Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

MENANTI JAWABAN

Salah satu pesan dari masyaikh saya sewaktu di lirboyo pada setiap momen ijazahan dulu adalah, niatkan doa-doa yang kita panjatkan untuk Taqorruban ilallah (mendekatkan diri kepada Allah SWT).  Tentu saja jika kita renungkan maka dawuh itu akan memberi kesan mendalam kepada siapapun yang memahaminya. Terlebih untuk menghindaei rasa kecewa saat doa-doa yang kita panjatkan tidak dikabulkan sesuai apa yang kita inginkan. Toh, doa pada dasarnya bukan sekedar meminta tetapi lebih kepada bukti bahwa manusia butuh sandaran dalam menggapai apa yang mereka inginkan.  Ibnu hajar Al Asqolani dalam Fathul barrinya mengutip statemen Attibi tentang hakikat doa,  الدُّعَاءُ هُوَ إِظْهَارُ غَايَةِ التَّذَلُّلِ وَالِافْتِقَارُ إِلَى اللَّهِ وَالِاسْتِكَانَةُ لَهُ "Doa adalah ekspresi puncak dalam merasa rendah diri dan kebergantungan terhadap Allah, serta berserah diri kepada-Nya” (Fathul Barri, Juz 11/hal.95)  Namun, sering kali kita kecewa dan mengeluh saat merasa doa-d...

BAROKAH FOMO

Akhir-akhir banyak beberapa sekolah dan beberapa masyarakat di sekitar kampung saya punya agenda berwisata ke masjid di daerah Bojonogero. Wisata? Ke Masjid? Ya, begitulah fenomena yang sedang viral di sosial media itu. Masjid Annahdla; sebuah masjid yang berdiri megah di atas tanah Kurang lebih 2,9 hektar di desa sumberejo, margomulyo, bojonegoro. Sebuah masjid yang tampak estetik dengan bangunan khas ala timur tengah, kubah raksasa yang terkesan ikonik, rasanya memang layak menjadi latar belakang foto untuk menambah koleksi di sosial media.  Semenjak masjid itu viral di sosial media, banyak Para pengunjung yang bahkan dari luar kotalee dda berbondong-bondong untuk menyaksikan dan berswafoto ria di depan masjid ini. Sekedar mengikuti tren atau memang menikmati keindahan rumah Allah yang super keren ini?  Budaya fomo dari masyarakat yang memenuhi masjid, seakan sedikit mengalihkan fungsi tempat ibadah itu menjadi objek wisata; kemacetan yang super heboh ketika akh...

SANTRI DAN PEMIKIRAN MODERN BERKELAS

Pagi itu, suasana warung kopi Mbah Sadirun masih seperti pagi-pagi sebelumnya; ramai, dipenuhi oleh obrolan khas bapak-bapak berkaos obat pertanian yang mampir sebelum mereka memulai aktifitas pagi di sawah.  Aku dan Faisal sengaja mencari tempat duduk di depan warung, setidaknya jika obrolan mulai mengalami keterdiaman ada truk milik Bu Sundari yang biasanya llu lalang di jalanan untuk dilihat. "Sar, " Kata Faisal sesudah menyeruput kopinya yang masih kemebul panas itu. "Kemarin Bapak kepala dinasku ngajak healing seluruh staf kantor ke bali. Berhiling ria di pantai. Seru-seruan di hotel mewah. Seru buanget e." "Terus?" Tanyaku sambil mengambil sebatang rokok dan merogoh korek di saku celana. "Pokoknya kepala dinasku tuh kueren banget. Senajan alumni pesantren, mondoknya lama buanget, di rumahnya aja, kitabnya tebel-tebel sak umbruk. Tapi ya itu, orangnya  meskipun santri, dia itu nggak kolot. Moderen banget orangnya." Ujar Faisal. A...

SEBUAH CERPEN: LUKA DI UJUNG SORE

Cobalah sesekali, kalian lewat di sudut kampungku, Bojonggeneng, setiap sore. Lihatlah sebuah rumah tua sederhana dengan dinding kayu itu. Pada setiap sorenya, rumah itu seakan berubah menjadi tempat penuh cahaya. Anak-anak kampung datang berbondong-bondong, membawa buku Iqro dan Al-Qur’an yang telah usang, pemberian dari sepasang suami istri Pak Zaid dan Bu Hindun, yang juga menjadi pengajar bagi anak-anak itu.  Pasangan itu menjalani hidup mereka dengan penuh ketulusan. Setiap sore, suara lantunan ayat suci, doa-doa dan tingkah menggemaskan dari anak-anak yang mengaji memenuhi ruangan, membawa kedamaian bagi siapa saja yang mendengar dan melihatnya. Pak Zaid dan Bu Hindun tidak pernah meminta imbalan. Bahkan, Setiap peringatan hari besar, mereka mengadakan acara meriah dengan mengundang para santri dan wali murid tanpa meminta sumbangan sedikit pun. Bagi mereka, kebaikan hati adalah harta yang paling berharga. Semua dilakukan dengan hati yang penuh keikhlasan. Berbeka...