Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

GUS JAKFAR: "OJO NGOPI KARO TAMATAN...!"

Membersihkan kamar tidur adalah hal membosankan. Sebab bagaimanapun kondisi ruang kamarnya, asalkan saya bisa sendiri, maka saya akan merasa nyaman dengannya. Tapi hanyalah omelan emak saya yang bisa merubah keadaan. "Hei.. Bersihkan kamarmu yang berantakan itu..." Sedari pagi kalimat itu diteriakkan sedemikian kencang tanpa jeda. Cukup memekakkan telinga. Ya, bersihkan kamar atau saya akan menjadi anak durhaka karna tidak mengikuti perintah orang tua. Menata kasur, bantal, pakaian yang berserakan tak terjamah, lemari dan lain sebagainya. Di ketika itulah tanpa sengaja selembar kertas kusam jatuh dari lemari ke lantai. Karna penasaran saya membukanya perlahan. Ah, aku ingat tulisan ini. Tulisan sok hebatku setahun lalu. Saat saya masih menjadi mahasantri semester VI Lirboyo. Saya tersenyum sendiri mengingat kenangan itu. Baiklah. Aku tidak akan membacanya sendiri, aku akan menunjukkannya ke kalian juga. Seperti ini: *** Dari Gus Jakfar (presiden jakfarangers 2019): Kaget buka...

Mendaki Gunung dan Gejala Kebudayaan Narsis (?)

" Hamparan langit maha sempurna Bertahta bintang-bintang angkasa Namun satu bintang yang berpijar Teruntai turun menyapa aku ." Song by: Padi—Mahadewi "Berbagi waktu dengan alam... Kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya." Song by: Eros SO7 ft. Okta - Ost. GIE Kedua lagu itu mengingatkan saya tentang gejala kawan-kawan ketika liburan. Saat menyaksikan berbagai upload-an foto media sosial. Dengan nuansa sama: Foto di atas puncak gunung dan alam terbuka. Biasanya orang-orang menyebut fakta ini dengan istilah petualangan alam, muncak, ngetrip, adventure dan lain sebagainya. Mendaki Gunung. Ya. Mendaki gunung tampaknya saat ini sudah menjadi trend dikalangan anak muda. Terlebih semenjak Genta, Zafran, Arini, Ian, Arial dan Adinda menunjukkan sedemikian keren dan serunya mendaki Mahameru dalam cerita 5 cm mereka. Film yang seolah telah Membius kemauan kawan-kawan muda kita untuk melakukan pendakian ke puncak gunung. Tapi setidaknya kita memang perlu memaham...

ANTARA WC SEWU, DAN SEBUAH PEMBENTUKAN KARAKTER

Waktu paling menyebalkan di antara sekian banyak waktu dan kegiatan di pondok lirboyo adalah ketika harus merasakan gejala perut mules. Titik Menyebalkannya adalah ketika gejala itu muncul pada jam-jam saat para santri sedang beramai-ramai mengisi "Ruang-Ruang Inspirasi" di gedung putih pojok pesantren itu. "WC Seribu atau WC Sewu” begitu pendahulu kita menamainya (padahal  jumlah wc di sana ada sekitar 78, seribu hanyalah interpretasi dari sesuatu 'adad yang jamak). Coba saja kalian datang ke WC Seribu antara jam 06.00 wis sampai jam 07.00 atau jam 17.00 sampe jelang azan isyak--kecuali ketika malam jumat, maka keramaian akan terlihat. Baik dari mereka yang mengisi setiap ruangnya atau yang berdiri menunggu antrian dengan wajah penuh cemas. Entah apa sebab-musababnya, jam-jam seperti itu menjadi waktu yang seolah mustajab digunakan untuk melepaskan hasrat terpendam dan bebas mules mereka. Dalam nuansa demikian kita akan menemukan suatu budaya yang disebut antri. Ya...