Dan setiap aku menutup dan kemudian membuka ke dua mata, daun-daun seolah sudah mulai enggan untuk kembali ke rantingnya masing-masing. Jatuh begitu saja. Waktu selalu beralih dari satu masa ke masa yang lain. Pun metamorfosa juga telah mengubah seekor kepompong menjadi kupu-kupu. Terbang sedemikian jauh meninggalkan tempat persemayaman awalnya.
Dan laiknya kisah yang ada dan tertulis. Mudah saja semua mengalir, melaju di atas alurnya masing-masin. Dan tak sedikit di antara kita yang acapkali menemui ragam kisah pelik dan menyesakkan.
Tidak masalah. Aku hanya berharap dan berbaik sangka pada waktu, agar aku tak lagi menemui suasana-suasana lalu yang cukup merugikan. Sebab, aku tak ingin melakukan kesalahan lagi. Terjerembab di kubang lumpur yang sama. Menemui terjal yang akan membuatku putus asa. Menemui penderitaan itu lagi. Merasakan sayatan luka itu.
Benar. Saya hanya ingin tenang dalam kesendirian. Mengasingkan diri dari keramaian. Menulikan telinga dari kebisingan.
Hei, ini bukanlah cara pengecut. Kau harus tahu itu. Ya, aku bukanlah pengecut. Aku hanya tak ingin fikiranku dijejali oleh ilusi senyum dan kerling mata lentik yang menggangguku setiap waktu.
Itu saja.
... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
(Memeluk Fatamorgana)
Kau lagi
Membayang
Hadir begitu saja
Selalu dan setiap waktu
Senyum manis terlihat di pelupuk mata
Terlihat menawan parasnu dalaam kegelapan
Keindahan yang kau ciptakan masih terang terlihat.
Ya,
Lagi-lagi tentang kau
Keanggunan di antara ilusi
Menyibak setiap pikiran-pikiran
Sekilas hadir dan enyah begitu saja kemudian
Masih tentang kau,
Melukis indah di kanvas lamunan
Mencipta nuansa harmoni memancarkan kesejukan
Meski sesaat lenyap menyisakan ruang fikiran menelanjang
[*Tulisan ini saya buat pada 30 Desember 2016]
Komentar
Posting Komentar