Pagi itu, suasana warung kopi Mbah Sadirun masih seperti pagi-pagi sebelumnya; ramai, dipenuhi oleh obrolan khas bapak-bapak berkaos obat pertanian yang mampir sebelum mereka memulai aktifitas pagi di sawah.
Aku dan Faisal sengaja mencari tempat duduk di depan warung, setidaknya jika obrolan mulai mengalami keterdiaman ada truk milik Bu Sundari yang biasanya llu lalang di jalanan untuk dilihat.
"Sar, " Kata Faisal sesudah menyeruput kopinya yang masih kemebul panas itu. "Kemarin Bapak kepala dinasku ngajak healing seluruh staf kantor ke bali. Berhiling ria di pantai. Seru-seruan di hotel mewah. Seru buanget e."
"Terus?" Tanyaku sambil mengambil sebatang rokok dan merogoh korek di saku celana.
"Pokoknya kepala dinasku tuh kueren banget. Senajan alumni pesantren, mondoknya lama buanget, di rumahnya aja, kitabnya tebel-tebel sak umbruk. Tapi ya itu, orangnya meskipun santri, dia itu nggak kolot. Moderen banget orangnya." Ujar Faisal.
Aku tersenyum sambil menyeruput kopiku. Menahan tawa yang hampir pecah.
"Terus santri modern itu yang gimana? Yang kolot gimana?" Tanyaku
"Santri modern itu," Jawab Faisal penuh percaya diri, "ya yang bisa berperan di pemerintahan. Santri kok masih sibuk ngurus kitab kuning, bahas hukum najis, atau debat soal halal-haram. Ya kolot nggak maju kalau cuma gitu-gitu terus?"
***
Santri? Kolot?
Hei, kukira anggapan kuno itu sudah musnah di bumi ini. Ternyata tidak, to. Masih ada rupanya yang punya statemen basi itu.
Entahlah, mungkin bagi sebagian orang, modernitas adalah soal laptop mahal, outfit keren bermerk, atau santri yang modern adalah mereka yang berhasil menduduki kursi jabatan, menjadi pegawai, duduk leyeh-leyeh di kursi kekuasaan, sambil menenteng gelar yang panjang berderet-deret. Seolah-olah, satu-satunya indikator kemodernan adalah tentang bagaiamana status sosial anda di masyarakat, apa jabatan anda, berapa banyak gaji yang anda peroleh setiap bulannya.
Berangkat dari logika sederhana dan mengenaskan itu, maka tak heran santri yang lebih memilih untuk mempelajari kitab-kitab klasik dan mengajarkan nilai-nilai agama justru dipandang seperti fosil yang tak berguna di tengah gemerlapnya zaman. Ah, sialnya, santri tidak pernah belajar untuk hanya menjadi pejabat. Mereka diajarkan oleh para kiai mereka untuk menjadi orang yang "Khoirunnaas Anfa'uhum Linnas". Bermanfaat untuk sesama dengan jalan apapun yang selaras dengan ajaran keislaman.
Maka rasanya tidak berlebihan jika kita menilai tentang betapa dangkalnya pola pikir yang beranggapan tentang betapa kolotnya santri.
Menyeruak satu pertanyaan dalam benak saya. Siapa yang sebenarnya kolot di sini? Santri atau orang-orang yang punya pemikiran demikian?
Mari kita kupas secara tajam setajam ketho'an kuku.
Modern, kalau dalam KBBI, diartikan sebagai sebuah perilaku, pandangan atau tindakan yang selaras dengan kondisi yang ada.
Pertama, Coba perhatikan pemikiran para santri yang bergelut dengan kitab-kitab tebal yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Mereka mengupas tuntas masalah fiqih dengan pertanyaan yang bahkan belum terpikirkan oleh kebanyakan orang modern. Bagaimana bisa mereka dianggap kolot kalau mereka bisa menjelaskan hal-hal yang sudah dipecahkan oleh para ulama besar dengan cara yang lebih cerdas dan relevan dengan masalah zaman sekarang?
Tidak percaya?
Lihat saja salah satu tradisi menarik di kalangan Pesantren, yaitu Bahtsul Masail. Sebuah forum diskusi khas pesantren yang lebih progresif daripada diskusi bangku rapat para elit, lebih ilmiah daripada debat di acara catatan demokrasi nya tv one, Bahkan lebih beradab daripada obrolan di grup Whatsapp keluarga.
Melalui forum ini, para santri tidak melulu membahas seputar wudu, sholat dan pembahasan fikih mainstrim sejenisnya. Tetapi juga isu-isu kekinian seperti fintech berbasis syariah, NFT, sikap santri atas perkembangan AI, beragam transaksi digital kekinian, tak luput juga isu lingkungan, bahkan isu-isu seputar kenegaraan dan kebangsaan dan masih banyak lagi persoalan-persoalan kekinian yang turut mereka kaji.
