Demi gelas kopi dan ribuan harapan manusia lainnya. Tentang pagi yang masih diselimuti kabut tanya. Fase kesekian tentang si Ling dan Mas Lung yang tengah asyik menikmati kopi. Terjebak perbincangan pagi. Terjerat di lingkar diskusi. Di palung perjuangan ketika kehangatan sudah saling mendesak mimpi.
Siang tiba. Keduanya terjebak di nuansa sederhana. Berpasrah pada keberkahan doa. Terjerembab dalam kecemasan. Berjalan-jalan mengikat harapan.
Mendung sore mulai mewujud. Keduanya masih dirundung murung. Ditikam oleh asumsi-asumsi masa depan. Di peraduan itu mereka masih bergelut dengan kenyataan. Mencari makna syukur dan jutaan persepsi manusia atas hakikat kenikmatan.
Stagnansi keadaan tak mengenal kata jera. Sampai malam menjelang dan mengubur sejuta pikiran manusia.
Komentar
Posting Komentar