Langsung ke konten utama

METAMORFOSA

Dan setiap aku menutup dan kemudian membuka ke dua mata, daun-daun seolah sudah mulai enggan untuk kembali ke rantingnya masing-masing. Jatuh begitu saja. Waktu selalu beralih dari satu masa ke masa yang lain. Pun metamorfosa juga telah mengubah seekor kepompong menjadi kupu-kupu. Terbang sedemikian jauh meninggalkan tempat persemayaman awalnya.

Dan laiknya kisah yang ada dan tertulis. Mudah saja semua mengalir, melaju di atas alurnya masing-masin. Dan tak sedikit di antara kita yang acapkali menemui ragam kisah pelik dan menyesakkan.

Tidak masalah. Aku hanya berharap dan berbaik sangka pada waktu, agar aku tak lagi menemui suasana-suasana lalu yang cukup merugikan. Sebab, aku tak ingin melakukan kesalahan lagi. Terjerembab di kubang lumpur yang sama. Menemui terjal yang akan membuatku putus asa. Menemui penderitaan itu lagi. Merasakan sayatan luka itu.

Benar. Saya hanya ingin tenang dalam kesendirian. Mengasingkan diri dari keramaian. Menulikan telinga dari kebisingan.

Hei, ini bukanlah cara pengecut. Kau harus tahu itu. Ya, aku bukanlah pengecut. Aku hanya tak ingin fikiranku dijejali oleh ilusi senyum dan kerling mata lentik yang menggangguku setiap waktu.
Itu saja.

... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
(Memeluk Fatamorgana)

Kau lagi
Membayang
Hadir begitu saja
Selalu dan setiap waktu
Senyum manis terlihat di pelupuk mata
Terlihat menawan parasnu dalaam kegelapan
Keindahan yang kau ciptakan masih terang terlihat.

Ya,
Lagi-lagi tentang kau
Keanggunan di antara ilusi
Menyibak setiap pikiran-pikiran
Sekilas hadir dan enyah begitu saja kemudian

Masih tentang kau,
Melukis indah di kanvas lamunan
Mencipta nuansa harmoni memancarkan kesejukan
Meski sesaat lenyap menyisakan ruang fikiran menelanjang


[*Tulisan ini saya buat pada 30 Desember 2016]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.