Langsung ke konten utama

MENEMUKAN TEMPAT TERAKHIR

Entahlah, memiliki sifat perasa, intuisi dan kepekaan berlebih itu merupakan sebuah anugerah atau kutukan.
Di satu sisi,  kita tidak bisa bersikap acuh dan membiarkan orang yang kita sayang terluka cuma gara-gara ucapan atau perbuatan kita.

Tapi di sisi lain, mereka yang kita sayang tidak memikirkan betapa menyakitkan ucapan dan tindakan mereka buat kita. 
Hal inilah, yang membuat saya lebih menikmati memendam masalah sendiri dan tidak nyaman ketika hendak menceritakan kepada teman, orang sekitar, bahkan orang tua sekalipun.
Cerita kepada diri sendiri, mengeluh dengan diri sendiri, menangis kepada diri sendiri, mengadu kepada diri sendiri lebih tenang dan nyaman.
Tidak punya teman? Hei, banyak teman yang ada di keliling saya. Tapi, sekali lagi saya akan lebih nyaman jika memendam masalah sendiri, terlebih untuk hal-hal yang bersifat privasi. Dan bagi saya, setiap masalah yang saya alami termasuk sesuatu yg bersifat privasi.
Di antara para teman dan orang-orang sekitar saya akan lebih nyaman dengan berkata, "saya tidak apa-apa, kok!"
Dan tentu saja, mengembangkan senyum palsu lebih mudah saya lakukan daripada harus mencurhatkan masalah hidup kepada orang lain. Padahal pundak saya seringkali mengalami kegoyahan dan kelelahan. sebab harus berjuang sedemikian payahnya berjuang sendiri ntuk menyelesaikan masalah.
Ada kekhawatiran yang saya bentuk sendiri. Khawatir jika cerita atau persoalan hidup saya akan menyusahkan oranv lain. Dan barangkali, fikiran semacam ini membuat saya harus segan dan cenderung menutup diri.

Pernah, suatu ketika saya mencoba menceritakan kepada seorang teman tentang masalah yang sedang saya alami. Dan tanggapan mereka malah membuat saya semakin kecewa, "kamu mending bro kaya gitu, saya bahkan lebih parah dari kamu.. bla.. bla..bla.. ". Dan itu adalah curhat terbangsat yang pernah saya alami.

Atau di lain waktu, pernah saya membuka mulut untuk menceritakan masalah, itupun atas desakan mereka. Alih-alih menyelesaikan masalah, justru yang terjadi adalah masalah yang semakin runyam. Karena mereka terlalu banyak mengutarakan pendapat yang cukup memusingkan.
Lantas, apa yang saya lakukan,? Ya, saya akan menceritakan masalah kepada diri sendiri. Dan menulis tidak lain adalah untuk menyalurkan beban saya agar tak menumpuk dan membuat depresi.

____
Lalu, dia datang. Sosok yang membuat saya merasa sedemikian nyaman untuk mencurahkan segala masalah saya.
Dia,  menenangkan.
Terima kasih. Izinkan aku selalu di sampingmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.