Langsung ke konten utama

KETIKA LISAN MENJADI SOROTAN

Ketika seseorang melakukan satu kesalahan, banyak orang lain menilai buruk secara menyeluruh orang tersebut.
 

Seperti permasalahan yang sedang ramai akhir-akhir ini. Perihal gus miftah yang dalam satu kajiannya tiba-tiba berkata di hadapan khalayak umum kepada salah seorang penjual es teh dengan kata-kata yang mungkin bisa dibilang terlalu kasar untuk seorang tokoh agama.


Fenomena semacam ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh Gus Miftah saja. Dulu sempat ramai kasus gus muwafiq. Meski berbeda kasus tetapi beliau juga pernah sabqullisan (blunder) dalam satu kajiannyya. Menyematkan kata "rembes" untuk mendeskripsikan Nabi Muhammad di masa kecilnya. Atau belakangan ini, sempat viral juga Gus Iqdam yang hampir sama dengan Gus Miftah; marah kepada seorang pedagang asongan yang sedang menawarkan dagangannya dan suaranya dirasa cukup mengganggu beliau saat ceramah. 


Fenomena keblunderan semacam ini, pada akhirnya memicu reaksi negatif dari publik karena dinilai tidak pantas. Terlebih dilontarkan oleh seorang toko agama.


Diakui atau tidak, sikap kontroversial itu memang tidak bisa dibenarkan. Setidaknya itu menurut pandangan saya. Dakwah, khususnya di ruang publik, sudah seharusnya menuntut penyampaian yang tidak hanya berbasis humor tetapi juga adab. Terlebih ketika ucapan itu  mencederai nilai-nilai empati dan penghormatan terhadap sesama, apalagi kepada seseorang yang sedang berusaha mencari nafkah halal.  Dan tuaian pro kontra setidaknya sudah cukup  menunjukkan tentang perlunya kehati-hatian dalam memilih kata-kata agar tidak melukai perasaan orang lain, terlebih dalam konteks dakwah yang seharusnya menjadi sarana pemberi pengetahuan dan inspirasi.


Sayangnya, masyarakat kita terlalu latah dan berlebihan dalam memberikan kritikan. Hal-hal yang tidak ada kaitan dengan konteks permasalahan kemudian turut dihujat. Beragam komentar sudah meranah ke personalitas penceramah.

"Mangkanya kalau ngaji itu harus jelas sanad gurunya kpada siapa, bisa baca kitab nggak"

"Memang beda kalau ngaji panggung dan ngaji kitab"

"Ustad kok gak punya adab, gak bisa dijadikan panutan, ristiwa ini membuktikan bahwa dia memang bukan ahli agama atau ilmunya sedangkal ucapannya. "

"Boikot dia! Tokoh agama kok candaan model begitu."

"Gak pantas jadi ulama, lebih cocok jadi pelawak saja." .
Dan beragam cacian yang sudah mengarah kepada personal.


Bukankah kritik yang efektif adalah kritik yang spesifik & terfokus pada materi yang sedang dibicarakan.


Pepatah "nila setitik rusak susu sebelanga" memang sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana satu kesalahan kecil bisa merusak segalanya. Tapi, ada sisi lain dari pepatah ini yang mengingatkan kita untuk tidak hanya melihat keburukan seseorang dan langsung menghakiminya tanpa mempertimbangkan kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan.


Diakui atau tidak, para penceramah-penceramah itu memiliki andil dan peran besar bagi masyarakat. Menyampaikan dakwah kepada orang-orang dari berbagai kalangan; pemuda, manula, sipil, pejabat, bahkan dari kalangan selebriti. Dan kondisinya masyarakatpun sangat mengidolakan tokoh-tokoh ini. Apakah ini salah? Tentu ini menjadi nilai kebaikan bagi para masyarakat. Setidaknya mereka masih ada kemauan untuk menghadiri majelis ilmu dan sedikit banyak belajar dari apa yang telah disampaikan oleh para dai-dai itu. Belum tentu kita mampu melakukan dakwah seperti beliau-beliau itu?


