Dulu, aku pernah bertanya sendiri dalam gelap. Apa beda setetes air di ujung daun dengan sebutir debu di dinding kusam. Dulu aku masih belum menemukan jawabannya. Tapi sekarang, aku telah menemukan jawabannya.
Tidak ada. Tidak ada yang beda. Keduanya sama-sama mensucikan. Meski hakikat dan fisiknya berbeda, keduanya sama-sama dari kuasa Tuhan.
Dulu, aku bertanya sendiri dalam sesak. Apa beda tau dan tidak tau? Kenal dan tidak kenal? Ada dan tidak ada? Apa beda sekarang dan kemarin? Esok dengan lusa dan baru saja?
Ah, sampai sekarang aku juga belum mengetahui banyak hal.
Begitu banyak potongan-potongan pertanyaan. Tapi tidak mengapa. Setidaknya aku masih bisa melihat, mendengar, dan berpikir.
Atau mungkin masih ada banyak hal yang membutakan diri, menulikan kepala, dan membebalkan hati.
(Saya tulis pada 25 Desember 2016. Dan disarikan dari novel "Moga Bunda di Sayang Allah" karya Tere Liye. )
Komentar
Posting Komentar