Langsung ke konten utama

SEBUAH CERPEN: LUKA DI UJUNG SORE


Cobalah sesekali, kalian lewat di sudut kampungku, Bojonggeneng, setiap sore. Lihatlah sebuah rumah tua sederhana dengan dinding kayu itu. Pada setiap sorenya, rumah itu seakan berubah menjadi tempat penuh cahaya. Anak-anak kampung datang berbondong-bondong, membawa buku Iqro dan Al-Qur’an yang telah usang, pemberian dari sepasang suami istri Pak Zaid dan Bu Hindun, yang juga menjadi pengajar bagi anak-anak itu. 

Pasangan itu menjalani hidup mereka dengan penuh ketulusan. Setiap sore, suara lantunan ayat suci, doa-doa dan tingkah menggemaskan dari anak-anak yang mengaji memenuhi ruangan, membawa kedamaian bagi siapa saja yang mendengar dan melihatnya. Pak Zaid dan Bu Hindun tidak pernah meminta imbalan. Bahkan, Setiap peringatan hari besar, mereka mengadakan acara meriah dengan mengundang para santri dan wali murid tanpa meminta sumbangan sedikit pun. Bagi mereka, kebaikan hati adalah harta yang paling berharga.

Semua dilakukan dengan hati yang penuh keikhlasan. Berbekal prinsip yang, kata beliau berdua, seringkali disampaikan oleh kiainya sewaktu di Pesantren dulu. "Santri nek muleh kudu ngedep dampar, mulang." Meski di balik senyum mereka, jika kalian memahaminya dengan sungguh, tersembunyi perjuangan hidup yang berat.

Mereka hidup dalam kesederhanaan yang bahkan bagi sebagian orang akan sering kali terasa menyakitkan. Pendapatan mereka dari gaji sebagai honorer di sebuah sekolah swasta dan sepetak sawah, rasanya tidak begitu cukup. Namun mereka tetap bertahan, percaya bahwa keberkahan ada di setiap kebaikan yang mereka lakukan. Bahwa rezeki bukan sekadar uang, melainkan berkah dari ilmu yang mereka bagikan. Kepuasan batin melihat anak-anak yang mereka ajar, lancar fasih membaca Alquran dan memiliki akhlak mulia.

Setahun sudah kegiatan ngaji itu berjalan setiap sore. Seperti biasa, sambil menunggu giliran atau seusai ngaji, anak-anak itu akan keluar jalan-jalan membeli jajan di toko-toko yang ada di sekitar kampung. Ramainya jalanan dengan lalu lalang kendaraan cukup mengkhawatirkan bagi keselamatan anak-anak itu. 

Tentu hal demikian menjadi tugas tambahan bagi Pak Zaid dan Bu Hindun agar hal-hal yang tidak diinginkan saat dijalanan menimpa anak-anak yang mereka ajar. Dari kekhawatiran-kekhawatiran itulah, mereka punya inisiatif, "bagaimana kalau anak-anak jajannya di rumah ini aja, agar aman tidak lari-larian di jalanan ramai."

Suatu hari, mereka mendapat ide untuk menjual es lilin epada anak-anak yang mengaji. Es lilin itu mereka buat sendiri, dengan rasa manis yang disukai anak-anak. 

Stiap kali mengaji selesai, anak-anak berlarian dengan riang. Menyerbu es lilin warna-warni yang dijual di rumah mereka. Sekalipun dengan harga yang terbilang cukup sangat murah, 1000 Rupiah, tapi tawa anak-anak itu adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Juga setidaknya mereka juga punya sedijit tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Dan yang paling penting, mereka berdua tidak lagi harus teriak-teriak kalau ada anak yang hampir kesrempet truk dijalanan depan rumah. 

Sayangnya, kebahagiaan yang muncul saat anak-anak menikmati es lilin itu tidak berlangsung lama. Beberapa minggu berlalu, dan suasana berubah. Beberapa anak mulai jatuh sakit. Demam, sakit perut, dan keluhan lainnya mulai terdengar dari beberapa rumah. Wali murid tidak pernah datang untuk menyampaikan keberatan. Tetapi perlahan, suara-suara sumbang mulai menyebar.

