Langsung ke konten utama

MENANTI JAWABAN

Salah satu pesan dari masyaikh saya sewaktu di lirboyo pada setiap momen ijazahan dulu adalah, niatkan doa-doa yang kita panjatkan untuk Taqorruban ilallah (mendekatkan diri kepada Allah SWT). 

Tentu saja jika kita renungkan maka dawuh itu akan memberi kesan mendalam kepada siapapun yang memahaminya. Terlebih untuk menghindaei rasa kecewa saat doa-doa yang kita panjatkan tidak dikabulkan sesuai apa yang kita inginkan. Toh, doa pada dasarnya bukan sekedar meminta tetapi lebih kepada bukti bahwa manusia butuh sandaran dalam menggapai apa yang mereka inginkan. 

Ibnu hajar Al Asqolani dalam Fathul barrinya mengutip statemen Attibi tentang hakikat doa, 
الدُّعَاءُ هُوَ إِظْهَارُ غَايَةِ التَّذَلُّلِ وَالِافْتِقَارُ إِلَى اللَّهِ وَالِاسْتِكَانَةُ لَهُ
"Doa adalah ekspresi puncak dalam merasa rendah diri dan kebergantungan terhadap Allah, serta berserah diri kepada-Nya”
(Fathul Barri, Juz 11/hal.95) 

Namun, sering kali kita kecewa dan mengeluh saat merasa doa-doa kita tidak terkabul. Kita berharap sesuatu terjadi segera, sesuai yang kita mau. tetapi kenyataan berkata lain. Bahkan saking kecewanya, kita terkadang berani menghakimi Tuhan dengan menyangkal firman-Nya, 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Tuhan kalian berfirman: “Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untuk kalian." (Q.S. Ghofir: 60) 

Lantas, kenapa kadang doa-doa yang kita panjatkan sering kali tidak terkabulkan? Kata sebagian kita penuh kekecewaan. Bukankah Allah SWT tidak pernah berbohong atas firman-firmanNya? 

Tampaknya kita perlu membaca tulisan Imam Albaijuri dalam Tuhfatul Muridnya tentang hal ini. 
واعلم أن الإجابة تتنوع؛ فتارةً يقع المطلوب بعينه على الفور، وتارةً يقع المطلوب بعينه ولكن يتأخر لحكمةٍ فيه، وتارة تقع الإجابة بغير المطلوب حيث لا يكون في المطلوب مصلحة ناجزة، أو يكون في المطلوب مصلحة وفي ذلك الغير أصلح منها، على أن الإجابة مقيدة بالمشيئة

"Dan ketahuilah sesungguhnya bentuk terkabulkannya doa itu beragam; adakalanya apa yang diminta terwujud secara langsung. Adakalanya yang diminta terwujud tetapi tertunda karena ada hikmah di dalamnya. dan ada kalanya doa terkabul tapi datang dalam bentuk yang berbeda dari yang diminta, karena yang diminta tidak membawa manfaat yang berlangsung lama, atau ada manfaat dalam yang diminta tetapi yang diberikan oleh Allah lebih bermaslahat darinya. Namun, semua pengabulan doa itu terikat pada kehendak Allah."
(Tuhfatul Murid, Hal. 171) 

Kutipan tersebut seharusnya bisa memberi pencerahan atas sikap kita terhadap jawaban dari doa-doa yang kita panjatkan, bukan? Dikabulkan sesuai yang diharapkan secara langsung? Siapa yang tidak bahagia? Sementara itu, jika doa yang kita pinta terjawab tapi entah kapan, sudah pasti ada rahasia bijak yang yang tersembunyi.

Mari kita pakai analogi sederhana, seorang anak SD meminta smartphone terbaru dengan spek gahar pada ayahnya, lantas sang ayah tidak membelikannya saat itu juga. Dengan alasan jika anaknya ia belikan hp bisa jadi waktu belajarnya akan terganggu. 

Nah, barangkali tuhan tidak segera mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan, bisa jadi kita akan enggan lagi untuk berdoa. Karena yang kita inginkan dikabulkan oleh Allah. Atau bisa jadi Allah senang mendengar setiap keluhan dan lantunan doa-doa kita. Maka Allah menjawabnya di waktu yang tepat dan kita sudah siap.

Dan jika Allah menjawabnya dalam bentuk lain? Ah, bukankahAllah maha mengetahui atas apa yang terbaik untuk kita? 

Jadi kita harus yakin bahwa setiap doa yang kita panjatkan pada Allah, pasti akan diijabah oleh-Nya dengan cara yang Dia kehendaki. 

Sebagaimana salah satu pesan dari guru saya, KH Anim Falahudin Mahrus Lirboyo, "Doa itu yang penting selain dilakukan secara istiqomah (konsisten), juga harus didasari rasa yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita."

Mari senantiasa berhusnudzon pada Allah SWT. Sebagaimana tertuang dalam Sebuah Hadis Qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَإِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ الْخَيْرُ فَلَا تَظُنُّوا بِاللَّهِ إِلَّا خَيْرًا
"Sikapku tergantung bagaimana dugaan hambaku, bila menduga baik maka akan kuberi kebaikan. Maka, jangan sekali pun ada dugaan yang tak baik kepadaku!"
(Husnudzon billah Libni Abi dunya, Juz 1/hal.96) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.