Langsung ke konten utama

TERETTEEEETTT... CIUUUUUNG... DAAAARRR


Dan malam itu tiba lagi. Malam penuh dengan beragam bentuk keadbsurdan dengan perayaan tanpa malu.


Lihat saja, orang-orang tumpah ruah ke jalan. Menggenggam terompet seperti senjata suci. Ditiup dengan semangat. Seakan bunyi nyaring itu mampu mengusir segala kegagalan dan dosa setahun penuh.


Angkat kepalamu, lihat ke atas. Langit dipenuhi oleh nyala ledakan kembang api. Sedangkan dompet-dompet tipis mereka menjadi korban pertama dari pesta yang tak pernah benar-benar membawa apa-apa.

Ah, manusia memang mahir menipu dirinya sendiri. Mereka berdiri di tengah gemuruh malam. Memandang ke langit. Sejenak menyala, lalu kembali gelap. Sama seperti harapan mereka: indah sebentar, hancur selamanya. Mereka menyebut ini perayaan. Tapi siapa yang mereka rayakan? Tahun baru? Waktu? Diri mereka sendiri? Atau bahkan mungkin mereka tak tahu? 

Lihatlah pesta pora itu. Petasan berserakan di jalan. Sampah bertebaran seperti dosa yang dibiarkan membusuk. Tapi siapa peduli? Yang penting ada foto untuk diunggah di media sosial, lengkap dengan caption klise. 
“selamat datang tahun baru 2025.” dan caption mainstream semacamnya? Lucu, bukan? Tahun baru, tapi orang-orangnya tetap sama. Malas, egois, dan penuh ilusi.

Dan bukankah ironis, mereka membumbungkan kalimat-kalimat resolusi seperti balon yang akan pecah dalam hitungan hari.
 " Selamat menyambut Tahun Baru 2025! Mari kita buka lembaran baru dengan tekad yang lebih kuat untuk mencapai cita-cita!" Ujar mereka. Padahal smartphone, sosmed dan rebahan sudah menunggu di esok hari.
"2025 Aku akan menabung," kata yang lain, sambil membakar ratusan ribu kembang api yang bahkan tak mampu menerangi hati mereka yang gelap. Resolusi-resolusi itu bukan janji, melainkan sekadar formalitas. Mantra yang diucapkan untuk menipu diri sendiri bahwa seakan mereka punya arah.


Di tempat lain. Di pojok-pojok pesta, botol-botol minuman keras berdiri berderet seperti suguhan tamu saat hari raya. Gelas-gelas diangkat tinggi, bersulang untuk apa? Masa depan? Kebahagiaan? Atau mungkin, tanpa mereka sadari, untuk kehancuran diri sendiri. Bagi mereka, alkohol dalah air kehidupan. Padahal setiap teguk hanya akan membuat mereka semakin lupa siapa mereka sebenarnya.

Sementara itu, di sudut-sudut gelap kota, ada orang-orang yang tak ikut berpesta. Mereka memandang kembang api dengan mata kosong, bukan karena terpukau, tapi karena lapar. Mereka tak punya uang untuk terompet, tak punya sisa untuk pesta. Tapi siapa yang peduli? Bukankah karnaval ini untuk mereka yang mampu, yang rela membuang semua yang mereka punya demi beberapa menit kebahagiaan semu?

Dan keesokan paginya, kehidupan berjalan seperti biasa. Kembang api telah menjadi sampah. Terompet telah kehilangan suaranya. Dompet kembali kosong, dan kalender baru pun hanya menjadi saksi bisu dari kebiasaan lama yang tak pernah berubah. Juga  Resolusi tentang "kehidupan sehat" dan "keuangan yang lebih baik" langsung terkubur di antara botol-botol kosong. Tapi tak apa, mereka punya alasan: “Hanya setahun sekali.”

Mungkin tahun depan akan sama lagi. Atau lebih buruk. Tapi, siapa peduli? Selama ada kembang api di langit, selama ada terompet di tangan, dan selama kita bisa terus berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja, maka kebodohan ini akan terus berulang.

______
Apa yang terjadi tahun ini
Janganlah kita ingkari simpan saja dalam hati
Jadikan itu suatu kenangan
Untuk bangkitkan harapan yang cerah di masa depan
Apa yang teraih tahun ini
Haruslah kita syukuri jangan sampai lupa diri
Apa yang belum kita dapatkan
Haruslah diperjuangkan sampai darah penghabisan

(Endank soekamti-Selamat Tahun Baru) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.