Mari kita kembali pada dua malam sebelumnya. Ketika Si Sabari bersusah payah memeras ingatannya. Kemudian dipungutinya keping-keping lara itu untuk selanjutnya ia bawa sendiri menuju sudut ruang keheningan. Menyusur dan mengenang kembali segala sesak. Wajahnya semakin muram. Dipandanginya jarum jam yang sedang menjauh satu sama lain. Di situ dia mencari keajaiban. Seperti ketidakmungkinan yang lain atau kebaikan-kebaikan, keajaiban, dan lain sebagainya. Tidak. Tidak. Tidak akan. Tidak akan ada kesah lagi. Bahwa esok pagi. Dia sudah tak akan lagi melihat pusara masa lalu yang sempat ia simpan sekian tahun lamanya.
Blog ini cuma berisi renungan-renungan ngawur yang muncul pas lagi bengong di kamar mandi, opini liar yang nyelonong tanpa permisi, atau puisi asal-asalan yang tercipta gara-gara kehabisan kopi.