Langsung ke konten utama

PANDEMI MASUK KAMPUNG

Akhir-akhir ini saya merasa sangat bersyukur karena semakin menyadari bahwa tinggal di desa adalah anugrah yang luar biasa yang diberikan semesta kepada sayamnTerlebih ketika menghadapi ancaman krisis seperti pandemi Covid-19 ini. Bagaimana tidak? Bahkan masyarakat desa bisa saja tidak perlu pergi keluar jika hanya untuk makan. Sementara kemewahan itu tidak dimiliki orang kota.
Di desa semuanya real dan kongkrit, kita tidak bisa jualan citra seperti di industri hiburan, misalnya. Segala masalah diselesaikan secara langsung bukan dengan hashtag politik di sosmed.

Ancaman krisis global akhir-akhir ini membuka cakrawala banyak orang tentang ketahanan pangan negara kita, karena negara-negara lain juga menghadapi ancaman krisis yang sama, sehingga mereka pun pelit mengekspor bahan-bahan pangan untuk mengamankan stock dalam negeri masing-masing untuk menghadapi kemungkinan terburuk.


Di Indonesia, tumpuan ketahanan pangan pun akhirnya tertuju pada masyarakat desa yang menghasilkan produk-produk pangan. Kota menjadi nampak sangat ringkih karena eksistensinya rapuh tanpa didukung oleh produktivitas pangan dari desa. Bayangkan saja jika krisis semakin buruk dan petani hanya menanam untuk dirinya sendiri karena uang tidak ada harganya dan tidak ada alasan untuk menjual? Baru sebulan setengah saja sudah banyak sekali yang kehilangan pekerjaan di kota dan memilih pulang ke desa demi bertahan hidup.
Sayangnya ketika situasi normal, negera ini sering meng-anak-tiri-kan potensi desa dengan membanjiri komoditi pangan impor dengan berbagai macam dalih. Semoga setelah krisis ini berakhir, para pengambil kebijakan lebih sadar dan peduli dengan potensi desa kita untuk kedaulatan pangan yang hakiki.


(Tulisan ini saya buat pada bulan Romadon tahun 2020, beberapa waktu setelah Covid-19 masuk ke wilayah saya.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.