Semua sedang menikmati ganasnya permusuhan. Brubuh pertikaian. Pada suatu masa ketika orang-orang sibuk mendesain bilik ruang gagasan dan prinsip pemahamam.
Mereka menutup rapat ventilasi-ventilasi dan pintu keterbukaan pemikiran. Terkotak-kotak oleh pemahaman, tersekat fanatisme, terhalang satir kebencian.
Satu sama lain melemparkan hujatan, menghunuskan umpatan kasar, menembakkan ancaman menyedihkan. "Dasar keparat... Biadab... Tak ada akhlak... Mati saja kau" Dan ragam cercaan kotor lantang terucapkan.
Penista.. Penista.. Penista...
Saling tuduh menuduh satu dengan lainnya.
"Kau menistakan agama kami, kau menistakan junjungan kami" berulang-ulang dijejalkan dengan penuh murka.
Terjadi ricuh perang komentar bar-bar di sosial media.
Jika televisi dipenuhi tayangan sinetron dan drakor, sosial media dipenuhi hujatan, ancaman, dan teror.
Atas nama cinta dan pembelaan lahirlah sikap amarah yang menggebu-gebu. Yang merasa dilukai menjadikan emosi sebagai peluru. Menyerang si "penista" dengan penuh nafsu.
Lantas di mana letak Rahmat, cinta kasih, pemaaf, dan sifat-sifat lembut lain yang sering digaungkan. Apakah sebatas kosakata indah yang tampak manis dan bijak bila diperdengarkan. Masihkah bijak mencari siapa yang pantas dibenarkan dan siapa yang layak disalahkan? Saat benar dan salah memiliki definisi yang berbeda antara satu pihak dengan pihak lainnya? Apalagi saat definisi pemahaman itu dibalut egosime yang menguasai jiwa kebanyakan manusia.
Komentar
Posting Komentar