Ada pedih yang terdengar lirih, menggema dalam gelap yang panjang. Bait puisi menemaniku, saat kesendirian jadi ruang paling sunyi. Hujan turun di penghujung hari, membawa beku di sudut hati, sambil diam-diam berharap ada waktu yang mengizinkan kita kembali bertemu. Kadang aku merintih pada hujan, kadang aku membisik pada kesunyian. Kaki terasa lumpuh di persimpangan jalan menuju ruang yang hanya kau tahu tempatnya Tapi aku percaya, ini hanya tentang waktu. Duka akan mereda, bahagia akan tumbuh, luka pun akhirnya memilih pergi. Mungkin semesta sedang bercanda. Langkah yang kukira sudah dekat, nyatanya masih sebatas harap dan semoga yang belum sempat kupeluk. Untuk saat ini, biarlah kisah sendu ini kucukupkan saja, kusimpan diam-diam Bersama segenggam abu di dalam saku.
Blog ini cuma berisi renungan-renungan ngawur yang muncul pas lagi bengong di kamar mandi, opini liar yang nyelonong tanpa permisi, atau puisi asal-asalan yang tercipta gara-gara kehabisan kopi.