Akhirnya, wisuda saya terlaksana tahun ini. Meski sempat harus diundur setahun karena alasan pandemi. Kebahagiaan tentu menyelimuti kami. Penantian selama bertahun-tahun itu benar-benar bisa terjadi. Kebahagiaan dari para masyaikh, para guru, orang tua berpilin bersama doa dan ridho mengalir tanpa henti.
Namun sayang, rasa bahagia itu agak sedikit kurang sempurna. Setidaknya saya sendiri merasakannya. Ya, prosedur acara yang begitu ketat. Konsep acara sederhana dan super kilat. Tak ada euforia-euforia seperti wisuda di tahun-tahun yang telah lewat. Pandemi telah membawa suasana menjadi gawat. Dan, prosesi wisuda tanpa kehadiran orang tua cukup membuat kebahagiaan saya sedikit tersayat.
Padahal, dulu orang tua saya akan berjanji turut menghadiri wisuda saya. Bukan karena apa-apa. Sebab, keberadaan saya di lirboyo sejak 2009, ayah saya sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di bumi lirboyo sejengkal saja. Hanya sekali, saat beliau mengantarkan saya ke pesantren ini untuk pertama kalinya. Tidak lama, hanya beberapa jam saja. Sampai malam wisuda saya tiba, beliau masih berhalangan untuk sowan ke lirboyo karena satu dan lain sebab tentunya.
Pun, ibu saya. Beliau juga hanya sekali menjenguk saya. Tahun 2019, untuk pertama kalinya ibu saya melihat tempat sekolah anaknya. Mungkin, jika tidak diajak oleh saudara saya yang kebetulan memondokkan anaknya di sini, ibu saya tidak akan pernah melihat bagaimana dan seperti apa pesantren lirboyo yang telah menjadi tempat mencari ilmu putranya selama ini.
Tidakkah rasa kangen selalu ada? Tentunya, ada rasa keinginan saat melihat kawan-kawan bisa bertemu orang tua atau keluarganya di pondok bersama. Namun kangen itu selalu hilang saat saya mengingat nasehat orang tua saya
Beliau berdua selalu berpesan pada saya, "Nek wes neng pondok, ra usah mikir sing neng omah. Ra usah nggatek enek kabar opo neng omah. Fokus ngaji. Cukup, makmu karo bapakmu, lan keluarga didungakne wae. Nek sangune entek njaluk. Sing penting mempeng."
Suatu malam, ayah saya bilang melalui via telpon, "Nanti dikabari, kapan wisudane sampean. Ben jauh-jauh hari bapak karo emak iso sowan neng pondok, sowan mbah yai."
(Bersambung...)
Komentar
Posting Komentar