Waktu paling menyebalkan di antara sekian banyak waktu dan kegiatan di pondok lirboyo adalah ketika harus merasakan gejala perut mules.
Titik Menyebalkannya adalah ketika gejala itu muncul pada jam-jam saat para santri sedang beramai-ramai mengisi "Ruang-Ruang Inspirasi" di gedung putih pojok pesantren itu. "WC Seribu atau WC Sewu” begitu pendahulu kita menamainya (padahal jumlah wc di sana ada sekitar 78, seribu hanyalah interpretasi dari sesuatu 'adad yang jamak).
Coba saja kalian datang ke WC Seribu antara jam 06.00 wis sampai jam 07.00 atau jam 17.00 sampe jelang azan isyak--kecuali ketika malam jumat, maka keramaian akan terlihat. Baik dari mereka yang mengisi setiap ruangnya atau yang berdiri menunggu antrian dengan wajah penuh cemas. Entah apa sebab-musababnya, jam-jam seperti itu menjadi waktu yang seolah mustajab digunakan untuk melepaskan hasrat terpendam dan bebas mules mereka.
Dalam nuansa demikian kita akan menemukan suatu budaya yang disebut antri.
Ya, antri!
Tampaknya antri menjadi suatu atmosfer kebudayaan tersendiri yang sudah mencirikhas di kehidupan pesantren. Dan lirboyo, menjadi salah satu bukti empiris dari sistem itu. Saat ruang Pesantren seolah tidak lagi menjadi ideal ketika dihadapkan dengan kuantitas santri yang jumlahnya puluhan ribu. Hipotesa ini bisa dibuktikan dengan fakta tentang wc seribu di atas.
Bagi santri baru, yang sama sekali belum pernah menyelami dunia kepesantrenan, budaya antri akan terkesan menjadi budaya “bid'ah”. Tidak ada atau setidaknya jarang terjadi sistem antri yang sedemikian dahsyatnya dalam kehidupan mereka.
Mulai dari Kamar mandi, Warung, Toko, bahkan ketika berjalan pun mereka harus rela mengantri.
Sebagaimana sebuah budaya, maka betapapun upaya yang dilakukan untuk menghapus, adalah suatu hal yang sia-sia dan akan menuai pro-kontra. Kita hanya perlu menyikapi dengan sikap bijak agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan. Tidak masuk akal bukan, boyong karena alasan antri yang berlebihan? Maka di saat seperti itulah saya ingat sebuah adagium, Pembelajaran di pondok itu tidak hanya didapatkan di saat sekolah, musyawarah, atau muthalaah.
Jika kita sejenak menyisihkan waktu untuk merenung di saat kita harus bersabar dengan antrian yang begitu alay, maka antri akan menjadi waktu berharga. Bahwa ia bisa kita masukkan ke dalam satu metode tarbiyah perihal pembentukan karakter. Bahwa antri mengajarkan kita tentang bagaimana menjadi seorang yang berjiwa penyabar. Oleh karena itu, dengan mengantri kita akan mendapatkan ilmu pertama, arti kesabaran. Di sinilah batas kesabaran itu akan diuji, ditempa sedemikian ketatnya. Bahkan untuk sekedar berjalan, kita harus dilatih untuk benar-benar bersabar. Jangan tergesa-gesa, apalagi ada bancik yang begitu curam untuk dilewati.
Memang di pesantren, cara untuk melatih kesabaran tidak hanya diuji saat kita harus rela menahan keinginan untuk keluar melihat ingar-bingar kehidupan kota di malam minggu atau menyaksikan konser musik di SLG dan main PES 2019. Bukan hanya di saat kita harus mematuhi aturan Bapak Keamanan untuk tidak bermain smartphone, sosial media, dan menjalin relasi spesial dengan lawan jenis. Juga bukan hanya saat kita harus bersabar menunggu jam 9 atau jam 11 tiba dan Bapak Mustahiq menghentikan mengajarnya. Antri dalam setiap aspek kehidupan di pesantren, juga melatih kita untuk menjadi jiwa penyabar. Tak terkecuali situasi kasus yang terjadi di Wc Sewu tadi.
Nilai-nilai pembentukan karakter melalui media WC Sewu bersifat universal. Tidak semata diperuntukkan bagi pihak si pengantri (dalam kasus antri mengantri ini ada dua pihak yang kita bicarakan, yakni si orang yang mengantri dan pihak yang diantri. Maaf, terlalu sulit untuk memilih istilah subjeknya)
Kembali lagi.
Sekalipun bersabar adalah sikap bijak yang harus dipegang oleh pengantri, setidaknya bagi pihak yang di antri jangan berlama-lama dan seolah krasan di dalam bilik-bilik WC itu. Ia harus sadar bahwa mereka yang tengah mengantri sedang dilanda musibah. Tentu saja, bilik-bilik di WC Sewu bukan tempat terbaik untuk sekedar menghabiskan sebatang rokok sekaligus juga bukan tempat menyegarkan untuk digunakan mandi dan gosok gigi. Pada tataran ini, sikap egoisme, individualis dan semau gue perlu dibuang bersama air besar yang mengalir itu, untuk kemudian terbawa oleh arus deras menyusuri ilalang liar di sekitar kawasan Makam Dempul.
Sikap egoisme, individualis dan semau gue merupakan sikap yang mencacatkan nilai-nilai kemanusiaan. Jika dihadapkan pada realitas sosial, maka ketiga sifat itu menjadi perangkat yang merusak konsep bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sehingga diperlukan kesadaran masing-masing individu bahwa mereka hidup berdampingan dengan orang lain. Oleh sebab itu, dari sudut pandang pihak yang diantri, WC Sewu juga mengajarkan kepada mereka untuk lebih memiliki jiwa kemanusiaan, peduli, dan menghormati hak-hak orang lain. Konklusi ini juga tidak hanya berlaku dalam kontek WC Sewu saja, bahkan dalam setiap kesempatan ketika arus budaya antri sedang terjadi. Adanya sistem antrian berperan besar dalam membentuk pribadi yang lebih peka dan peduli terhadap sekitar.
Ketika kesadaran-kesadaran di atas benar-benar dimiliki oleh setiap santri, maka bisa dipastikan kita tidak akan lagi menemukan WC Sewu-WC Sewu tandingan. Seperti kasus yang dilakukan oleh pihak-pihak yang sama sekali tidak bertanggung jawab di kamar mandi belakang An-Nahdlah, belakang AL-Ittihad (blok S) dan bahkan lokal-lokal yang digunakan sekolah pagi harinya. Tampaknya, pihak-pihak terakhir ini harus berlatih sedemikian keras untuk memiliki rasa tanggung jawab dengan cara mentaati aturan-aturan yang telah dipaparkan di setiap lokasi pesantren Lirboyo.
Ingatlah! Bahwa kang Solikin pelu tempat nyaman untuk berdiri dan bertafakur.
______
Tulisan ini saya buat sekitar tahun 2018 sewaktu di semester 3 mahad aly lirboyo. Kembali saya publikasikan di blog sebagai bentuk tribute atas lokasi wc sewu yang sekarang hanya tinggal nama dan kenangan
Komentar
Posting Komentar