Langsung ke konten utama

GUS JAKFAR: "OJO NGOPI KARO TAMATAN...!"

Membersihkan kamar tidur adalah hal membosankan. Sebab bagaimanapun kondisi ruang kamarnya, asalkan saya bisa sendiri, maka saya akan merasa nyaman dengannya.
Tapi hanyalah omelan emak saya yang bisa merubah keadaan. "Hei.. Bersihkan kamarmu yang berantakan itu..." Sedari pagi kalimat itu diteriakkan sedemikian kencang tanpa jeda. Cukup memekakkan telinga.
Ya, bersihkan kamar atau saya akan menjadi anak durhaka karna tidak mengikuti perintah orang tua.
Menata kasur, bantal, pakaian yang berserakan tak terjamah, lemari dan lain sebagainya. Di ketika itulah tanpa sengaja selembar kertas kusam jatuh dari lemari ke lantai. Karna penasaran saya membukanya perlahan. Ah, aku ingat tulisan ini. Tulisan sok hebatku setahun lalu. Saat saya masih menjadi mahasantri semester VI Lirboyo. Saya tersenyum sendiri mengingat kenangan itu.
Baiklah. Aku tidak akan membacanya sendiri, aku akan menunjukkannya ke kalian juga.
Seperti ini:
***

Dari Gus Jakfar (presiden jakfarangers 2019):

Kaget bukan main, ketika masa liburan tengah tahun kemarin, tepatnya di hari ke empat saya membuka e-mail dan akun instagram “@Jakfarangers” yang seolah sudah mulai usang termakan waktu berbulan-bulan lamanya tak pernah saya kunjungi. Kaget, pasalnya ada kurang lebih sekitar 200-an mailing dan direct message masuk ke akun saya. Sebagai seorang presiden saya memaklumi itu. Tapi anehnya dari sekian ratus email dan DM yang masuk rata-rata berkeluh kesah dan bertanya dengan gaya bahasa yang sama. Pertanyaan yang melulu bermuara dalam benak para tamatan; sekolah yang tinggal empat bulan, pengabdian, nikah, kerja, mau kemana dan seabrek asupan-asupan planning masa depan dengan dosis berlebihan lainnya. Dan layaknya seorang presiden di beberapa negara, saya tidak akan menjawab satu per satu pertanyaan dari sekian banyak pengirim melalui kedua akun itu. Bukan apa-apa, hal itu akan menyita waktu saya, sementara ada tugas negara yang lebih penting yang harus saya lakukan. Dalam istilah lain saya lebih menekankan prinsip taqdim al-aham fa al-aham.
Berdasarkan analisa dari tahun ke tahun saya memaklumi corak tanya dan keluh seperti ini.

Dalam satu masa kontemplasi singkat berikutnya, bergelayutlah tanda tanya dalam ruang paling dalam pikiran saya adakah relevanitas dari beragam tanya, keluh kesah, rencana, dan lain sebagainya seperti mindset maenstreem para tamatan itu.... melalui tulisan ini saya akan mengungkapkannya.

Saban hari, ketika kita temukan kopdar-kopdar minimalis para tamatan rata-rata yang mereka bicarakan adalah seputar “khidmah, nikah, maisyah”. Dan yang sangat kita sayangkan obrolan-obrolan itu hanya terbatas pada argumentasi buram dan berdasarkan analitik-imajintif yang bersifat subyektif.

Dalam satu tema menarik yang kerap bertamu di antara mereka adalah hidangan sambat. Mindset sambat di dunia tamatan seolah menjadi suatu iklim kebudayaan yang harus benar-benar dirasakan oleh masing-masing individu. Gaya imajinasi tentang apa yang dilakukan tahun depan, atau dalam konteks yang lebih sempit peran pengabdian apa yang akan dijalani dan seberapa lama harus menjalani lakon kehidupan pengabdian nantinya. Lalu misi untuk mengarahkan Si Joni kepada satu titik target yang entah berapa kali dibumbui dengan melakukan semacam observasi kepada mereka yang punya adik perempuan atau kepada perempuan siapapun asalkan dari alumnus pesantren juga sering terjadi di sekeliling pola hidup mereka. Dan sampai pada tingkat atau stadium yang saya yakini telah memperparah laku kehidupan, beberapa rakyat jakfarangers mengalami kegulanaan atas problem-problem keuangan.
Terbukti planing cari uang, bisnis, usaha dan sebagainya terdengar nyaring dari mulut-mulut sebagian rakyat Jakfarangers.