"Aku gak boleh beli es itu lagi kata ibuku, nanti sakit. " Ujar salah seorang anak dengan polos kepada temannya.

Benar. Tampaknya pak Zaid dan Bu Hindun tidak pernah mendengar kabar itu  langsung. tetapi setiap anak yang datang mengaji membawa cerita polos tentang larangan itu kepada temannya. 

Di malam yang sunyi itu. Aku melihat Pak Zaid duduk termenung di teras rumah. Menikmati secangkir kopi dalam nuansa rintik hujan yang sedari sore tidak berhenti. Terlihat wajahnya penuh dengan rasa bersalah yang tak terucapkan. 
Sementara itu, Bu Hindun hanya bisa memandang suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tetapi tidak ada kata yang terucap.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa usaha kecil yang mereka niatkan untuk kebaikan justru menjadi penyebab kekhawatiran para orang tua.
***

Mereka memutuskan untuk berhenti menjual es. Bukan karena merasa bersalah, tetapi karena tidak tega jika anak-anak sakit dan mereka menjadi penyebab prasangka buruk itu. Es lilin warna warni itu menjadi kenangan. Sebuah usaha kecil yang lahir dari niat baik tetapi berakhir dengan luka di hati.

Hari-hari selanjutnya kembali berjalan. Tetapi ada nuansa berbeda di rumah pak Zaid. Kesunyian dari celoteh anak-anak saat istirahat sambil menikmati es lilin menyelimuti sore di rumah itu. Tawa riang itu masih ada, tetapi dengan rasa yang sedikit tak sama. Tidak ada lagi kerumunan di halaman. Tak ada lagi plastik bekas es yang tercecer di halaman rumah. hanya suara bacaan Al-Qur’an yang masih setia menggema di antara dinding kayu yang rapuh.

Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar bahwa salah satu wali murid mulai menjual es di depan rumahnya. Es yang sama dengan yang pernah dijual pak Zaid: es lilin warna warni. Anak-anak ngaji yang dulu juga membeli es di rumah Pak Zaid kini berkerumun di sana. Tertawa dan menikmati es lilin yang mereka beli dengan riang.

Pak Zaid mendengar kabar itu dengan senyum getir. Di dalam hatinya ada rasa pedih yang sulit ia ungkapkan, tetapi ia memilih diam.

Tidak ada amarah, tidak ada dendam, hanya rasa pedih yang menusuk hati. Di dalam hatinya, ia bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa niat baiknya harus berakhir seperti ini.

Namun, ia tidak membiarkan rasa sakit itu mengendap berlarut. Setiap sore, ia masih membuka pintu rumahnya untuk anak-anak yang datang mengaji. Meski tawa mereka kini beralih tempat. Setidaknya lantunan ayat suci yang keluar dari bibir-bibir kecil itu dan tingkah konyol anak anak tetap menjadi penghibur yang tak ternilai.

Di bawah langit kampung yang tenang, Pak Zaid dan Bu Hindun terus menjalani hidup mereka. Mereka memilih diam, menyerahkan semua rasa sakit dan luka kepada Allah. Dalam keheningan malam, mereka berdoa, memohon kekuatan untuk tetap ikhlas, untuk tetap berjalan di jalan yang telah mereka pilih.

Hidup mereka masih sederhana. Rumah mereka tetap sederhana, penghasilan mereka masih dikit, tetapi, aku yakin, hati mereka penuh dengan kekayaan yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun.

Dan di sana, dalam kesunyian itu, pak Zaid dan Bu Hindun mengajarkan kepada dunia bahwa manusia terbaik adalah mereka yang bermanfaat untuk sesama. 

Luka itu mungkin tidak pernah benar-benar sembuh. Tetapi mereka percaya, setiap tetes air mata yang jatuh akan diganti oleh kebahagiaan abadi di sisi-Nya.

Kelak, dari rumah sederhana itu, aku yakin generasi-generasi terbaik dengan akhlak mulia akan lahir di kampung ini. 
Amin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.