Langsung ke konten utama

Beban Berat Kenyataan

Ternyata berat tidak melulu soal angka hitungan.
Bukan sekedar kilogram beban yang kau pikul dan kau tahan.

Bukan perihal wujud benda yang mendidih dan besar menimpa.
Membuatmu tersungkur tak bisa bangkit menahannya.

Bahwa jika definisi yang kau jabarkan berdasarkan asumsi,
Sesungguhnya ada banyak makna dari segala hal yang tidak kau pahami.

***
"Lemah tetap menari.. Langkahku... Mencoba tetap berdiri, ku menangis... Masih tetap mencari jalanku. Memahami beban itu." Membebaniku-Noah
***

Tentang sikap menerima kenyataan.
Mungkin sebagian dari kita akan menganggapnya sebagai beban.

Menjadi hal terberat bagi kita untuk menerimanya dengan lapang.
Terlebih jika kenyataan pahit yang bertandang.

Atau hal-hal membosankan, menyedihkan, dan beragam kenyataan sesak lainnya.
Terlalu sulit bagi kita untuk berdamai dan menerima.

Apa lagi yang akan kita lakukan?
Hendak marah dan protes kepada Tuhan?
Marah atas ketidakbaikkan yang kita rasakan?

Marah dan mengatakan Tuhan tidak adil?
Perihal masalah hidup yang sebenarnya hanya secuil?

Tidak,
Tidak demikian yang terjadi.
Aku masih yakin bahwa Tuhan begitu adil pada seluruh makhluk-Nya di alam ini.
Mungkin kita masih terlalu tebal untuk memahami.
Buram atas letak keadilan Tuhan Yang Maha Tinggi.
Atau kita belum begitu memahami
Di manakah keadilan Tuhan itu bersembunyi?

Percaya atau tidak? Itu terserah.
Tapi aku yakin, Tuhan memiliki sifat adil dan begitu agung yang tak bisa kau bantah.



(Tulisan ini saya buat pada 23 Januari 2017)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.