Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

MISTERI ESOK

Waktu rasa-rasanya semakin lamban untuk berjalan. Berat. Seakan terjerat oleh beban dari dunia yang menghidupinya. Keluhmu pada suatu pagi. *** Ada banyak hal misteri dalam hidup yang sulit dipecahkan. Tentang mimpi, asa, hari esok, atau tentang masa depan. Ketidaktahuan bukan berarti memaksamu untuk berpangku tangan. Menunggu kalau saja esok akan berbaik hati padamu. Memberimu sebuah jalan terang. Kebaikan atau apalah itu namanya. Tanpa harus mencarinya. Jika demikian, bukankah kau telah membohongi dirimu sendiri? Ketidakpastian bukan berarti memaksamu untuk acuh terhadap segala kemungkinan. Baik, buruk, hitam, putih, setan dan malaikat adalah keniscayaan dalam babak perjalanan hidup. Lantas jika demikian, bukankah kau telah bersikap pesimis atas garis takdir yang telah ditentukan? Kepercayaan adalah sikap terbaik untuk mencari jalan terang pada suatu gelap jalan hidup yang penuh misteri. Kepercayaan adalah upaya untuk menumbuhkan optimis bahwa hari esok kau akan mend...

KAU DAN BUALANMU

Kau terlalu banyak bicara. Tentang apa saja. Tentang siapa saja. Bahkan tentang dirimu sendiri. Di mataku, kau seperti orang yang tidak pernah kehabisan bahan untuk diceritakan. Dari hal yang sepele, sampai yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan. Kau selalu punya alasan untuk membuka mulut. Pagi itu, aku benar-benar menyadarinya. Cara matamu berbinar saat menjelaskan sesuatu. Cara tanganmu ikut bergerak, seolah mendukung kalimat yang kau keluarkan. Dan suaramu yang meninggi di beberapa bagian, seperti menandai sesuatu yang menurutmu penting. Aku mendengar semua itu. Tapi jujur, aku ingin sekali tidak mendengarnya. Aku ingin mengabaikanmu. Aku ingin membiarkan kata-katamu jatuh begitu saja ke tanah, tanpa sempat singgah di telingaku. Tapi bukankah menghargai seseorang berarti memberi ruang ketika ia berbicara? Maka aku memilih berpura-pura mendengarkan. Mengangguk seperlunya. Sesekali melempar senyum tipis, agar kau merasa cerita itu sampai. Namun, di balik semua itu, ada h...

TERBANGAI

Selamat berpisah impian... untuk tak kan bertemu kembali... kapanpun dan dimanapun... maaf jika aku masih merekam kata-kata ini. Gambar ilustrasi from Pinterest Biarkan keping harapan itu menghempas. Berserakan. Dan berhamburan bersama debu jalanan kota pada suatu terik hari esok. Atau biarkan bagian-bagian memori pahit itu tertimbun dalam. Begitu dalam. Di bawah tanah semangat hidup masa mendatang. Atau bahkan aku harus memiliki harapan bahwa ia harus musnah. Sungguh... Asaku meredup. Meski temaran memendarkan sinar pada suatu senja, tetap saja hujan masih mampu memadamkannya. Gelap. Tak ada yang mampu memberi sinar untuk memberi terang akan asa-asa itu. Dan lagi-lagi, masih pada satu nuansa yang sama. Meski waktu telah menanggalkan kenangan hari lalu pada jarum dentangnya, mimpi-mimpi sudah tak mampu tertata kembali. Lenyap seiring semangat yang terbangai bahwa aku harus beranjak pergi.

YAKINLAH

Gambar ilustrasi from Pinterest Ia berbisik lirih. Mengatakan bahwa tidak ada yang perlu diresahkan. Semua baik-baik saja. Percayalah. Hapus segala kegelisahan atau apapun itu yang telah menghambat kepercayaan dirimu. Setidaknya itu akan membuatmu semakin berani untuk melangkah mencapai titik terjauh tentang sebuah keinginan, mimpi atau apapun keburaman-keburaman masa depan. Lalu sejenak biarkan waktu menjadi penentu

