Langsung ke konten utama

Mendaki Gunung dan Gejala Kebudayaan Narsis (?)

"Hamparan langit maha sempurna
Bertahta bintang-bintang angkasa
Namun satu bintang yang berpijar
Teruntai turun menyapa aku."
Song by: Padi—Mahadewi

"Berbagi waktu dengan alam...
Kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya."
Song by: Eros SO7 ft. Okta - Ost. GIE

Kedua lagu itu mengingatkan saya tentang gejala kawan-kawan ketika liburan. Saat menyaksikan berbagai upload-an foto media sosial. Dengan nuansa sama: Foto di atas puncak gunung dan alam terbuka. Biasanya orang-orang menyebut fakta ini dengan istilah petualangan alam, muncak, ngetrip, adventure dan lain sebagainya. Mendaki Gunung.

Ya. Mendaki gunung tampaknya saat ini sudah menjadi trend dikalangan anak muda. Terlebih semenjak Genta, Zafran, Arini, Ian, Arial dan Adinda menunjukkan sedemikian keren dan serunya mendaki Mahameru dalam cerita 5 cm mereka. Film yang seolah telah Membius kemauan kawan-kawan muda kita untuk melakukan pendakian ke puncak gunung.

Tapi setidaknya kita memang perlu memahami makna pendakian itu sendiri. Tidak hanya sekedar mengikuti trend maenstrim kebudayaan anak muda zaman haal.
Mendaki sebenarnya adalah suatu proses perjalanan untuk berada pada satu titik pencapaian. Bukan sekedar tentang sunrise, sunset, ataupun negeri di atas awan. Lebih dari itu. Pencapaian dari mendaki sejatinya adalah diri kita sendiri. Tentang bagaimana kita benar-benar mampu menaklukkan naluri egoisitas pribadi. Mengenal siapa sebenarnya diri kita jika dibandingkan luas dan ganasnya alam serta kehidupan ini. Hingga di titik akhir puncak pemahaman itu adalah pengenalan dan pemahaman tentang kebesaran Sang Pencipta dan teramat kecil lemahnya diri kita.

Sayangnya, kita hanya tahu tentang itu semua sekedar kata yang tak akan lebih dari sekedar romantisme ucapan belaka. Sebab, tak sedikit pendakian yang kita lakukan kita alihkan sebagai sarana pamer di sosial media. Jepretan-jepretan indah tatkala dibalut dengan panorama matahari terbit ataupun tenggelam, ditambah background awan-awan tebal dan lukisan cakrawala yang membentang. Itu cukup membanggakan bukan? Upload, share di semua media. Jangan lupa pakai caption khas para pendaki kekinian. Atau sesekali perlu juga kita berfoto sambil memegang kertas atau apalah yang bertuliskan, dapat salam dari 3676 Mdpl, hei, kapan kalian kesini. Dan segala iklim kultur kebudayaan narsis lainnya.
Lihat saja, seberapa banyak kekecewaan muncul ketika dengan berat hati kita harus berada di puncak tanpa menyaksikan lukisan-lukisan masterpiece Tuhan dengan tema sunset, sunrise, ataupun negeri diatas awan-Nya. Tatkala kabut tebal benar-benar menutupi nuansa indah di atas sana. Atau masihkah kita bersikap biasa dan berdamai dengan kepahitan kondisi yang membuat kita gagal untuk mencapai puncak dan dengan terpaksa harus kembali turun.

Soe Hok Gie, sebagai pendiri tim MAPALA dalam salah satu idenya untuk mendaki adalah bahwa ia ingin mencari ketenangan di atas puncak, kesepian bersama alam raya bebas. Ia tak ingin menyaksikan keburukan kehidupan dengan rezim pemerintahan kala itu. Ia ingin sendiri dan mencari tempat terindah untuk merenung sedalam-dalamnya tentang kehidupan. Ah, sepi dan tenang. Masihkah hal itu kita raasakan? Jikalau Semeru yang setiap akhir pekannya didatangi dengan dua ribu pendaki. Hargo dumilah, kentengsongo, puncak rajawali, puncak sejati dan lain-lain yang ketika hari biasa saja bisa mencapai ratusan pengunjung. Terlebih ketika di hari libur, bisa kita saksikan camp-camp dengan aneka ragam merk tenda berjajar dan sedemikian ramainya seperti ada acara pasar malam di pos-pos pendakian. Dengan keramaian gunung-gunung seperti itu masihkah kita bisa menjadikan gunung sebagai tempat tenang dan sepi yang nantinya di atas sana kita benar-benar mampu bertafakur atas segala hal tentang kehidupan.

Pecinta alam. Begitu kita menyebut diri kita sebagai pendaki. Benarkah kita mencintai alam? Ah, lagi-lagi tak sedikit dari kita yang dengan ringannya membuang sampahmeski hanya sekedar bungkus mie instan ataupun putung rokokdi sepanjang trek menuju puncak. Kita mengotorinya. Juga tangan-tangan jahil yang memetik bunga abadi edelweis. Kita merusaknya. Untungnya masih ada dari beberapa kawan yang benar-benar mau membawa crashbag untuk mengantongi sampah-sampah bercecer yang akan mereka buang setiba di basecamp pendakian nanti. Namun, sudahkah dari mereka ini benar-benar memahami sebagai pecinta alam sejati, yang tidak akan membuang sampah sembarangan misalnya. Tidak hanya ketika sedang melakukan pendakian tapi semangat jiwa pecinta alam benar-benar bisa terimplementasi dalam keseharian mereka.

Sekali lagi. Mendaki tidak sekedar berdiri gagah di atas puncak. Tidak sekedar berfoto ria dengan panorama alam. Bukan tentang sindrome alaynesis. Mendaki adalah menaklukkan alam sejati dalam diri kita. Segala yang kita lalui dalam mendaki adalah ilmu jika orientasinya adalah belajar untuk mengenal, memahami bahkan mencintai diri kita, manusia, alam dan Tuhan. Dan lihat, asap tebal yang keluar dari kawah Jonggring Saloka masih terus bertasbih dan mengingatkan kita untuk tidak mengotori dan merusak keindahan seluruh alam ini. Dengarkan semua itu saat kau merenung di tengah padang sabana pada suatu malam.
***

"Coba pikirkan lagi semua 
Yang pernah dan akan kau lakukan
Sudah cukupkah cinta yang ada
tuk Bumi Pertiwi..."
Superman Is Dead-Marah Bumi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.