Orang yang merasa pandai ilmu agama kemudian menghujat orang-orang yang dianggap kurang pandai mengaji namun berani tampil berdakwah di mana saja terutama di sosial media. Kasus kritik dan celaan terhadap beberapa ustadz yang dinilai salah dalam penyampaian ceramahnya. Beberapa yang saya ingat, seperti Ustazah Neno Warisman, Ustaz Evie Effendi, dan lain sebagainya.
(Tanpa menyudutkan sosok-sosok di atas, bahwa nama-nama di atas memang sempat viral di sosial media dan menjadi bahan pembicaraan. Silahkan cek di kanal Youtube atau media lainnya)
Alih-alih sebagai bahan hujatan, kesalahan yang dilakukan beberapa Ustaz kita yang sempat viral ini, menurut saya, bisa menjadi tamparan keras atau suatu motivasi tersendiri untuk orang-orang yang dirasa 'alim atau yang mumpuni ilmu agama untuk sesegera mungkin tampil dan menguasai mimbar-mimbar dan majelis dakwah di sosial media
Namun yang justru terjadi adalah munculnya gejala hujat-menghujat dan olok-mengolok. Yang dianggap tidak begitu pandai mengaji, berani tampil berdakwah, koar-koar seraya mengolok sana-sini. Pun sebaliknya. Yang dirasa alim dan paling layak menyandang gelar ustadz juga gantian menghujat habis-habisan mereka yang minim ilmu agama tetapi berani tampil membicarakan persoalan agama (dakwah).
Kalau kata pak Sumarno Bengkel tetangga saya, "Salahe sing pinter ngaji ora gelem tampil. Trus naliko sosmed dikuasai karo wong-wong sing gak pati iso ngaji, malah diolok-olokne... Milo to... Sing rumongso ngalim wi metuo ben sosmed ora dikuasai karo ustad-ustad karbitan model ngono kui.."
Maka tak heran, jika kucing saya menangis di pojokan kamar mandi karna melihat fenomena kekanak-kanakkan dari masyarakat kita ini. Sambil meneteskan air mata, kucing saya bernyanyi sesenggukkan,
"Ku Menangis... Membayangkan...
Betapa kejamnya dirimu atas dirikuu..."
Komentar
Posting Komentar