Bayangkan, forum diskusi yang sudah ada ratusan tahun ini ternyata lebih relevan dengan zaman daripada mereka yang hanya bisa berteriak soal perubahan tanpa memahami apa yang sebenarnya harus diubah.
Bahkan Kh Sahal Mahfud pernah ngendikan,
"Dari segi historis maupun operasionalitas, bahtsul masail merupakan forum yang sangat dinamis, demokratis dan berwawasan luas. Dikatakan dinamis sebab persoalan (masail) yang digarap selalu mengikuti perkembangan (tren) hukum di masyarakat.”
Bahkan dalam forum tersebut, anda akan temukan betapa keilmiahan para santri yang bahkan berani tidak sependapat dengan para perumus yang notabene adalah para kiai ataupun santri senior tapi dalam konteks ilmiah berdasarkan refrensi dan hujjah-hujjah yang tersampaikan. Saya ingat waktu di pesantren guru saya selalu menanamkan prinsip, "bahwa murid harus bisa mengungguli gurunya dalam segi keilmuan." Dengan begitu apakah layak menyematkan feodalisme di pesantren sebagaimana pendapat nyeleneh para konten kreator itu.
Selanjutnya, Apakah konsep modern juga harus diartikan dengan kemampuan orang-orang dalam menyelami perkembangan teknologi, sosial media dan semacamnya?
Untunk menjawabnya, rasanya tidak usah terlalu jauh. silahkan buka Youtube, tiktok, instagram, cari nama akun Pesantren yang anda maksudkan. Di sana anda akan disuguhkan beragam konten menarik, berbagai short movie dengan editing yang bisa menandingi editor ftv indosiar. Bahkan di Jawa Timur sendiri ada komunitas bernama "media pondok Jatim"; sebagai forum para kreator santri di Pesantren Jawa Timur untuk bersilaturahim dan mengembangkan kerjasama dalam memajukan media pesantren.
Dan jangan lupa, situs seperti NU Online, adalah bukti nyata bahwa santri itu sangat modern. Artikel-artikelnya, membahas isu-isu terkini. Para penulisnya? Tentu saja para santri yang katanya kolot itu. Setidaknya itu menjadi bukti, bahwa mereka yang dianggap "ketinggalan zaman" itu justru sedang sibuk menjawab tantangan zaman.
Beberapa waktu lalu, sempat ada fyp di tiktok saya yang berisikan tentang statemen bahwa pendidikan pesantren adalah pendidikan yang terbelakang di negara ini dibandingkan pendidikan di international school ataupun pendidikan-pendidikan formal lainnya. Dan bahkan, kata postingan tersebut, pesantren adalah penyebab kemunduran pendidikan di negara ini.
Sudah pasti statement ini muncul dari orang-orang yang sama sekali tidak menahu atau hanya selintas memahami persoalan pesantren. Pun tidak bisa kita salahkan juga. Bisa jadi Statemen liar itu menggelinding bebas atas fakta perihal adanya beberapa oknum kiai ataupun ustaz di beberapa pesantren yang melakukan tindakan-tindakan yang sudah tidak mencerminkan nilai-nilai kepesantrenan dan ajaran Islam. Dus, nila setitik rusaklah susu sebelanga. Tentu saja, ini menjadi satu pekerjaan rumah baru lagi bagi para pemuka agama, lembaga pemerintahan, dan pesantren-pesantren untuk mengcounter okbum-oknum yang sudah mencoreng nama baik pesantren itu dengan berbagai cara.
Namun kembali lagi, bahwa oknum tetaplah oknum. Jika dibandingkan dengan pesantren yang bermasalah, masih lebih banyak pesantren-pesantren yang tetap mempertahankan kemuliaan nilai kepesantrenannya. So, tidak ada alasan lagi untuk menyematkan klaim kemunduran sistem pendidikan kepada santri dan pesantren.
Maka sekali lagi, di pesantren, parasantri itu tidak hanya menghafal teks-teks kuno. Mereka memahaminya, mengaitkannya dengan realitas hari ini, dan menawarkan solusi. Berdasarkan prinsip yang senantiasa digaungkan,
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
“Memelihara nilai dan sistem lama yang baik, dan mengadopsi nilai dan metode baru yang lebih baik.”
Jadi, siapa sebenarnya yang kolot? Santri yang terus berpikir dan berinovasi, atau mereka yang hanya mampu menghakimi tanpa pemahaman?Santri tahu caranya berpikir kritis tanpa harus terjebak pada kerumunan sesaat. Mereka tahu esensi dari modernitas
Yaitu sebuah perjalanan yang tak pernah berhenti untuk berkembang.
Kalau tidak percaya, datang saja ke pesantren dan lihat langsung. Siapa tahu, Anda pulang bukan hanya dengan pemahaman baru, tapi juga daftar panjang buku yang harus Anda baca dan pahami untuk mengejar ketertinggalan.
***
PYARRR!!
Obrolan singkat kami akhirnya harus disudahi secara paksa oleh kopiku yang tumpah tak sengaja oleh kaki nakalku sendiri
Komentar
Posting Komentar