Langsung ke konten utama

HIKAYAT SI SUDRUN

Gambar ilustrasi from PINTEREST

Orang-orang memanggilnya si Sudrun
Pria berwajah kusam kusut payah
Sosok asing dari tanah antah berantah
Tinggal di gubuk reyot pinggiran pematang sawah
Hanya Sendiri berteman kesah
Raut muka masam penuh resah
Entahlah
Garis hidup apa yang membawanya menjadi susah

Sudrun selalu nampak muram
Pakaian kumal tampak kusam
Seolah Tak pernah dilepasnya barang sejam
Rambut sudah tak lagi berwarna hitam
Sudrun selalu memberi kesan sosok seram
Layaknya pendendam yang begitu kejam

Tidakkah sudrun punya teman
Tidakkah sudrun punya pasangan
Tidakkah sudrun punya handai taulan
Orang-orang masih tak punya jawaban
Sudah lama kami diselimuti keheranan

Coba sana kau ke sana pagi hari
Temui sudrun yang masih duduk sendiri
Sembari hanya diam di depan rumah sampai ashar nanti.
Kau hendak menyapa "selamat pagi"
Atau sekedar tabik melambai
Aku harap kau tidak melakukan hal ini
Atau kau hanya akan menerima sakit hati
Sebab ia akan abai dan tak peduli.
Bahkan ia bisa saja melukai
Dan menyakiti tak berperi.

Pak RT sempat membawa dokter untuk memeriksanya
Barangkali sudrun sedang mengalami gangguan jiwa
Pak Yatno sempat ingin melaporkan ke Bhabinsa
Berharap dia dibawa polisi masuk penjara
Dengan alasan membuat resah warga desa
Kiai Sobirin pernah merukyahnya
Barangkali dia sedang dirasuki jin pohon mangga
Eyang Joko Supeno juga berperan selanjutnya
Menaburkan bunga sesajen dan merapalkan mantra
Sayang semuanya sia-sia
Tingkah laku Sudrun masih seperti biasa
Sebagaimana hari sebelumnya

Aku masih ingat
Saat itu hari jumat
Desaku digegerkan oleh peristiwa dahsyat
Gumam orang tentang sudrun yang sedang kumat
Coba kau lihat
Dalam waktu semalam yang begitu singkat
Rumah reyot milik Sudrun hilang begitu cepat
Pun si sudrun juga tidak lagi terlihat

Sampai aku menulis sajak ini
Hilangnya sudrun masih menjadi misteri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.