Bukankah fakta ini sepatutnya menjadi semacam poin agar tidak melulu memperhatikan satu kesalahan lalu mencari-cari kesalahan lainnya? Atau jangan-jangan kebencian sudah menguasai diri kita sehingga kita menanggalkan sikap bijak ini.


Langkah Gus Miftah yang kemudian meminta maaf adalah tindakan yang patut diapresiasi, meskipun seharusnya disertai refleksi mendalam agar insiden serupa tidak terulang. Sebagai seorang tokoh, ucapan dan tindakannya memiliki pengaruh luas dan memerlukan kehati-hatian lebih.

Sayangnya adalah masih banyak dari orang-orang dan bahkan beberapa tokoh itu kemudian menormalisasi tindakannya, "yang saya ketawakan itu adalah suasana pada malam itu bukan pada bakul es teh, nggeh?!" Ucap Zaidan bin Yahya dalam suatu acara yang di malam itu juga duduk di samping Gus Miftah. Kenapa lebih memilih mengatakan demikian daripada meminta maaf sebagaimana sikap bijak yang dilakukan Gus Miftah.


Di sisi lain, dukungan masyarakat kepada penjual es teh yang menjadi korban dalam peristiwa ini menunjukkan kekuatan solidaritas sosial. Hadiah umrah, donasi uang tunai ratusan juta dari pihak lain merupakan bentuk penghargaan terhadap perjuangannya, sekaligus pengingat bahwa tindakan baik tetap ada di tengah kesulitan. Setiap musibah pasti ada hikmahnya, pak!


Selain itu, mungkin panitia-panitia di acara pengajian perlu membuat semacam aturan. Seperti tidak diperbolehkan menjajakan dagangan di tengah hadirin saat sesi Mauidoh Hasanah berlangsung. Saya yakin sesi mauidoh hasanah dari mubalig itu tidak berlangsung lama; 1 atau 2 jam. Biasanya, sebelum mubalig tampil disuguhkan semacam pra acara atau sholawatan, sambutan-sambutan dan lain sebagainya. Tampaknya, di momen-momen demikian, mungkin bisa dimanfaatkan oleh para pengasong itu untuk keliling menawarkan. Saat ceramah dimulai, mereka bisa berhenti sejenak, mendengarkan dan cukup menunggu kalau ada orang yang memanggil dan membeli.

Sebab, suara dari para pengasong itu barangkali cukup mengganggu sang mubalighnya. Mari berhusnudzon, mereka capek karena harus keliling ceramah di mana-mana dalam satu hari, lalu ketika ada suara di tengah-tengah ceramahnya dirasa mengganggu dan sontak saja beliau  marah. Sekalipun hal itu memang tidak layak untuk dibenarkan. Terlebih hal itu juga diakui oleh Gus Bahru Zamzami dalam salah satu video di akun tiktoknya, betapa mengganggunya orang-orang atau para pengasong itu saat berterikan menjajakan dagangan di tengah-tengah hadirin saat beliau menyampaikan ceramahnya. Mungkin sebagian mubalig masih bisa menormalisasinya. Tetapi tidak menutup kemungkinan, hal itu cukup mengganggu dan reflek kata-kata semacam itu keluar dengan dibumbui marah.


Jika anda berprofesi sebagai guru, mungkin anda atau sebagian besar mengalami kondisi semacam ini di kelas. Saat menerangkan pelajaran di depan siswa-siswa, tiba-tiba ada salah satu siswa yang tidak memperhatikan atau mungkin ramai sendiri, kadang para guru itu juga jengkel. Kurang lebih itulah yang barangkali dialami oleh para dai-dai kita.


Maka dalam pada itu, Dalam menanggapi isu semacam ini, masyarakat diharapkan mampu memilah informasi secara bijak dan menyampaikan kritik dengan cara yang konstruktif.  Dan sudah seharusnya daripada sibuk menanggapi dan mencari kesalahan dari para pendakwah itu, sepatutnya Peristiwa ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih bijak dalam berbicara dan bertindak, terutama saat berada di ruang publik. 

Wallahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.