Langsung ke konten utama

PERJAMUAN SEBELUM LELAP

Pukul dua belas lewat tiga puluh menit.

Makan malam tentang melepaskan. Tentang perjalanan di suatu kota yang tak pernah dianggap ada.
Aku ingat, eseorang yang pernah duduk di bawah cahaya bintang pernah berkata padaku pada suatu malam, "Sejatinya, hidup ini mungkin adalah perjalanan yang tidak layak untuk dicintai."
"Maksudmu?" Tanyaku heran.
"Kecintaan akan suatu hal yang bersifat tidak abadi, akan mewujud ketiadaan dan berakhir sia-sia. Bukankah Kecintaan pada hal yang fana tidak akan menjanjikan apapun. Terlalu mencintai adalah rasa sedih yang akan menjadi sosok manuisa yg disiram malam."
Sejenak hening dan diam.

"Sudah terlalu banyak kehidupan yang kau lewati," Tegasnya lebih lanjut. "Kita terlalu masyuk menghabiskan rasa senang dalam diri. Sudah terlalu banyak kehilangan menjadi sekumpulan doa yang sengaja dirapalkan pada mimpi yang masih ingin dirajut seindah-indahnya. Ketika mencintai kemungkinan-kemungkinan, maka satu-satunya cara untuk bertahan hanyalah dengan menerima seluruh ketidakmungkinan."

Pukul dua belas lewat empat puluh menit.

Saya semakin ingin lelap dan menutupi wajah dengan selimut. Berharap segera melewati malam ini dengan cepat.

Namun seseorang itu malah beranjak dari tempat duduknya. Memperlambat nada bicaranya. Yang saya ingat, saat itu dia tersenyum dengan deru nafas yang sangat dalam,
"Mau jadi siapapun," Ujarnya pelan, "Tidak akan mengubah apapun. Ya, gaaris perjalanan akan semakin sulit. Bahkan kalau berhenti sebelum titik, segalanya tidak akan jadi utuh seketika setelah sekian lama merapuh..."
"Kau tau?" Tanyanya sambil menatapku. "Seutuh-utuhnya manusia adalah bisa menerima bahwa segala yang hidup adalah tentang kerapuhan dan ketidakberdayaan mengatasi yang rapuh."

Ia berhenti sejenak. Aku menatapnya lebih dalam. Kata-katanya rumit dan aku masih berusaha mencernanya.

"Aku cuma ingin kau tau..." Katanya, "Bahwa kepedihan dan kepergian itu selalu mengiringi harapan dan mimpi besar kita. Jalani saja apa yang menurutmu salah. Tapi ingat, bahwa semesta selalu punya cara."

Pukul satu kurang 10 menit.

Tidak tidak. Aku tidak ingin minum secangkir kopi. Aku tidak ingin memikirkan apapum. Aku sedang tidak berselera untuk membahas apa yang belum mampu aku lakukan.
Ya, aku tahu ternyata hal yang paling sulit adalah memahami bagaimana isi kepala bekerja untuk rasa mampu itu sendiri.
Sudah tidak ada waktu untuk tidak menerima segala yang alpa. Sudah cukup menginginkan segala yang rumpang.

Seseorang itu kemudian pergi dan terbenam menjadi pagi untuk masa yang lalu, kini, dan selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.