Kau terlalu banyak bicara. Tentang apa saja. Tentang siapa saja. Bahkan tentang dirimu sendiri.
Di mataku, kau seperti orang yang tidak pernah kehabisan bahan untuk diceritakan. Dari hal yang sepele, sampai yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan. Kau selalu punya alasan untuk membuka mulut.
Pagi itu, aku benar-benar menyadarinya. Cara matamu berbinar saat menjelaskan sesuatu. Cara tanganmu ikut bergerak, seolah mendukung kalimat yang kau keluarkan. Dan suaramu yang meninggi di beberapa bagian, seperti menandai sesuatu yang menurutmu penting. Aku mendengar semua itu. Tapi jujur, aku ingin sekali tidak mendengarnya.
Aku ingin mengabaikanmu. Aku ingin membiarkan kata-katamu jatuh begitu saja ke tanah, tanpa sempat singgah di telingaku. Tapi bukankah menghargai seseorang berarti memberi ruang ketika ia berbicara? Maka aku memilih berpura-pura mendengarkan. Mengangguk seperlunya. Sesekali melempar senyum tipis, agar kau merasa cerita itu sampai.
Namun, di balik semua itu, ada hal yang tidak bisa kuabaikan. Tidakkah kau pernah berpikir untuk diam? Hanya sebentar saja. Memberi kesempatan pada dirimu untuk berhenti mengagungkan cerita-cerita yang bahkan mungkin hanya setengah benar. Tidakkah kau ingin sekali saja mendengar, bukan hanya didengar? Menjadi pendengar yang baik jauh lebih berharga daripada ribuan kata yang kau lontarkan tanpa jeda.
Kau tahu, terlalu banyak berbicara adalah jalan yang licin. Di awal mungkin tampak wajar. Orang menganggapmu pandai. Orang menilai kau menguasai banyak hal. Tapi seiring waktu, orang akan mulai ragu. Apakah semua yang kau katakan benar adanya? Atau hanya bualan yang dirangkai demi terlihat mengesankan?
Di titik itu, kebohongan akan mudah menyelinap. Sekecil apa pun. Tidak terlihat jelas pada awalnya, tapi lama-lama akan tampak. Dan kebohongan, meski sebutir pasir, tetaplah kebohongan. Dan seseorang yang terbiasa terlalu banyak bicara selalu berada di ambang jurang itu.
Entahlah. Aku tidak ingin menghakimimu sepenuhnya. Mungkin memang begitulah caramu bertahan. Dengan bercerita. Dengan membuat dirimu selalu punya peran dalam setiap percakapan. Dengan memastikan orang lain mendengar suaramu.
Tapi bagiku, pagi itu meninggalkan kesan. Satu kesan sederhana: kau terlalu banyak bicara.
Dan kadang, itu membuatmu terlihat lebih jauh dari yang sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar