Tubuh mungilnya disiram tempias hujan.
Gigil mengisak di balik seutas senyuman.
Sesaat menikmati tawa semu.
Mendebat segala sesak dan sakit.
Menahan lara di antara deraian rintih.
Jiwanya rigkih berkalung banyak penanggungan.
Aku menutup wajahnya yang pasi.
Bersamanya menghabiskan malam mengemis kasih.
Memberi makna sunyi, kelam, pekat
dan sejuta nuansa ketidakbaikan lainnya.
Sampai di titik permulaan fajar, kita merapal segala pembenaran. "Bahwa Tuhan tak kan enggan menurukan kasih untuk semua hambaNYA."
"Lupakan segalanya untuk beberapa jam saja."
Sesaat kemudian. Kita melebur.
Lenyap
Komentar
Posting Komentar