Langsung ke konten utama

RAHMATAN LI NETIZIN

Semua sedang menikmati ganasnya permusuhan. Brubuh pertikaian. Pada suatu masa ketika orang-orang sibuk mendesain bilik ruang gagasan dan prinsip pemahamam.

Mereka menutup rapat ventilasi-ventilasi dan pintu keterbukaan pemikiran. Terkotak-kotak oleh pemahaman, tersekat fanatisme, terhalang satir kebencian.


Satu sama lain melemparkan hujatan, menghunuskan umpatan kasar, menembakkan ancaman menyedihkan. "Dasar keparat... Biadab... Tak ada akhlak... Mati saja kau" Dan ragam cercaan kotor lantang terucapkan.


Penista.. Penista.. Penista...
Saling tuduh menuduh satu dengan lainnya.
"Kau menistakan agama kami, kau menistakan junjungan kami" berulang-ulang dijejalkan dengan penuh murka.
Terjadi ricuh perang komentar bar-bar di sosial media.
Jika televisi dipenuhi tayangan sinetron dan drakor, sosial media dipenuhi hujatan, ancaman, dan teror.


Atas nama cinta dan pembelaan lahirlah sikap amarah yang menggebu-gebu. Yang merasa dilukai menjadikan emosi sebagai peluru. Menyerang si "penista" dengan penuh nafsu.


Lantas di mana letak Rahmat, cinta kasih, pemaaf, dan sifat-sifat lembut lain yang sering digaungkan. Apakah sebatas kosakata indah yang tampak manis dan bijak bila diperdengarkan. Masihkah bijak mencari siapa yang pantas dibenarkan dan siapa yang layak disalahkan? Saat benar dan salah memiliki definisi yang berbeda antara satu pihak dengan pihak lainnya?  Apalagi saat definisi pemahaman itu dibalut egosime yang menguasai jiwa kebanyakan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.