Dilema jadi seorang perempuan itu kerap disalahkan atas apa yang terjadi pada diri laki-laki.
Misalnya, kasus yang akhir-akhir menjadi perbincangan hangat, "catcalling". Catcalling merupakan bentuk pelecehan seksual di ruang publik, biasanya dilakukan di jalanan atau fasilitas umum lainnya.
"Terdapat nuansa seksual dalam ucapan, komentar, siulan, atau pujian, kadang-kadang disertai kedipan mata. Korban merasa dilecehkan, tak nyaman, terganggu, bahkan terteror." Jelas Komisioner Komnas Perempuan, Rainy Hutabarat.
Dan dalam kasus catcalling, lebih banyak cewek yang menjadi korban. Tapi entah apa alasannya, yang kerap disalahkan adalah si pihak ceweknya. Dipikir terlalu cantik, musytaha, menggoda iman dan lain sebagainya.
Ada stigma negatif yang dilekatkan pada diri perempuan. Akhirnya stigmatisasi ini menjadikan perempuan dianggap sebagai sumber fitnah dan penyebab lemahnya iman laki-laki. Mengenai Cara berpakaian, misalnya. Banyak pelaku justru menyalahkan korban catcalling dengan dalih cara berpakaian yang dianggap "mengundang".
Apakah selamanya seperti demikian? Nyatanya banyak ukhti-ukhti kita dengan hijab rapi dan bahkan tertutup juga masih menjadi korban catcalling.
Di jalanan, kita mungkin tidak asing dengan kalimat-kalimat seperti, 'Mbak, senyum doong!?" Atau, "Assalamualaikum ukhti.. sendirian aja.. saya temenin, yuk!?"
"Ihh.. sombongnya, ada salam gk dijawab."
Kaum laki-laki mungkin menganggap bahwa panggilan-panggilan itu hanya sebuah keisengan saja. Apalagi mereka melakukannya secara spontan, sambil tertawa-tawa, dan mereka tidak mengenal para perempuan tersebut. Setelah melakukannya, mereka segera melupakannya. Padahal kalimat-kalimat semacam ini masuk kategori catcalling. Sebab, akan memberikan dampak ketidaknyamanan bagi prempuan.
Catcalling memberikan sebuah pemahaman fakta tentang superioritas laki-laki atas perempuan. Perempuan seolah merasa dibuat tidak nyaman dan tidak aman ketika berada di ruang publik. Dan pelaku seolah ingin mnunjukkan bahwa ruang publik ada di bawah kekuasaan laki-laki2l. Sehingga muncul satu stigma lagi, perempuan lebih pantas di rumah saja, ngurus rumah tangga, masak, nggak usah terlalu, atau mungkin tindakan seksisme (seksisme akan saya jelaskan nanti saja), dan hal-hal lain yang terkesan memberi stigma bahwa perempuan adalah makhluk "lemah". Padahal, keduanya sama-sama memiliki peran sekunder baik secara publik maupun domestik. Kita biasa menyebutnya kesetaraan hak.
Ada satu postingan komen di salah satu channel youtube yang menurut saya menarik:
Mari sejenak kita bertafakur melalui lagu pengalaman "mimpi buruk" si Halsey:
"Come on, little lady, give us a smile"
No, I ain't got nothin' to smile about
I got no one to smile for, I waited a while for
A moment to say I don't owe you a goddamn thing
Komentar
Posting Komentar