Menghujat takdir yang pernah membuat hatimu teriris
Terlalu sesak untuk perlahan kau kikis
Sampai sekian tahun sayat luka itu cukuplah tragis.
Ingatanku menemui ruang sesak ini lagi.
Berkelindan di jeda kisah perpisahan.
Aku masih ingat.
Debur ombak pesisir pantai suatu pagi
Kala kaki-kaki kecil riang berlari
Juga sepasang kekasih bercengkrama mesra dengan mentari.
Kesiur angin laut semakin menambah suasana damai
Sering burung mengepak terbang menari
Ah, pagi itu begitu indah untuk dinikmati.
Hanya menunggu waktu sesaat.
Ketika Ombak itu tak lagi bersahabat
Saat Gemuruh air deras menerjang si kaki-kaki kecil berjingkat.
Di kala Deras air menerjang sakit.
Tak ayal Meluluhlantahkan jiwa yang sedari tadi histeris menjerit.
"Ibu... Di mana kau..."
Teriak bocah kecil disedu air mata.
Mencari tangan kasih dari sang bunda.
Badai menerjang mimpi mereka.
Terseret arus bersama kesedihan yang melanda.
Tertatih langkah kaki orang tua
Berteriak mencari perlindungan Tuhan.
Semesta mendoa
Pada mereka yang harus kehilangan keluarga.
"Adakah janji tuhan telah tiba.
Hari terakhir kehidupan umat manusia.
Sudahi hidupku saat ini juga..."
Gumam orang tua di dalam mihrab mesjid yang sudah menua
"Hei lihat, Tuhan melindungi rumah-Nya!!"
Teriak kakek tua bertopang runtuhan sisa bangunan rumahnya.
Seraya berlarian melawan arus deras air dan genang darah yang tersisa.
Mendung pekat awan menghitam
Gemuruh murka dari semesta menyirat kelam
Rumput tak lagi bergoyang
Burung tak lagi menari terbang
Rubuh penuh ricuh
Pedih tak berperi
Saat keindahan ditelan kesedihan
Hancur luluh seketika
Seakan tiada yang tersisa
Duka merubah tawa
Tangis mengisakkan kata
Sedu sedan penuh muram durja
Deras air menenggelamkan bahagia
Terseret
tergurat di antara puing yang tersisa
Dan..
Ketika tak ada lagi kata untuk kita eja
Maka air mata menjadi bahasa penuh makna
[Tulisan ini saya buat pada 26 Desember 2019. 13 Tahun pasca tragedi Tsunami Aceh]
Komentar
Posting Komentar