Sekeruh dan sekacau apa NU Kok acapkali menjadi obrolan bernuansa rasan-rasan di kalangan jamaah sipilnya. Apalagi kalau sudah menyandingkan jamiyah mulia ini dengan masalah bangsa dan negara, yang katanya, sudah terlalu jauh dari maqashid sang muassis.
Hei, bukankah NU dulu lahir dengan semangat untuk memperjuangkan hak dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegeara.
Ketika mereka berani menampar para pemimpin-pemimpin yang bengis. Memperjuangkan kebebasan beribadah di negeri makkah. Menolak keras penghancuran situs bersejerah.
Belum lagi seruan fatwa jihad untuk membasmi para penjajah.
Bahkan, dengan rasa kewibawaannya betapa NU dulu lebih memilih bersitegang dengan para penguasa. Demi apa? Demi memperjuangkan hak-hak dan keadilan bagi bangsa.
Sekarang yang terjadi, versi gibahan itu, justru sebaliknya. Terlalu banyak noda noda membandel yang melekat di tubuh jamiyah yang sudah seabad ini. Noda yang dipenuhi dengan nafsu kepemimpinan, jabatan, persaingan, dan aghrod duniawiyah lainnya.
Apakah NU sekarang sedikit gagal merawat ide sang muassis. Bahwa Nahdlatul Ulama yang diharapkan menjadin suatu ide berbangsa yang sangat murni dan jernih, justru dikeruhkan oleh para oknum elitenya sendiri dengan rumitnya kepentingan dan saling kisruh yang sering dipertontonkan di media sosial.
Prinsip perjuangan NU yang bernafaskan khidmah, malah dijadikan arena sleding tekle sana sini.
Rasa-rasanya kebersamaan dalam mencapai maslahat ammah, menjaga akidah, meninggikan kalimat allah, dan mempersatukan bangsa tak lebih penting dari keegoisan yang ditimang dan dirawat sedemikian rupa.
Alih-alih menyemaikan ukhuwah seperti yang digaungkan kepada para anggota jamiyyahnya, justru seperti slogan murahan bagi para atasannya. Atau kita perlu mathlaah kembali Muqaddimah Qanun Asasi nya hadratussyekh? Bahwa untuk mencapai suatu tujuan yang berkelanjutan, umat mestilah bersatu dan menguburkan segala ego pribadinya jika tidak ingin kehancuran demi kehancuran seperti umat terdahulu.
Sudah barang tentu, saya tidak se gus dur dan se gus mus itu untuk menawarkan pandangan bijak tentang arah NU untuk menjadi lebih sakral sebagaimana semboyan kembali ke khittah yang sering digaungkan di setiap pertemuan-pertemuan itu.
Tapi setidaknya, hanya satu yang bisa saya ndlemingkan tentang fenomena ini. Bahwa meredam gaduh riuh ini tak melulu tentang tentang orang-orangnya, melainkam cara pandangnya. Bahwa Kekuatan NU tidak seharusnya diukur dari seberapa dekat ia dengan kekuasaan, tetapi dari seberapa besar ia mampu menggunakan kewibawaannya untuk kepentingan yang lebih besar daripada kekuasaan itu sendiri. Bukan tentang kepentingan pribadi. Bukan tentang ambisi kebinatangan, dan keegoisan yang meretakkan ukhuwah di dalam rumah besarnya sendiri.
Maka mari kembali ke titik utama persoalan ini. Untuk apa NU didirikan dan apa yang sedang direbut dan diperjuangkan?
Atau gimana aja lah meningnya?
Wallahu A'lam
Komentar
Posting Komentar