Salah satu pesan dari masyaikh saya sewaktu di lirboyo pada setiap momen ijazahan dulu adalah, niatkan doa-doa yang kita panjatkan untuk Taqorruban ilallah (mendekatkan diri kepada Allah SWT). Tentu saja jika kita renungkan maka dawuh itu akan memberi kesan mendalam kepada siapapun yang memahaminya. Terlebih untuk menghindaei rasa kecewa saat doa-doa yang kita panjatkan tidak dikabulkan sesuai apa yang kita inginkan. Toh, doa pada dasarnya bukan sekedar meminta tetapi lebih kepada bukti bahwa manusia butuh sandaran dalam menggapai apa yang mereka inginkan. Ibnu hajar Al Asqolani dalam Fathul barrinya mengutip statemen Attibi tentang hakikat doa, الدُّعَاءُ هُوَ إِظْهَارُ غَايَةِ التَّذَلُّلِ وَالِافْتِقَارُ إِلَى اللَّهِ وَالِاسْتِكَانَةُ لَهُ "Doa adalah ekspresi puncak dalam merasa rendah diri dan kebergantungan terhadap Allah, serta berserah diri kepada-Nya” (Fathul Barri, Juz 11/hal.95) Namun, sering kali kita kecewa dan mengeluh saat merasa doa-d...
Blog ini cuma berisi renungan-renungan ngawur yang muncul pas lagi bengong di kamar mandi, opini liar yang nyelonong tanpa permisi, atau puisi asal-asalan yang tercipta gara-gara kehabisan kopi.