Orang-orang memanggilnya si Sudrun
Pria berwajah kusam kusut payah
Sosok asing dari tanah antah berantah
Tinggal di gubuk reyot pinggiran pematang sawah
Hanya Sendiri berteman kesah
Raut muka masam penuh resah
Entahlah
Garis hidup apa yang membawanya menjadi susah
Sudrun selalu nampak muram
Pakaian kumal tampak kusam
Seolah Tak pernah dilepasnya barang sejam
Rambut sudah tak lagi berwarna hitam
Sudrun selalu memberi kesan sosok seram
Layaknya pendendam yang begitu kejam
Tidakkah sudrun punya teman
Tidakkah sudrun punya pasangan
Tidakkah sudrun punya handai taulan
Orang-orang masih tak punya jawaban
Sudah lama kami diselimuti keheranan
Coba sana kau ke sana pagi hari
Temui sudrun yang masih duduk sendiri
Sembari hanya diam di depan rumah sampai ashar nanti.
Kau hendak menyapa "selamat pagi"
Atau sekedar tabik melambai
Aku harap kau tidak melakukan hal ini
Atau kau hanya akan menerima sakit hati
Sebab ia akan abai dan tak peduli.
Bahkan ia bisa saja melukai
Dan menyakiti tak berperi.
Pak RT sempat membawa dokter untuk memeriksanya
Barangkali sudrun sedang mengalami gangguan jiwa
Pak Yatno sempat ingin melaporkan ke Bhabinsa
Berharap dia dibawa polisi masuk penjara
Dengan alasan membuat resah warga desa
Kiai Sobirin pernah merukyahnya
Barangkali dia sedang dirasuki jin pohon mangga
Eyang Joko Supeno juga berperan selanjutnya
Menaburkan bunga sesajen dan merapalkan mantra
Sayang semuanya sia-sia
Tingkah laku Sudrun masih seperti biasa
Sebagaimana hari sebelumnya
Aku masih ingat
Saat itu hari jumat
Desaku digegerkan oleh peristiwa dahsyat
Gumam orang tentang sudrun yang sedang kumat
Coba kau lihat
Dalam waktu semalam yang begitu singkat
Rumah reyot milik Sudrun hilang begitu cepat
Pun si sudrun juga tidak lagi terlihat
Sampai aku menulis sajak ini
Hilangnya sudrun masih menjadi misteri.
Komentar
Posting Komentar