Ia duduk.Bukan sekadar beristirahat, tapi sedang menunaikan tafakur. Serambi masjid tua pesantren adalah altar sunyi tempat dirinya mengaji dunia. Bukan dari berita, tapi dari kitab kuning yang tak pernah menawarkan wacana pengetahuan secara instan.
Bajunya adalah arsitektur kegagahani. Dengan motif lipatan seribu. Hasil perjumpaan antara gerakan antri setrika dan almari yang sempit.
Sarungnya? Jatuh dengan gaya seolah punya peredam kejut. Shockbreaker alami membuat setiap langkahnya tenang, meski di bumi penuh lubang.
Peci usangnya adalah mahkota sunyi. Warnanya bukan lagi soal estetika. Tetapi telah menjadi identitas dari mereka yang sabar menempuh jalan lambat. Suatu jalan ketika susunan kalimat arab gundul bisa membuka ribuan jendela perenungan dan wawasan
Di tangan kanannya, sebatang pena tumpul, tanpa tinta, tanpa ambisi, tapi justru di situlah nilainya. Bahwa ia tidak sedang menulis untuk dibaca orang. Melainkan sedang menyusun pribadi mulianya dalam keterdiaman.
Slembar kertas lusuh terjembreng di hadapannya. Bukan untuk catatan akademik atau daftar target duniawi. Melainkan kertas yang menjadi cermin. Tentang siapa dia, sejauh mana ia bertumbuh, sejauh mana ia tahu bahwa menjadi tahu bukan jaminan akan menjadi utuh.
Karena pagi itu, ia bukan sekedar belajar. Ia sedang tenang di tengah riuh. Bercengkerama dengan mimpi. Berzikir dengan pena. Bermesraan dengan harapan. Menjaring isyarat-isyarat maknawi dari teks-teks salaf rumit dengan segudang makna.
Baginya, kitab kuning itu, bukan dokumen hukum. Ia adalah kalam langit, yang diturunkan lewat lidah para ulama untuk menuntun manusia yang sering lupa arah pulang.
Santri itu bukan sedang menyiapkan diri untuk menjadi ustadz, kyai, atau tokoh agama.Ia hanya ingin jadi manusia.Yang utuh. Yang lurus. Yang Menebarkan nilai kebermanfaatan dirinya. Yang tahu bahwa kesalehan tidak bisa dipoles dan kejujuran tidak bisa dicetak massal dan instan.
Pagi itu dan hari hari seterusnya, dia menambatkan diri pada satu payung yang tak pernah bocor. Antara ridho guru, restu ibu-bapak, dan rahmat Tuhan yang tak terdefinisi oleh akal
Komentar
Posting Komentar