Langsung ke konten utama

Romantisme Malam Penobatan Sarjana

Akhirnya, wisuda saya terlaksana tahun ini. Meski sempat harus diundur setahun karena alasan pandemi. Kebahagiaan tentu menyelimuti kami. Penantian selama bertahun-tahun itu benar-benar bisa terjadi. Kebahagiaan dari para masyaikh, para guru, orang tua berpilin bersama doa dan ridho mengalir tanpa henti.
(Foto: Bersama Rekan-Rekan Nusantara 2020 Bagian C.02, beberapa saat usai seremonial wisuda)

Namun sayang, rasa bahagia itu agak sedikit kurang sempurna. Setidaknya saya sendiri merasakannya. Ya, prosedur acara yang begitu ketat. Konsep acara sederhana dan super kilat. Tak ada euforia-euforia seperti wisuda di tahun-tahun yang telah lewat. Pandemi telah membawa suasana menjadi gawat. Dan, prosesi wisuda tanpa kehadiran orang tua cukup membuat kebahagiaan saya sedikit tersayat.

Padahal, dulu orang tua saya akan berjanji turut menghadiri wisuda saya. Bukan karena apa-apa. Sebab, keberadaan saya di lirboyo sejak 2009, ayah saya sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di bumi lirboyo sejengkal saja. Hanya sekali, saat beliau mengantarkan saya ke pesantren ini untuk pertama kalinya. Tidak lama, hanya beberapa jam saja. Sampai malam wisuda saya tiba, beliau masih berhalangan untuk sowan ke lirboyo karena satu dan lain sebab tentunya.

Pun, ibu saya. Beliau juga hanya sekali menjenguk saya. Tahun 2019, untuk pertama kalinya ibu saya melihat tempat sekolah anaknya. Mungkin, jika tidak diajak oleh saudara saya yang kebetulan memondokkan anaknya di sini, ibu saya tidak akan pernah melihat bagaimana dan seperti apa pesantren lirboyo yang telah menjadi tempat mencari ilmu putranya selama ini.

Tidakkah rasa kangen selalu ada? Tentunya, ada rasa keinginan saat melihat kawan-kawan bisa bertemu orang tua atau keluarganya di pondok bersama. Namun kangen itu selalu hilang saat saya mengingat nasehat orang tua saya

Beliau berdua selalu berpesan pada saya, "Nek wes neng pondok, ra usah mikir sing neng omah. Ra usah nggatek enek kabar opo neng omah. Fokus ngaji. Cukup, makmu karo bapakmu, lan keluarga didungakne wae. Nek sangune entek njaluk. Sing penting mempeng."

Suatu malam, ayah saya bilang melalui via telpon, "Nanti dikabari, kapan wisudane sampean. Ben jauh-jauh hari bapak karo emak iso sowan neng pondok, sowan mbah yai."

(Bersambung...)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.