Jika kita sedikit meluangkan waktu untuk bertekur dalam keterdiaman sejenak, sebenarnya apa yang selama ini menjadi tema obrolan di kalangan tamatan yang bermuara pada luapan-luapan ketidakjelasan di atas menurut hemat saya adalah sesuatu yang percuma.

Bukan mencoba bersikap skeptis atas sebuah kenyataan, tapi pada dasarnya untuk apa-apa hal-hal yang sebenarnya memiliki garisnya masing-masing yang garis itu telah ditentukan oleh sang penentu harus kita khayalkan dan gambarkan sedemikian rupa ke dalam ruang pikiran kita.

Bukankah kita pernah dijejalkan suatu konsep manut sebagai ciri dari gaya tarbiyah kita. Dan ketika sampai pada waktunya, tatkala garis itu telah jelas di depan mata, maka Apapun peran yang akan kita jalani di masa pengabdian yang telah ditentukan oleh tokoh-tokoh hebat itu tentunya adalah hal terbaik bagi kita. Bukankah sang penentu benar-benar telah melewati fase perenungan panjang untuk kemudian memutuskan pilihan terbaik bagi kita. Berjibaku dengan hal-hal imajinatif dan absurd akan menambah kegundahan pikiran kita bukan?
Apa yang selama ini menjadi tema obrolan di kalangan tamatan yang bermuara pada luapan-luapan ketidakjelasan di atas menurut hemat saya adalah sesuatu yang percuma.

Saya percaya bahwa kesuksesan sebuah pekerjaan harus memiliki perencanaan atau planing yang matang. Tapi kita juga harus memahami kadar porsi dari masing-masing kepentingan rencana jalan hidup kita. Sebab ketika rencana bisnis atau nyuprih pengupo jiwo berada pada taraf jauh sekian persen dari rencana kita untuk jayyid atau khusnul khatimah di akhir jenjang sekolah, yang merupakan kewajiban kita untuk saat ini, adalah gaya pemikiran yang menurut saya memerlukan semacam rekonstruksi.

Dalam teori ekonomi manajemen, planning terbagi menjadi dua; jangka pendek, dan jangka panjang. Meski keduanya dibutuhkan namun prioritas utama dari kedua perencanaan itu adalah perencanaan jangka pendek. Dan selainnya bisa kita sematkan pada daftar perencanaan yang kesekian letaknya. Terlebih usia dewasa yang tersemai dalam diri kita menjadi suatu keniscayaan tersendiri untuk lebih memilih mana yang perlu di prioritaskan, mencapai jayyid dan khusnul khatimah di semester ini ataukah bingung mencari relasi kerja dengan segala perencanaannya ataukah ikhtiyar mencari jodoh.

Apa yang selama ini menjadi tema obrolan di kalangan tamatan yang bermuara pada luapan-luapan ketidakjelasan di atas menurut hemat saya adalah sesuatu yang percuma.
Dan lebih miris lagi ketika aktifitas sambat-menyambat itu diadukan kepada teman-teman yang juga sama-sama tamatan. Alih-alih mencari jalan keluar atau solusi, justru yang terjadi adalah curhat keluh kesah yang sama-sama diluapkan dari masing-masing kelompok ngopi itu dan tidak memiliki titik terang yang jelas. 
Dari kesekian fakta itu maka saya berharap kepada segenap rakyat jakfarangers jangan sampai keluh-kesah berikut segerobak tanya yang masih memiliki jawaban buram itu mengganggu pikiran kalian. Yang pada gilirannya kalian harus menyendiri, tertekur dan berjibaku dengan segala kerumitan jalan masa depan hingga titik kejenuhan bertandang yang berakibat fatal; taghayur pikirannya (oleng). Naudzubillah.

Uripmu iku kakean cerito, ngayal, imajinasi, sambat ngaruoro. Saranku, please lereno...!" Begitu pesan yang saya ingat dari meme di akun @dagelanJowo. Kalau saya ditanya pengen ngabdi di mana dan berapa lama, dengan tegas saya akan menjawab, Biarkan sebelas master kita yang menentukan, saya sami'na wa atha'na.... Maka dalam pada itu saya setuju yang dikatakan kang thomas dalam suatu kesempatan, "Wes ono sing mikir gak usah melu repot-repot mikir."

Dan kemaren sore tiba-tiba saya dikagetkan dengan email yang masuk dari salah seorang rakyat Jakfarangers, Gus... katanya sampean punya adik perempuan yaa...?. 
Huft... Lirboyo keras lurr...!!!( Jakfarangers)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.