Semalam sebelum tidur, saya mendengarkan podcast di channel YouTube Helmy Yahya Bicara. Dpandu oleh Helmy Yahya sosok yang dikenal luas dengan wawasan umumnya. Dengan bintang tamu Gofar Hilman, seorang podcaster sekaligus pimpinan Grindboys yang dikenal piawai mengobrol ngalor-ngidul.
Hal yang menarik perhatian saya adalah ketika Helmy Yahya, yang kini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Konten Kreator Indonesia, mengemukakan inisiatif tentang pentingnya sertifikasi keahlian bagi para konten kreator. Terutama ketika mereka membahas topik-topik yang memang membutuhkan kompetensi khusus. Seperti kesehatan, hukum, agama, dan beberapa lainnya.
Gagasan ini berangkat dari keresahan atas maraknya konten yang dibuat tanpa dasar keilmuan yang memadai. Akibatnya, tidak sedikit yang memicu konflik, perang antar buzzer, kesalahpahaman, hingga penggiringan opini yang sulit dikendalikan. Seolah-olah, setiap orang bebas berbicara tanpa “rem. Bahkan pada hal-hal yang bukan bidang keahliannya.
Fenomena ini kemudian berkembang menjadi sikap sok tahu, yang pada akhirnya memperkeruh suasana di media sosial.
Gofar Hilman pun mengajukan kritik, “Bukankah ini justru akan mengekang kebebasan berpendapat seseorang?”katanya.
Menurut Helmy Yahya, kritik semacam itu memang sudah muncul sejak awal. Dan memang, dalih “kebebasan” kerap dijadikan payung untuk menyampaikan berbagai hal tanpa mempertimbangkan apakah seseorang benar-benar memahami esensi yang dibicarakan.
Padahal, kebebasan itu bersifat relatif. Kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Artinya, kebebasan tidak pernah benar-benar absolut. Oleh karena itu, sebelum mengomentari suatu topik, sudah semestinya seseorang memiliki pemahaman yang cukup mendalam agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti yang dikhawatirkan. Sekali lagi, bukan semua topik.
Sebab seperti yang sudah kita pahami media sosial saat ini telah menjadi bagian integral dalam kehidupan. Sayangnya, hal ini juga membuat banyak orang merasa menjadi “ahli” hanya dengan bermodalkan potongan video berdurasi singkat. Informasi yang beredar sering kali berasal dari cuplikan yang sudah dipotong, diunggah ulang, bahkan kehilangan konteks utuh dari peristiwa aslinya.
Akibatnya, untuk membahas kesehatan, seseorang merasa tak perlu lagi menempuh pendidikan panjang atau memiliki STR. Untuk berbicara soal agama, tak perlu belajar ilmu alat, memperdalam kitab, atau berguru kepada ulama. Bahkan dalam bidang hukum, proses akademik dan praktik yang kompleks seolah bisa dilewati begitu saja.
Padahal, topik-topik tersebut memiliki dampak besar terhadap masyarakat. Idealnya, mereka yang membahasnya memiliki dasar keilmuan yang kuat, bahkan teruji secara formal.
Dari sinilah persepsi dibangun, opini dibentuk, dan kemudian disebarkan seolah-olah sebagai kebenaran yang utuh.
Fenomena ini tentu bukan hal sepele. Ketika informasi dipahami secara setengah-setengah lalu disampaikan dengan penuh keyakinan maka yang lahir bukan lagi diskusi sehat. Melainkan kebisingan yang sulit dikendalikan. Setiap orang merasa benar. Setiap pihak merasa paling tahu. Sejurus kemudian ruang dialog berubah menjadi arena saling serang.
Jika ditarik lebih dalam, persoalannya bukan semata soal boleh atau tidaknya seseorang berbicara. Melainkan tentang tanggung jawab dalam berbicara. Di sinilah letak urgensi gagasan dari mantan host kuis Siapa Berani dan mantan Direktur Utama TVRI tersebut bukan untuk membungkam. Tetapi untuk menyadarkan bahwa setiap kata memiliki dampak dan setiap opini membawa konsekuensi.
Komentar
Posting Komentar