Dan malam itu tiba lagi. Malam penuh dengan beragam bentuk keadbsurdan dengan perayaan tanpa malu. Lihat saja, orang-orang tumpah ruah ke jalan. Menggenggam terompet seperti senjata suci. Ditiup dengan semangat. Seakan bunyi nyaring itu mampu mengusir segala kegagalan dan dosa setahun penuh. Angkat kepalamu, lihat ke atas. Langit dipenuhi oleh nyala ledakan kembang api. Sedangkan dompet-dompet tipis mereka menjadi korban pertama dari pesta yang tak pernah benar-benar membawa apa-apa. Ah, manusia memang mahir menipu dirinya sendiri. Mereka berdiri di tengah gemuruh malam. Memandang ke langit. Sejenak menyala, lalu kembali gelap. Sama seperti harapan mereka: indah sebentar, hancur selamanya. Mereka menyebut ini perayaan. Tapi siapa yang mereka rayakan? Tahun baru? Waktu? Diri mereka sendiri? Atau bahkan mungkin mereka tak tahu? Lihatlah pesta pora itu. Petasan berserakan di jalan. Sampah bertebaran seperti dosa yang dibiarkan membusuk. Tapi siapa peduli? Yang penting ada...
Blog ini cuma berisi renungan-renungan ngawur yang muncul pas lagi bengong di kamar mandi, opini liar yang nyelonong tanpa permisi, atau puisi asal-asalan yang tercipta gara-gara kehabisan kopi.