Langsung ke konten utama

KAU DAN BUALANMU


Kau terlalu banyak bicara. Tentang apa saja. Tentang siapa saja. Bahkan tentang dirimu sendiri.

Di mataku, kau seperti orang yang tidak pernah kehabisan bahan untuk diceritakan. Dari hal yang sepele, sampai yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan. Kau selalu punya alasan untuk membuka mulut.


Pagi itu, aku benar-benar menyadarinya. Cara matamu berbinar saat menjelaskan sesuatu. Cara tanganmu ikut bergerak, seolah mendukung kalimat yang kau keluarkan. Dan suaramu yang meninggi di beberapa bagian, seperti menandai sesuatu yang menurutmu penting. Aku mendengar semua itu. Tapi jujur, aku ingin sekali tidak mendengarnya.


Aku ingin mengabaikanmu. Aku ingin membiarkan kata-katamu jatuh begitu saja ke tanah, tanpa sempat singgah di telingaku. Tapi bukankah menghargai seseorang berarti memberi ruang ketika ia berbicara? Maka aku memilih berpura-pura mendengarkan. Mengangguk seperlunya. Sesekali melempar senyum tipis, agar kau merasa cerita itu sampai.


Namun, di balik semua itu, ada hal yang tidak bisa kuabaikan. Tidakkah kau pernah berpikir untuk diam? Hanya sebentar saja. Memberi kesempatan pada dirimu untuk berhenti mengagungkan cerita-cerita yang bahkan mungkin hanya setengah benar. Tidakkah kau ingin sekali saja mendengar, bukan hanya didengar? Menjadi pendengar yang baik jauh lebih berharga daripada ribuan kata yang kau lontarkan tanpa jeda.


Kau tahu, terlalu banyak berbicara adalah jalan yang licin. Di awal mungkin tampak wajar. Orang menganggapmu pandai. Orang menilai kau menguasai banyak hal. Tapi seiring waktu, orang akan mulai ragu. Apakah semua yang kau katakan benar adanya? Atau hanya bualan yang dirangkai demi terlihat mengesankan?


Di titik itu, kebohongan akan mudah menyelinap. Sekecil apa pun. Tidak terlihat jelas pada awalnya, tapi lama-lama akan tampak. Dan kebohongan, meski sebutir pasir, tetaplah kebohongan. Dan seseorang yang terbiasa terlalu banyak bicara selalu berada di ambang jurang itu.


Entahlah. Aku tidak ingin menghakimimu sepenuhnya. Mungkin memang begitulah caramu bertahan. Dengan bercerita. Dengan membuat dirimu selalu punya peran dalam setiap percakapan. Dengan memastikan orang lain mendengar suaramu.

Tapi bagiku, pagi itu meninggalkan kesan. Satu kesan sederhana: kau terlalu banyak bicara.


Dan kadang, itu membuatmu terlihat lebih jauh dari yang sebenarnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.