diri laki-laki. Misalnya, kasus yang akhir-akhir menjadi perbincangan hangat, "catcalling".  Catcalling merupakan bentuk pelecehan seksual di ruang publik, biasanya dilakukan di jalanan atau fasilitas umum lainnya. "Terdapat nuansa seksual dalam ucapan, komentar, siulan, atau pujian, kadang-kadang disertai kedipan mata. Korban merasa dilecehkan, tak nyaman, terganggu, bahkan terteror." Jelas Komisioner Komnas Perempuan, Rainy Hutabarat. Dan dalam kasus catcalling, lebih banyak cewek yang menjadi korban. Tapi entah apa alasannya, yang kerap disalahkan adalah si pihak ceweknya. Dipikir terlalu cantik, musytaha, menggoda iman dan lain sebagainya. Ada stigma negatif yang dilekatkan pada diri perempuan. Akhirnya stigmatisasi ini menjadikan perempuan dianggap sebagai sumber fitnah dan penyebab lemahnya iman laki-laki. Mengenai Cara berpakaian, misalnya. Banyak pelaku justru menya...

ZONA TERLARANG INSTAGRAM

"Duh nih orang... Ngapain upload foto ke Instagram terus bikin story pake foto yang diupload ditambahin dengan embel-embel “new post” pada bagian muka." Tegur netijen pada emak-emak yang udah punya anak 5 dan aktif main ig sama fb. "Ya Allah... Masih ada aja bikin story di Instagram dengan screenshot percakapan bareng temen, terus kebanyakan isinya ditutupin pake emoticon." Celoteh ibu guru yang sejak tadi mantengin story para followingnya yang juga para guru di sebuah sekolah SMA ternama. "Ya elaah...Selebgram bukan, tokoh ternama juga bukan. Eh, ni orang bikin story hampir tiap menit, udah kaya titik-titik tuh storynya." Resah seorang jomblo yang sedari pagi hp nya sepi dari chat seseorang namun rame disebabkan chat grup dan notif uc news. "Live lagi, live lagi... Sehari rasanya udah hampir 5 kali nih orang live. Woi... Kalo mau nge-live di Bigo sekalian noh...!!" Bentak seorang cewek yang sejak tadi miring-miringin k...

ALIRAN KENANGAN DI SUNGAI BRANTAS

( Foto : Jembatan Lama Sungai Brantas Bandar Kidul Kediri ) Di pinggiran sungai brantas Muara-muara kisah itu pernah mengalir Ada riak tawa, sedu, dan sedan Lalu lalang kenangan Keping kisah berhamburan Melaju di setiap persimpangan Palung duka menjeratmu hari ini Berjibaku dengan penyesalan Ruang dan waktu lambat laun menghilang Sementara itu, Kata-kata sudah terlanjur melesat Jauh meninggalkanmu Terbakar masa lalu Peristiwa tersisa memasung langkahmu

RAHMATAN LI NETIZIN

Semua sedang menikmati ganasnya permusuhan. Brubuh pertikaian. Pada suatu masa ketika orang-orang sibuk mendesain bilik ruang gagasan dan prinsip pemahamam. Mereka menutup rapat ventilasi-ventilasi dan pintu keterbukaan pemikiran. Terkotak-kotak oleh pemahaman, tersekat fanatisme, terhalang satir kebencian. Satu sama lain melemparkan hujatan, menghunuskan umpatan kasar, menembakkan ancaman menyedihkan. "Dasar keparat... Biadab... Tak ada akhlak... Mati saja kau" Dan ragam cercaan kotor lantang terucapkan. Penista.. Penista.. Penista... Saling tuduh menuduh satu dengan lainnya. "Kau menistakan agama kami, kau menistakan junjungan kami" berulang-ulang dijejalkan dengan penuh murka. Terjadi ricuh perang komentar bar-bar di sosial media. Jika televisi dipenuhi tayangan sinetron dan drakor, sosial media dipenuhi hujatan, ancaman, dan teror. Atas nama cinta dan pembelaan lahirlah sikap amarah yang menggebu-gebu. Yang merasa dilukai menjadikan emosi sebagai peluru....

SALAH KOK DIHUJAT ?

Orang yang merasa pandai ilmu agama kemudian menghujat orang-orang yang dianggap kurang pandai mengaji namun berani tampil berdakwah di mana saja terutama di sosial media. Kasus kritik dan celaan terhadap beberapa ustadz yang dinilai salah dalam penyampaian ceramahnya. Beberapa yang saya ingat, seperti Ustazah Neno Warisman, Ustaz Evie Effendi, dan lain sebagainya. ( Tanpa menyudutkan sosok-sosok di atas, bahwa nama-nama di atas memang sempat viral di sosial media dan menjadi bahan pembicaraan. Silahkan cek di kanal Youtube atau media lainnya ) Alih-alih sebagai bahan hujatan, kesalahan yang dilakukan beberapa Ustaz kita yang sempat viral ini, menurut saya, bisa menjadi tamparan keras atau suatu motivasi tersendiri untuk orang-orang yang dirasa 'alim atau yang mumpuni ilmu agama untuk sesegera mungkin tampil dan menguasai mimbar-mimbar dan majelis dakwah di sosial media Namun yang justru terjadi adalah munculnya gejala hujat-menghujat dan olok-mengolok. Yang dianggap ti...

