Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

RINDU MENGABU

Ada pedih yang terdengar lirih, menggema dalam gelap yang panjang. Bait puisi menemaniku, saat kesendirian jadi ruang paling sunyi. Hujan turun di penghujung hari, membawa beku di sudut hati, sambil diam-diam berharap ada waktu yang mengizinkan kita kembali bertemu. Kadang aku merintih pada hujan, kadang aku membisik pada kesunyian. Kaki terasa lumpuh di persimpangan jalan menuju ruang yang hanya kau tahu tempatnya Tapi aku percaya, ini hanya tentang waktu. Duka akan mereda, bahagia akan tumbuh, luka pun akhirnya memilih pergi. Mungkin semesta sedang bercanda. Langkah yang kukira sudah dekat, nyatanya masih sebatas harap dan semoga yang belum sempat kupeluk. Untuk saat ini, biarlah kisah sendu ini kucukupkan saja, kusimpan diam-diam Bersama segenggam abu di dalam saku.

DI PIKIRAN SAIA

Disedak oleh kenyataan. Aa saatnya manusia harus memilih. Bukan, bukan. Itu adalah keniscayaan teatrikal kehidupan yang dipenuhi beragam kepelikan. Diamuk pikiran. Kita mencari pembenaran. Ragam alibi dikemukakan. Bahwa dustanya adalah bagian dari jalan yang dibenarkan. Sesaat kemudian, pikiran-pikiran mulai kosong. Senyap. Sesekali muncul seberkas cahaya. Terang dan sesaat kemudian meredup. Maka tak heran, jika sunyi menjadi nuansa paling nyaman. Kita semakin merasa dihimpit rasa pelik. Terlanjur jatuh ke kubang nista. Tenggelam sedemikian dalam. Terjerat oleh kebiadaban. Dihinakan oleh kemunafikan. Sesekali merasa bersalah. Tapi acapkali bereuforia dosa.  Diremuk beban. Tersungkur. Orang lain hanya acuh atas segala fakta yang kita alami. Kita menemukan kehampaan. Dan kita disadarkan oleh kenyataan. Bahwa mengaduh hanya akan menjadi sumbang dan cukup memekakkan telingam

KOMAT-KOMIT MEN

Tidak ada angin atau apa, Tiba-tiba salah seorang kawan lama menghubungi saya via chat whatsapp. Curhat, lebih tepatnya. Sebagaimana yang dia sampaikan kepadaku pagi ini. Laki-laki yang pernah menjadikan hidupnya berkesan di masa lalu, hari ini datang ke rumah bermaksud meminang. Ah, sial, kacau, kalut dan beragam perasaan ketidakbaikan lainnya. Betapa tidak, sang mantan kembali hadiri, saat kawan saya sudah dipinang oleh seseorang beberapa bulan lalu. "Entahlah... Saya bingung, kenapa tiba-tiba dia hadir, sementara saya sudah tidak ada perasaan lagi dengan dia." Keluhnya pagi ini. Lantas, dia menasehati saya sedemikian bijaknya, "sudahlah, ternyata menikah itu tidak semudah yang dibayangkan teman-teman kita. Lihat saja, saya. Yang harus mengalami sedemikian peliknya percintaan seusai lamaran. Hei, itu cukup membuat saya pusing..." Ya, kawanku ini benar-benar mengalami kebingungan atas hal itu. Pada akhirnya, ketakutan semacam itupun muncul di benak saya. Ah, masa s...

MENEMUKAN TEMPAT TERAKHIR

Entahlah, memiliki sifat perasa, intuisi dan kepekaan berlebih itu merupakan sebuah anugerah atau kutukan. Di satu sisi,  kita tidak bisa bersikap acuh dan membiarkan orang yang kita sayang terluka cuma gara-gara ucapan atau perbuatan kita. Tapi di sisi lain, mereka yang kita sayang tidak memikirkan betapa menyakitkan ucapan dan tindakan mereka buat kita.  Hal inilah, yang membuat saya lebih menikmati memendam masalah sendiri dan tidak nyaman ketika hendak menceritakan kepada teman, orang sekitar, bahkan orang tua sekalipun. Cerita kepada diri sendiri, mengeluh dengan diri sendiri, menangis kepada diri sendiri, mengadu kepada diri sendiri lebih tenang dan nyaman. Tidak punya teman? Hei, banyak teman yang ada di keliling saya. Tapi, sekali lagi saya akan lebih nyaman jika memendam masalah sendiri, terlebih untuk hal-hal yang bersifat privasi. Dan bagi saya, setiap masalah yang saya alami termasuk sesuatu yg bersifat privasi. Di antara para teman dan orang-orang sekitar saya aka...