Mungkin sampai kapanpun Ceritaku akan tetap tidak menemui tanda-tanda ending, tamat dan sebagainya. Mengalur sedemikian lama. Berada pada ruang-ruang yang entah keberapa kalinya menemui labirin-labirin. Dan denting waktu, yang tampaknya mampu dijadikan pijakan kapan hari akan berganti menjadi esok dan esok dan esoknya nanti, rupa-rupanya sudah layak untuk dijadikan pertanda, bahwa cerita itu masih akan berputar pada poros masing-masing. Keteraturan.
Darah-darah juang. Bertahan hidup. Menapaki setiap terjal yang menghadang. Ah, kau mungkin tidak akan kuasa untuk sekedar menemani atau bahkan mencari sensasi. Sebab itu lebih dari segala gejala-gejala kemungkinan ide gila, narsis dan pamer.
Aku tidak akan mengajakmu. Tidak akan memaksamu, bahkan. Tapi biarkan tapak-tapak langkah jalanku menerobos pada setiap keterasingan ruang dan waktu yang kau alami. Meski sulit, setidaknya kita sudah berusaha, nak! Kelak maukah kau meneruskannya?
Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata, من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...
Komentar
Posting Komentar