Langsung ke konten utama

SPORADIS; Ada Apa Dengan Hasrat

(gambar Ilustrasi from pinterest/ link: https://pin.it/2alR2By)


Selamat datang di dunia imajinasi luar biasa tak berkira.


Bahwa kenyataan tak harus berbanding lurus dengan logika. Karna ternyata kita punya dunia sendiri yang tercipta dan kadang berbeda.


Bahwa sajak tak harus memiliki pola keteraturan rima. Karna ternyata penyair mampu menampilkan keindahan dari rangkaian kata tak teratur dan tak berpola.


Bahwa hujan tak harus turun bersama mendung pekat gulita. Karna ternyata terik panas menyengat mampu menurunkan hujan sedemikian derasnya.


Bahwa kenikmtan kopi tak harus diseduh dengan takaran gula sesuai selera. Karna ternyata menuangkan gula bergram-gram sendok makan mampu menciptakan aroma kopi luar biasa.

Bahwa terkadang lucu tak harus menuntut orang lain tertawa. Karna terkadang tawa adalah bagian lain dari tangis air mata.


Bahwa keberhasilan tak harus memerlukan usaha untuk menuntut ilmu sampai negeri Cina. Karna terkadang si bento bodoh lebih layak mendapat beasiswa.


Bahwa orang sukses tak harus memiliki uang banyak dan kaya raya. Karna terkadang hutang si kaya juga menumpuk sedemikian banyaknya.


Bahwa laki-laki tak harus mencintai wanita. Begitu juga sebaliknya. Karena terkadang sepasang lelaki bisa saling menjalin cinta. Dan sepasang wanita mampu menjalin hubungan asmara.


Bahwa kehidupan manusia punya ketidaksamaan jalan dan jangka.

Bahwa dunia punya berbagai macam pola

Bahwa perbedaan mampu diramu dengan cinta, meski tak harus dipaksa sama


Dan ternyata malam ini adalah bagian dari malam-malam sebelumnya.

Bahwa keluhan dan imajinasimu masih dengan pola yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.