Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan.
Sebagian ulama berkata,
من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك.
"Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas."
Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki.
Padahal bisa jadi, justru dengan tidak diberikannya sesuatu itu, Allah sedang melindungi kita dari keburukan yang lebih besar. Allah tahu titik lemah setiap hamba. Dia tahu, kapan kita siap diberi lebih, dan kapan kita hanya mampu memikul yang sedikit. Ketika Allah menahan sesuatu, itu bukan berarti Dia sedang menyiksa kita, tapi bisa jadi itulah bentuk perlindungan paling lembut dari-Nya.
Banyak orang diuji dengan kekurangan, tapi lebih banyak lagi yang gagal saat diuji dengan kelimpahan. Ada yang kuat saat lapar, tapi lalai saat kenyang. Ada yang khusyuk saat susah, tapi lupa saat senang. Maka, jika hari ini kita hanya diberi "cukup", syukurilah. Karena bisa jadi, "lebih" itu justru akan menghilangkan rasa cukup, dan menenggelamkan kita dalam kerakusan yang tak berujung.
Coba kita renungkan: berapa banyak orang yang kehilangan arah hidupnya justru setelah sukses besar? Berapa banyak yang dahulu sederhana dan bersahaja, namun berubah setelah kekayaan datang? Dan berapa banyak pula yang merasa jauh dari Allah setelah semua yang mereka minta dikabulkan?
Allah tidak hanya memberi, tapi juga memilih apa yang pantas kita terima. Jika Allah hanya memberi apa yang kita mau, bukan apa yang kita butuh, niscaya hidup ini akan penuh petaka. Maka jangan ukur kebaikan hanya dari banyak atau sedikitnya rezeki. Ukurlah dari seberapa rezeki itu mendekatkan kita pada Allah atau menjauhkan kita dari-Nya. Karena sejatinya, rezeki terbaik adalah yang membuat kita tetap ingat dan takut kepada-Nya.
Kadang kita tidak butuh lebih. Kadang kita hanya butuh cukup. Dan cukup itu tidak harus mewah, tidak harus berlebihan, tidak harus seperti yang dimiliki orang lain. Cukup itu saat kebutuhan terpenuhi dan hati tetap tenang. Cukup itu saat tidak tergoda untuk menghalalkan segala cara demi lebih dan lebih. Cukup itu saat kita bisa berkata, "Ya Allah, inilah yang Engkau takdirkan untukku, dan aku ridha."
Maka jika hari ini kita merasa hidup kita biasa saja, tidak seperti orang-orang di media sosial, tidak seperti tetangga sebelah yang mobilnya bertambah tiap tahun, atau tidak seperti teman seangkatan yang kariernya melesat, ingatlah satu hal: bisa jadi, kita sedang berada dalam puncak nikmat yang paling tersembunyi. Kita cukup, kita tidak tamak, kita masih bisa tidur nyenyak tanpa rasa bersalah, dan kita masih bisa bersujud dengan hati yang tenang. Bukankah itu nikmat?
Allah tidak melihat seberapa besar isi dompet kita, tapi seberapa bersih isi hati kita. Dan jika kebersihan hati itu hanya bisa terjaga dengan secukupnya, maka secukupnya itulah nikmat yang paling sempurna.
Wallahu a'lam
Komentar
Posting Komentar