Langsung ke konten utama

Musibah... Enyah!

Masihkah kau menangis

Menghujat takdir yang pernah membuat hatimu teriris
Terlalu sesak untuk perlahan kau kikis
Sampai sekian tahun sayat luka itu cukuplah tragis.

Ingatanku menemui ruang sesak ini lagi.
Berkelindan di jeda kisah perpisahan.

Aku masih ingat.
Debur ombak pesisir pantai suatu pagi
Kala kaki-kaki kecil riang berlari
Juga sepasang kekasih bercengkrama mesra dengan mentari.
Kesiur angin laut semakin menambah suasana damai
Sering burung mengepak terbang menari
Ah, pagi itu begitu indah untuk dinikmati.

Hanya menunggu waktu sesaat.
Ketika Ombak itu tak lagi bersahabat
Saat Gemuruh air deras menerjang si kaki-kaki kecil berjingkat.
Di kala Deras air menerjang sakit.
Tak ayal Meluluhlantahkan jiwa yang sedari tadi histeris menjerit.

"Ibu... Di mana kau..."
Teriak bocah kecil disedu air mata.
Mencari tangan kasih dari sang bunda.
Badai menerjang mimpi mereka.
Terseret arus bersama kesedihan yang melanda.

Tertatih langkah kaki orang tua
Berteriak mencari perlindungan Tuhan.
Semesta mendoa
Pada mereka yang harus kehilangan keluarga.

"Adakah janji tuhan telah tiba.
Hari terakhir kehidupan umat manusia.
Sudahi hidupku saat ini juga..."
Gumam orang tua di dalam mihrab mesjid yang sudah menua
"Hei lihat, Tuhan melindungi rumah-Nya!!"
Teriak kakek tua bertopang runtuhan sisa bangunan rumahnya.
Seraya berlarian melawan arus deras air dan genang darah yang tersisa.

Mendung pekat awan menghitam
Gemuruh murka dari semesta menyirat kelam
Rumput tak lagi bergoyang
Burung tak lagi menari terbang

Rubuh penuh ricuh
Pedih tak berperi
Saat keindahan ditelan kesedihan
Hancur luluh seketika
Seakan tiada yang tersisa

Duka merubah tawa
Tangis mengisakkan kata
Sedu sedan penuh muram durja
Deras air menenggelamkan bahagia
Terseret
tergurat di antara puing yang tersisa

Dan..
Ketika tak ada lagi kata untuk kita eja
Maka air mata menjadi bahasa penuh makna


[Tulisan ini saya buat pada 26 Desember 2019. 13 Tahun pasca tragedi Tsunami Aceh]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.