Disedak oleh kenyataan.
Aa saatnya manusia harus memilih. Bukan, bukan. Itu adalah keniscayaan teatrikal kehidupan yang dipenuhi beragam kepelikan.
Diamuk pikiran.
Kita mencari pembenaran. Ragam alibi dikemukakan. Bahwa dustanya adalah bagian dari jalan yang dibenarkan. Sesaat kemudian, pikiran-pikiran mulai kosong. Senyap. Sesekali muncul seberkas cahaya. Terang dan sesaat kemudian meredup. Maka tak heran, jika sunyi menjadi nuansa paling nyaman.
Kita semakin merasa dihimpit rasa pelik.
Terlanjur jatuh ke kubang nista. Tenggelam sedemikian dalam. Terjerat oleh kebiadaban. Dihinakan oleh kemunafikan.
Sesekali merasa bersalah. Tapi acapkali bereuforia dosa.
Diremuk beban. Tersungkur. Orang lain hanya acuh atas segala fakta yang kita alami.
Kita menemukan kehampaan.
Dan kita disadarkan oleh kenyataan. Bahwa mengaduh hanya akan menjadi sumbang dan cukup memekakkan telingam
Komentar
Posting Komentar