ROMANTISME MALAM DAN DERU HUJAN

Tubuh mungilnya disiram tempias hujan. Gigil mengisak di balik seutas senyuman. Sesaat menikmati tawa semu. Mendebat segala sesak dan sakit. Menahan lara di antara deraian rintih. Jiwanya rigkih berkalung banyak penanggungan. Aku menutup wajahnya yang pasi. Bersamanya menghabiskan malam mengemis kasih. Memberi makna sunyi, kelam, pekat dan sejuta nuansa ketidakbaikan lainnya. Sampai di titik permulaan fajar, kita merapal segala pembenaran. "Bahwa Tuhan tak kan enggan menurukan kasih untuk semua hambaNYA." "Lupakan segalanya untuk beberapa jam saja." Sesaat kemudian. Kita melebur. Lenyap

PANDEMI MASUK KAMPUNG

Akhir-akhir ini saya merasa sangat bersyukur karena semakin menyadari bahwa tinggal di desa adalah anugrah yang luar biasa yang diberikan semesta kepada sayamnTerlebih ketika menghadapi ancaman krisis seperti pandemi Covid-19 ini. Bagaimana tidak? Bahkan masyarakat desa bisa saja tidak perlu pergi keluar jika hanya untuk makan. Sementara kemewahan itu tidak dimiliki orang kota. Di desa semuanya real dan kongkrit, kita tidak bisa jualan citra seperti di industri hiburan, misalnya. Segala masalah diselesaikan secara langsung bukan dengan hashtag politik di sosmed. Ancaman krisis global akhir-akhir ini membuka cakrawala banyak orang tentang ketahanan pangan negara kita, karena negara-negara lain juga menghadapi ancaman krisis yang sama, sehingga mereka pun pelit mengekspor bahan-bahan pangan untuk mengamankan stock dalam negeri masing-masing untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Di Indonesia, tumpuan ketahanan pangan pun akhirnya tertuju pada masyarakat desa yang menghasilkan produk-p...

Khidmah, Nikah, Atau Maisyah

"Ojo sampek khidmahmu mung gugurno wajib khidmah setahun tok..." Titah pimpinan pondok kepada saya pada suatu ketika. Diam... Lengang... Flashback beberapa tahun silam. Saat saya berada di jenjang tamatan MHM Lirboyo (saat ini setingkat Mahad Aly Smt 5/6). Jika saya ditanya khidmahmu berapa tahun? Secara spontan (uhhuuyy), saya akan menjawab setahun tok. Habis itu pulang, pngen nyari duit biar nggak ngebebanin orang tua mulu. Ya, itu jawaban saya setaun silam. Tapi, sebagaimana kata Tom Chaplin, " I try to stay awake and remember my name. But everybody's changing." (Foto bersama rekan-rekan Nusantara Bagian C.02 setelah sowan  b a reng kepada beberapa mustahiq. Sehari setelah pelaksanaan wisuda) Ya. seiring berjalannya waktu, jawaban itu mengalami perubahan. Pernah suatu malam, saat saya dan beberapa rekan sowan kepada bapak Rohmat Roihan dalam rangka meminta nasihat dan restu untuk kami berkhidmah. Beliau memberi pesan yang bagi saya itu cukup ...

Romantisme Malam Penobatan Sarjana

Akhirnya, wisuda saya terlaksana tahun ini. Meski sempat harus diundur setahun karena alasan pandemi. Kebahagiaan tentu menyelimuti kami. Penantian selama bertahun-tahun itu benar-benar bisa terjadi. Kebahagiaan dari para masyaikh, para guru, orang tua berpilin bersama doa dan ridho mengalir tanpa henti. (Foto: Bersama Rekan-Rekan Nusantara 2020 Bagian C.02, beberapa saat usai seremonial wisuda) Namun sayang, rasa bahagia itu agak sedikit kurang sempurna. Setidaknya saya sendiri merasakannya. Ya, prosedur acara yang begitu ketat. Konsep acara sederhana dan super kilat. Tak ada euforia-euforia seperti wisuda di tahun-tahun yang telah lewat. Pandemi telah membawa suasana menjadi gawat. Dan, prosesi wisuda tanpa kehadiran orang tua cukup membuat kebahagiaan saya sedikit tersayat. Padahal, dulu orang tua saya akan berjanji turut menghadiri wisuda saya. Bukan karena apa-apa. Sebab, keberadaan saya di lirboyo sejak 2009, ayah saya sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di...

TENTANG BANYAK HAL

Kembali dia mencari waktu terbaik dalam hidupnya yang senggang. Tentang apa saja meski pada akhirnya hanya menjadi kenang. Berakhir dalam kata tanda petik dan bintang. Segala dua sisi warna dan pola. Hitam putih gelap terang pagi petang dan lain sebagainya. Merebahkan jiwa pada keras hidup yang dijalaninya. Telah dilalui sekian waktu dengan kata tak berjeda. Merajut diksi salam tak terhingga. Sampai jemu tak merubah semangat menjadi jera.  Pada akhirnya, sekian tanya terjawab oleh sesuatu yang diinginkan. dengan buka kurung titik dua menjadi penjelas sekian tanya tak terpecahkan. Bahwa kenaifan diri adalah kewajaran. Secara kodrati yang tak bisa terelakkan. Mencapai satu tingkap pengertian bahwa cinta tak melulu harus diabaikan.