Langsung ke konten utama

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan.

Sebagian ulama berkata, 
من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك.

"Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas."

Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki.

Padahal bisa jadi, justru dengan tidak diberikannya sesuatu itu, Allah sedang melindungi kita dari keburukan yang lebih besar. Allah tahu titik lemah setiap hamba. Dia tahu, kapan kita siap diberi lebih, dan kapan kita hanya mampu memikul yang sedikit. Ketika Allah menahan sesuatu, itu bukan berarti Dia sedang menyiksa kita, tapi bisa jadi itulah bentuk perlindungan paling lembut dari-Nya.

Banyak orang diuji dengan kekurangan, tapi lebih banyak lagi yang gagal saat diuji dengan kelimpahan. Ada yang kuat saat lapar, tapi lalai saat kenyang. Ada yang khusyuk saat susah, tapi lupa saat senang. Maka, jika hari ini kita hanya diberi "cukup", syukurilah. Karena bisa jadi, "lebih" itu justru akan menghilangkan rasa cukup, dan menenggelamkan kita dalam kerakusan yang tak berujung.

Coba kita renungkan: berapa banyak orang yang kehilangan arah hidupnya justru setelah sukses besar? Berapa banyak yang dahulu sederhana dan bersahaja, namun berubah setelah kekayaan datang? Dan berapa banyak pula yang merasa jauh dari Allah setelah semua yang mereka minta dikabulkan?

Allah tidak hanya memberi, tapi juga memilih apa yang pantas kita terima. Jika Allah hanya memberi apa yang kita mau, bukan apa yang kita butuh, niscaya hidup ini akan penuh petaka. Maka jangan ukur kebaikan hanya dari banyak atau sedikitnya rezeki. Ukurlah dari seberapa rezeki itu mendekatkan kita pada Allah atau menjauhkan kita dari-Nya. Karena sejatinya, rezeki terbaik adalah yang membuat kita tetap ingat dan takut kepada-Nya.

Kadang kita tidak butuh lebih. Kadang kita hanya butuh cukup. Dan cukup itu tidak harus mewah, tidak harus berlebihan, tidak harus seperti yang dimiliki orang lain. Cukup itu saat kebutuhan terpenuhi dan hati tetap tenang. Cukup itu saat tidak tergoda untuk menghalalkan segala cara demi lebih dan lebih. Cukup itu saat kita bisa berkata, "Ya Allah, inilah yang Engkau takdirkan untukku, dan aku ridha."

Maka jika hari ini kita merasa hidup kita biasa saja, tidak seperti orang-orang di media sosial, tidak seperti tetangga sebelah yang mobilnya bertambah tiap tahun, atau tidak seperti teman seangkatan yang kariernya melesat, ingatlah satu hal: bisa jadi, kita sedang berada dalam puncak nikmat yang paling tersembunyi. Kita cukup, kita tidak tamak, kita masih bisa tidur nyenyak tanpa rasa bersalah, dan kita masih bisa bersujud dengan hati yang tenang. Bukankah itu nikmat?

Allah tidak melihat seberapa besar isi dompet kita, tapi seberapa bersih isi hati kita. Dan jika kebersihan hati itu hanya bisa terjaga dengan secukupnya, maka secukupnya itulah nikmat yang paling sempurna.

Wallahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.