Entahlah, memiliki sifat perasa, intuisi dan kepekaan berlebih itu merupakan sebuah anugerah atau kutukan.
Di satu sisi, kita tidak bisa bersikap acuh dan membiarkan orang yang kita sayang terluka cuma gara-gara ucapan atau perbuatan kita.
Tapi di sisi lain, mereka yang kita sayang tidak memikirkan betapa menyakitkan ucapan dan tindakan mereka buat kita.
Hal inilah, yang membuat saya lebih menikmati memendam masalah sendiri dan tidak nyaman ketika hendak menceritakan kepada teman, orang sekitar, bahkan orang tua sekalipun.
Cerita kepada diri sendiri, mengeluh dengan diri sendiri, menangis kepada diri sendiri, mengadu kepada diri sendiri lebih tenang dan nyaman.
Tidak punya teman? Hei, banyak teman yang ada di keliling saya. Tapi, sekali lagi saya akan lebih nyaman jika memendam masalah sendiri, terlebih untuk hal-hal yang bersifat privasi. Dan bagi saya, setiap masalah yang saya alami termasuk sesuatu yg bersifat privasi.
Di antara para teman dan orang-orang sekitar saya akan lebih nyaman dengan berkata, "saya tidak apa-apa, kok!"
Dan tentu saja, mengembangkan senyum palsu lebih mudah saya lakukan daripada harus mencurhatkan masalah hidup kepada orang lain. Padahal pundak saya seringkali mengalami kegoyahan dan kelelahan. sebab harus berjuang sedemikian payahnya berjuang sendiri ntuk menyelesaikan masalah.
Ada kekhawatiran yang saya bentuk sendiri. Khawatir jika cerita atau persoalan hidup saya akan menyusahkan oranv lain. Dan barangkali, fikiran semacam ini membuat saya harus segan dan cenderung menutup diri.
Pernah, suatu ketika saya mencoba menceritakan kepada seorang teman tentang masalah yang sedang saya alami. Dan tanggapan mereka malah membuat saya semakin kecewa, "kamu mending bro kaya gitu, saya bahkan lebih parah dari kamu.. bla.. bla..bla.. ". Dan itu adalah curhat terbangsat yang pernah saya alami.
Atau di lain waktu, pernah saya membuka mulut untuk menceritakan masalah, itupun atas desakan mereka. Alih-alih menyelesaikan masalah, justru yang terjadi adalah masalah yang semakin runyam. Karena mereka terlalu banyak mengutarakan pendapat yang cukup memusingkan.
Lantas, apa yang saya lakukan,? Ya, saya akan menceritakan masalah kepada diri sendiri. Dan menulis tidak lain adalah untuk menyalurkan beban saya agar tak menumpuk dan membuat depresi.
____
Lalu, dia datang. Sosok yang membuat saya merasa sedemikian nyaman untuk mencurahkan segala masalah saya.
Dia, menenangkan.
Terima kasih. Izinkan aku selalu di sampingmu.
Komentar
Posting Komentar