Langsung ke konten utama

BAROKAH FOMO

Akhir-akhir banyak beberapa sekolah dan beberapa masyarakat di sekitar kampung saya punya agenda berwisata ke masjid di daerah Bojonogero.

Wisata? Ke Masjid? Ya, begitulah fenomena yang sedang viral di sosial media itu. Masjid Annahdla; sebuah masjid yang berdiri megah di atas tanah Kurang lebih 2,9 hektar di desa sumberejo, margomulyo, bojonegoro. Sebuah masjid yang tampak estetik dengan bangunan khas ala timur tengah, kubah raksasa yang terkesan ikonik, rasanya memang layak menjadi latar belakang foto untuk menambah koleksi di sosial media. 

Semenjak masjid itu viral di sosial media, banyak Para pengunjung yang bahkan dari luar kotalee dda berbondong-bondong untuk menyaksikan dan berswafoto ria di depan masjid ini. Sekedar mengikuti tren atau memang menikmati keindahan rumah Allah yang super keren ini? 

Budaya fomo dari masyarakat yang memenuhi masjid, seakan sedikit mengalihkan fungsi tempat ibadah itu menjadi objek wisata; kemacetan yang super heboh ketika akhir pekan, berserakannya sampah yang beberapa kali tidak hanya di area parkir, tapi juga di dalam masjid, masuk ke dalam masjid berpose keren sedemikian rupa sambil mengabadikan momen melalui kamera smarthpone nya, para calon pengunjung rela menggelontorkan uang berapapun agar untuk bisa mendatangi Annahdla. Bercampur baur para jamaah laki-laki dan perempuan menyesaki masjid sampai harus menunggu antrian jika ingin melaksanakan ibadah di sana. Ya, mereka rela menghabiskan lebih banyak energi untuk mencari sudut foto yang tepat daripada berdzikir atau sholat sunnah di sana. Demi misi suci : update status. "Finally, sampai juga di sini, Masjid An-Nahdhoh. Indah sekali!" Tentu saja, caption itu harus dilengkapi emoji dan hastag. Sebuah ibadah modern, di mana doa kini berganti menjadi notifikasi.

Tapi semoga rasa semangat mengikuti tren viral ini, tidak membuat mereka membiarkan masjid di kampung sendiri membisu. Jangan sampai masjid-masjid kampung itu menjadi sebuah monumen bisu yang jarang atau bahkan tidak pernah mereka sambangi; setidaknya untuk sekedar menghidupkan sholat 5 waktu. Ya, meskipun bangunan masjid di kampung itu tidak ada pesona "instagramable" yng bisa dipamerkan. Pun tampaknya tidak memberikan kesan apapun selain untuk beribadah dan berdoa. Ya karena masjid di kampung, mungkin, tidak memberikan nuansa estetik sama sekali. Bahkan masjid-masjid itu mungkin masih belum memahami bahwa eksistensi di jaman ini tidak ditentukan oleh sebuah niat dan ibadah yang tulus, melainkan jumlah pengikut, seberapa viral foto-fotonya di sosial media, dan banyaknya komentar kekaguman. 

Dan fakta ironisnya, banyak Masjid-masjid di kampung seringkali sunyi. Tidak ada kemewahan untuk dipamerkan. Mungkin, sesekali ramai saat sholat jumat atau hari raya. Barangkali bagi mereka, pahala 27 derajat dan keutamaan menghidupkan masjid tidak semenarik ke-estetikan foto dan jumlah like dengan komentar-komentar pujian. 

Tapi apapun yang terjadi, bukankah setiap langkah menuju masjid adalah sebuah kebaikan, dibandingkan harus berlibur ke tempat-tempat maksiat. Setidaknya masjid Annahdla bisa menjadi satu pemantik bagi mereka yang sebelumnya tidak pernah atau malas untuk datang ke masjid. Siapa tahu juga, berfoto di sana bisa menjadi awal dari perjalanan spiritual yang tidak mereka sadari. Dan mungking saja, Keindahan masjid ini mungkin bisa memicu mereka untuk lebih sering datang ke masjid di dekat rumah, dan menjalankan ibadah dengan lebih tulus. Kita tidak akan pernah tahu dari mana pintu hidayah itu terbuka, bukan? 

Kalau anda lihat di postingan sosial media itu, rupanya masjid Annahdla ini juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Warung-warung kecil, pengrajin lokal, dan penyedia jasa transportasi turut merasakan berkah dari banyaknya pengunjung. Secara tidak langsung, fenomena ini menggairahkan perekonomian lokal dan membuka peluang baru bagi masyarakat.

Beragam fenomena di atas, pada akhirnya membuktikan bahwa masjid tidak sekedar tempat ibadah semata, tetapi juga menjadi satu wadah interaksi sosial, budaya, dan sebuah kebanggaan. 

Dan sekali lagi, Siapa tahu kunjungan mereka yang awalnya hanya untuk eksistensi digital bisa menjadi titik awal dari perjalanan spiritual yang lebih mendalam.

Mari berhusnudzon. 

اعلم أن سوء الظن حرام مثل سوء القول فكما يحرم عليك أن تحدث غيرك بلسانك بمساوئ الغير فليس لك أن تحدث نفسك وتسيء الظن بأخيك ولست أعني به إلا عقد القلب وحكمه على غيره بالسوء

Artinya: Ketahuilah, buruk sangka diharamkan sebagaimana buruk perkataan. Sebagaimana diharamkan menceritakan keburukan orang lain dengan lisanmu, kamu juga tidak boleh menceritakan dirimu dan berburuk sangka kepada saudaramu. Yang saya maksud tidak lain adalah keyakinan dan kemantapan hati atas keburukan orang lain. 
(Ihya Ulumuddin, Juz III, halaman 155)

Wallahu A'lam



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.