Langsung ke konten utama

JIHAD SANTRI JAYAKAN NEGERI

22 oktober 1945 silam
Fatwa resolusi jihad bergema dari tanah jombang

Seruan jihad fi sabilillah dari mbah yai hasyim asyari kepada umat muslim santer mengguncang

Di tiap sudut wilayah kota maupun pelosok desa terasa menggetarkan

Dari mulut ke mulut, dari surau ke surau, masjid ke masjid fatwa agung itu tersebarkan

Mencegat agresi kembalinya para penjajah perampok kemerdekaan

Demi satu tekad Hubbul Wathon Minal iman

Bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman

Pekikan takbir dari kaum sarungan

Bergemuruh di langit surabaya terdengar lantang diteriakkan

Dipimpin kiai hasyim tebu ireng, kiai asad sidogiri, kiai abbas buntet, kiai mahrus lirboyo, kiai sidiq jember, kiai munasir mojokerto, kiai bisri rembang, kiai amin cirebon dan para kiai-kiai hebat melakukan pergerakan

Bersama pasukan ribuan santri laskar hizbullah dan sabillah gegap gempita menumbukkan semangat perjuangan

Siap berperang sampai darah penghabisan

Melawan asap-asap senjata para penjajah menyeramkan

Menikam setiap gempuran senjata dengan segenap perlawanan

Seiring orasi menggelegarkan dari Bung Tomo

Mematrikan semangat nekat perjuangan arek-arek Suroboyo

Bahu membahu dalam upaya meluluhlantakkan kembalinya para penjajah tanpa peduli nyawa hilang menjadi resiko

Mati terhormat lebih ku inginkan daripada hidup dalam cengkraman penjajahan

Teriak para santri dengan peluh dan payah yang tak terperikan

Allahu akbar.. Allahu akbar

Para santri dan kiai tak sedikitpun mereka gentar

Demi merah putih yang selamanya akan terus berkibar

***
SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.