Langsung ke konten utama

KOMAT-KOMIT MEN

Tidak ada angin atau apa, Tiba-tiba salah seorang kawan lama menghubungi saya via chat whatsapp. Curhat, lebih tepatnya. Sebagaimana yang dia sampaikan kepadaku pagi ini. Laki-laki yang pernah menjadikan hidupnya berkesan di masa lalu, hari ini datang ke rumah bermaksud meminang. Ah, sial, kacau, kalut dan beragam perasaan ketidakbaikan lainnya. Betapa tidak, sang mantan kembali hadiri, saat kawan saya sudah dipinang oleh seseorang beberapa bulan lalu.
"Entahlah... Saya bingung, kenapa tiba-tiba dia hadir, sementara saya sudah tidak ada perasaan lagi dengan dia." Keluhnya pagi ini.
Lantas, dia menasehati saya sedemikian bijaknya, "sudahlah, ternyata menikah itu tidak semudah yang dibayangkan teman-teman kita. Lihat saja, saya. Yang harus mengalami sedemikian peliknya percintaan seusai lamaran. Hei, itu cukup membuat saya pusing..."

Ya, kawanku ini benar-benar mengalami kebingungan atas hal itu. Pada akhirnya, ketakutan semacam itupun muncul di benak saya.
Ah, masa sih. Setiap teman yang menikah mengalami hal-hal menakutkan seperti demikian misalnya.
Atau mungkin kawan saya yang satu ini terlalu sedemikian lebay.
Ah, kenapa teman saya harus bingung dengan hal itu. Bukankah dia sudah tidak ada perasaan dengan pria yang pernah mengisi hidupnya itu. Lantas apa yang harus dia bingungkan? Tinggal bilang, sudah ada calon, lamaran, dan bla, bla.. beres. Lantas kenapa dia harus menikmati rasa bingung itu. Atau mungkin, dia masih terlalu baper dengan sang mantan.
Ah, barangkali dia belum cukup mampu bagaimana mengatur perasaan kepada tunangannya dan si mantannya. Bahwa dia sudah memiliki komitmen kuat dan sudah seharusnya menguatkan perasaan cinta kepada si tunangan bukan kepada mantan.
Entahlah, biarkan ke su'udzonan ini saya utarakan di dalam hati saja.
Setidaknya saya mendapat pelajaran terbaik dari kawanku ini, tentang bagaimana menguatkan perasaan dan komitmen kepada orang yang saya yakini mampu menjadi teman sahabat juga keluarga untuk kehidupan masa depan saya.

"Hei, kenapa kau diam saja..." Suara fals dari telepon itu membuyarkan lamunanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.