Langsung ke konten utama

Kesempatan dan Penyesalan

Sebagaimana ungkapan dari para bestari, "Kesempatan itu hanya datang sekali. Jangan sia-siakan kesempatan yang kamu miliki. Sebelum dia hilang begitu saja."
Tampaknya, saya punya jalan persepsi lain dengan untaian kalimat bijak itu. Sebab bagi saya, adakalanya kesempatan bisa datang berkali-kali. Kesempatan yang sama tentunya.
Misalnya tentang rasa sesal. Penyesalan yang muncul setelah kita melakukan tindakan keliru, ceroboh, lalai, dan lain sebagainya. Saya  memahami, bahwa penyesalan adalah bagian dari salah satu wujud kesempatan itu sendiri. Kesempatan agar kita bisa melakukan rasa sesal dengan berbagai cara.
Tuhan sangat berbaik hati, bukan? Ketika kita melakukan kesalahan, kelalaian, dosa, Dia masih memberikan kita waktu untuk menyesal. Tidak lain, agar rasa sesal yang memeluk kita menjadikan kita sebagai sosok yang lebih baik dengan tidak lagi melakukan dosa maupun kesalahan lainnya.
Bukankah sikap bodoh adalah saat kita mengulang kembali kekeliruan yang kita sesali. Belajar dari pengalaman, selalu bermuhasabah diri, dan taubat sebenar-benarnya.
Itu sekedar pemahaman saya.

Wallahu a'lam

[*Tulisan ini saya buat pada 21 Januari 2017 dengan gubahan seperlunya]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.