Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

SABAR, SABARI!

Mari kita kembali pada dua malam sebelumnya. Ketika Si Sabari bersusah payah memeras ingatannya. Kemudian dipungutinya keping-keping lara itu untuk selanjutnya ia bawa sendiri menuju sudut ruang keheningan. Menyusur dan mengenang kembali segala sesak. Wajahnya semakin muram. Dipandanginya jarum jam yang sedang menjauh satu sama lain. Di situ dia mencari keajaiban. Seperti ketidakmungkinan yang lain atau kebaikan-kebaikan, keajaiban, dan lain sebagainya. Tidak. Tidak. Tidak akan. Tidak akan ada kesah lagi. Bahwa esok pagi. Dia sudah tak akan lagi melihat pusara masa lalu yang sempat ia simpan sekian tahun lamanya.

Sajak Menua

Terseok langkah lelaki paruh baya. Bertopang sebilah kayu mulai merapuh. Goretan kening menuakan cerita. Sebab tergores fragmen getir masa hidupnya. Dibuangnya hasrat. Ucap nasehat yang acapkali tercekat. Atau lusuh telinga sebab mendengar serapah dan umpat. "Sisakan tenagamu untukku, wahai pemuda!" Pinta lelaki paruh baya pada sepasang remaja yang sedari tadi acuh atas sekitar. Suara itu kian parau. Tidak ada yang diharapkan. Tak ada renjana yang membawanya menuju biduk harapan. Si Paruh Baya sudah terseret sedemikian jauh oleh deru ketidakadilan. "Lalu, apakah manusia-manusia itu sudah tak berguna?" Lirihnya