Langsung ke konten utama

Ketakutan-Ketakutan

"Jika kita terlalu khawatir dengan langkah yang dibuat, kita tidak akan pernah berani mecoba sesuatu yang baru"
Tere Liye--Bintang

Hidup manusia modern ditandai dengan satu ciri, yakni ketakutan. Di satu sisi, mereka hidup dengan menata masa depan. Mereka takut, jika masa depan mereka kacau, dan hidup mereka pun kacau. Di sisi lain, mereka takut akan masa lalu, karena telah melakukan sesuatu yang mereka sesali.
Rasa takut membuat pikiran kacau. Pertimbangan menjadi kacau. Banyak keputusan pun dibuat dengan kekacauan pikiran. Akhirnya, keputusan-keputusan itu justru menciptakan masalah yang lebih besar.
Pada tingkat tertentu, dampak keputusan yang salah amatlah merugikan. Banyak orang menderita, karena kesalahan keputusan yang dibuat, baik oleh dirinya sendiri, orang lain, kelompok, sekolah, pemerintah maupun pihak-pihak lain yang berada pada ruang lingkungannya. Sayangnya, banyak keputusan tersebut dibuat atas dasar rasa takut akan masa depan. Rasa takut mengaburkan kejernihan berpikir, dan memperbesar masalah yang sudah ada sebelumnya.
Rasa takut juga menciptakan penderitaan batin yang besar. Banyak orang terjebak di dalam depresi, karena rasa takut yang berlebihan. Banyak orang jatuh ke dalam lembah buruk negatif, misalnya. Karena penderitaan batin dan rasa takut di dalam hati mereka. Orang yang menderita cenderung kejam tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada orang lain. Wallahu alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.