Langsung ke konten utama

Gagah Sekali Kang Santri Itu ...!?


Ia duduk.Bukan sekadar beristirahat, tapi sedang menunaikan tafakur. Serambi masjid tua pesantren adalah altar sunyi tempat dirinya mengaji dunia. Bukan dari berita, tapi dari kitab kuning yang tak pernah menawarkan wacana pengetahuan secara instan.

Bajunya adalah arsitektur kegagahani. Dengan motif lipatan seribu. Hasil perjumpaan antara gerakan antri setrika dan almari yang sempit.

Sarungnya? Jatuh dengan gaya seolah punya peredam kejut. Shockbreaker alami membuat setiap langkahnya tenang, meski di bumi penuh lubang.

Peci usangnya adalah mahkota sunyi. Warnanya bukan lagi soal estetika. Tetapi telah menjadi identitas dari mereka yang sabar menempuh jalan lambat. Suatu jalan ketika susunan kalimat arab gundul bisa membuka ribuan jendela perenungan dan wawasan

Di tangan kanannya, sebatang pena tumpul, tanpa tinta, tanpa ambisi, tapi justru di situlah nilainya. Bahwa ia tidak sedang menulis untuk dibaca orang. Melainkan sedang menyusun pribadi mulianya dalam keterdiaman. 

Slembar kertas lusuh terjembreng di hadapannya. Bukan untuk catatan akademik atau daftar target duniawi. Melainkan kertas yang menjadi cermin. Tentang siapa dia, sejauh mana ia bertumbuh, sejauh mana ia tahu bahwa menjadi tahu bukan jaminan akan menjadi utuh.

Karena pagi itu, ia bukan sekedar belajar. Ia sedang tenang di tengah riuh. Bercengkerama dengan mimpi. Berzikir dengan pena. Bermesraan dengan harapan. Menjaring isyarat-isyarat maknawi dari teks-teks salaf rumit dengan segudang makna.

Baginya, kitab kuning itu, bukan dokumen hukum. Ia adalah kalam langit, yang diturunkan lewat lidah para ulama untuk menuntun manusia yang sering lupa arah pulang.

Santri itu bukan sedang menyiapkan diri untuk menjadi ustadz, kyai, atau tokoh agama.Ia hanya ingin jadi manusia.Yang utuh. Yang lurus. Yang Menebarkan nilai kebermanfaatan dirinya. Yang tahu bahwa kesalehan tidak bisa dipoles dan kejujuran tidak bisa dicetak massal dan instan. 

Pagi itu dan hari hari seterusnya, dia menambatkan diri pada satu payung yang tak pernah bocor. Antara ridho guru, restu ibu-bapak, dan rahmat Tuhan yang tak terdefinisi oleh akal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.