SIMPONI

Senandungkan lagi lagu-lagu kenangan itu.  Biarkan ia membawa setiap kenangan untuk sedikit memberi ruang kebahagiaan.  Biarkan ia berkelindan bersama simponi menyesakkan lainnya.  Karena kenangan tidak akan pernah membohongi setiap perasaan yang terlanjur ada, bukan? Sementara ingatan akan terus merekam setiap jejak langkah yang telah terlewati.  Maka biarkan setiap sayatan menjadi nyata mengucurkan darah kepedihan. Atau justru akan menyalakan cahaya kebahagiaan yang telah sedemikian lamanya meredup. ***** Search Music >> Kotak-Mati Rasa >> Play Now Terlalu. Berlarut kesedihan ku. Larut kesendirian ku Kar'na kamu. Terlanjur... Terlanjur kau patahkan ku. Hingga aku pun tak mampu Buka hatiku. Harus ku terima Dan tetap ku terima. Walaupun yang ku rasa. Ku t'lah. Ku t'lah mati rasa Tak mampu melihat Kau butakan segalanya... [Lirik by: Kotak-Mati Rasa]

PAGI PUN SENYAP

Dan pagi seolah mensenyapkan segala suasana-suasana biasanya di suatu kota. Terlihat Wajah-wajah murung. Berada pada keterdiaman masing-masing. Kopi-kopi sudah tak lagi mengepulan asapnya. Pun terik matahari terasa begitu panas. Tidak sehangat seperti pagi biasanya. Koran-koran tampak usang dengan sajian berita membosankan. Dan layak jika kemudian ia menjadi bungkus-bungkus makanan atau apalah dan tidak terpakai sama sekali. Embun-embun juga sudah tampak mengering. Rimbun-rimbun hijau dedaunan sudah tak disertai irama kicauan camar di cemara-cemara taman itu lagi. Mereka sudah terbang sedemikian jauh. Meninggalkan setiap elegi tentang roman yang begitu rumit untuk diruntut menjadi bahan cerita. Bising-bising sudah mulai mensenyapkan diri mereka pada keterdiaman masing-masing. Maka hanya angin-angin yang berkesiur dan menerbangkan debu-debu jalanan. Dan pada detik berikutnya angin itu juga membawa terbang apa saja pada tempat yang begitu jauh. Meninggalkan pikiran-pikira...

KETERASINGAN PAGI

Dan pagi masih saja menjadi asing. Rasa-rasanya terlalu sulit untuk aku sekedar berada bersamanya, bahkan mengenal bahkan menyapanya, sekalipun. Duduk bersama sambil menikmati secangkir kopi hangat seraya menghirup setiap hembus nafas menyejukkan dari lembut nuansamu. Meski acapkali kau terbangai menjadi serak tak berharga. Namun, tetap saja kau dalam dimensi ketermanguan untuk sedia menungguku. Memberi sapaan ataupun belaian. Maaf, kita mungkin untuk beberapa waktu akan menjadi asing dalam panggung peran masing-masing. Usahlah kita tampakkan lagi beragam keingin sua atau luapan-lupan rindu, kelak. Biarkan sisa waktu pada suatu senja yang memberi hangat tersendiri sebagaimana sang pagi yang dia bilang adalah kawan terbaik untuk menyapa dunia.

DENGARKAN NAK!

Mungkin sampai kapanpun Ceritaku akan tetap tidak menemui tanda-tanda ending, tamat dan sebagainya. Mengalur sedemikian lama. Berada pada ruang-ruang yang entah keberapa kalinya menemui labirin-labirin. Dan denting waktu, yang tampaknya mampu dijadikan pijakan kapan hari akan berganti menjadi esok dan esok dan esoknya nanti, rupa-rupanya sudah layak untuk dijadikan pertanda, bahwa cerita itu masih akan berputar pada poros masing-masing. Keteraturan. Darah-darah juang. Bertahan hidup. Menapaki setiap terjal yang menghadang. Ah, kau mungkin tidak akan kuasa untuk sekedar menemani atau bahkan mencari sensasi. Sebab itu lebih dari segala gejala-gejala kemungkinan ide gila, narsis dan pamer. Aku tidak akan mengajakmu. Tidak akan memaksamu, bahkan. Tapi biarkan tapak-tapak langkah jalanku menerobos pada setiap keterasingan ruang dan waktu yang kau alami. Meski sulit, setidaknya kita sudah berusaha, nak! Kelak maukah kau meneruskannya?