Langsung ke konten utama

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA


Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita.

Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut.

Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like School?. Daniel menjelaskan, otak manusia cenderung menyimpan informasi yang relevan dengan struktur berpikir yang sudah terbentuk sebelumnya. Informasi itu sering muncul kembali bukan karena kita sengaja mengingatnya, melainkan karena sebuah situasi atau pertanyaan memicu pintu memori yang tepat. Fenomena ini dikenal dalam psikologi kognitif sebagai retrieval cues. Endel Tulving dalam Elements of Episodic Memory, sebagaimana ditulis di situs tersebut, menegaskan bahwa memori episodik dan semantik bekerja dinamis. Katanya, bacaan lama tidak hilang, melainkan menunggu waktu muncul saat diakses kembali. Bahkan Maryanne Wolf dalam Proust and the Squid menekankan bahwa membaca melatih otak untuk menghubungkan bahasa, imajinasi, dan pemahaman dunia secara kompleks.

Namun, jauh sebelum psikologi modern hadir, Islam sudah menekankan pentingnya mengikat ilmu. Seperti pernyataan Imam Syafi'i,

العلم صيد و الكتابة قيده …. قيد صيودك بالحبال الواثقة
فمن الحماقة أن تصيد غزالة …. و تتركها بين الخلائق طالقة

Ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah pengikat
Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Adalah sebuah kebodohan jika engkau berburu kijang
Lalu kau biarkan dia lepas pergi dengan hewan lainnya

Ilmu yang dibaca harus diikat dalam dada dalam bentuk tulisan, sebagaimana motivasi Imam syafi'i tersebut. Tujuannya, agar tidak hilang begitu saja. Tampaknya, kisah Imam al-Ghazali ketika dirampok dan kehilangan catatannya layak menjadi satu contoh nyata. Perampok itu menertawakannya, seakan ilmu hanya tersimpan di kertas. Sejak saat itu, al-Ghazali bertekad menghafal kembali apa yang ia pelajari hingga melekat dalam dirinya. Bacaan, jika benar-benar diresapi, akan hidup dalam memori dan muncul kembali ketika dibutuhkan.

Tradisi pesantren juga menunjukkan hal serupa. Ulama klasik melatih santri bukan sekadar membaca, melainkan mengulang, menghafal, dan mengajarkan. Kitab seperti jurumiyah, Alfiyyah Ibnu Malik, dan karya klasik salafussholih lainya dibaca berulang-ulang hingga tertanam kuat. Tidak jarang seorang ulama mampu mengutip bab atau hadis secara spontan, meski sudah lama tak membuka kitab itu. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in turut menegaskan. Dalam pandangan Al Jauziyah, seorang mufti harus memiliki gudang bacaan masa lalu yang siap muncul ketika dihadapkan pada masalah baru.

Sayangnya, di zaman modern justru muncul tantangan baru. Smartphone yang seharusnya memudahkan akses referensi justru menggeser kebiasaan membaca mendalam menjadi sekadar konsumsi cepat. Internet lebih menarik jika digunakan untuk scroll video sosmed. Akibatnya, literasi rendah memunculkan banyak masalah. Seperti melemahnya kemampuan berpikir kritis, mudah terjebak hoaks, hingga rendahnya kualitas sumber daya manusia.

Dalam konteks Islami, keadaan ini dirasa sangat memprihatinkan. Wahyu pertama Islam adalah “Iqra'" Atau bacalah. Jika budaya membaca melemah, maka kesempatan mengisi gudang ingatan dengan ilmu berkurang. Padahal, dalam Alquran, Allah telah berjanji meninggikan derajat orang-orang berilmu. Artinya, setiap bacaan, baik berupa ayat, hadits, atau pengetahuan, adalah benih yang suatu saat Allah munculkan kembali sebagai petunjuk.

Maka, membaca bukan hanya kegiatan pengisi waktu. Lebih dari itu. Membaca termasuk investasi jangka panjang bagi pikiran dan hati. Bacaan adalah tabungan intelektual dan ruhani. Ada yang tumbuh cepat, ada yang baru kita lihat hasilnya bertahun-tahun kemudian. Namun, semuanya akan menjadi bagian dari ladang pengetahuan yang kelak menolong kita dalam refleksi, keputusan, dan perjuangan hidup.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.