Langsung ke konten utama

TERADAPTASI LUKA

Berapa banyak luka yang kau bawa seumur hidup. Dibandingkan dengan anak lain yang melewati pubertas sendirian, ditempa ratusan kegagalan. Sampai akhirnya menjalani hari seperti tanpa tujuan.

Semua terakumulasi dan membuat beberapa orang sinis pada kehidupan. Karena segala kenangan pahit yang seolah-olah tak pernah ada ujungnya. Seringkali mencari pelarian dengan menjalani detik demi detik dengan sibuk dan penuh grusuk.

Berat?

Akhirnya manusia masih menjalani hari seperti biasa. Tidak sadar betapa banyak waktu yang telah berlalu. Awalnya satu, tapi perlahan mereka meniup lilin dengan dua angka. Lalu berubah menjdi kepala dua. Begitupun seterusnya.
Di tengah segala kerusuhan itu, kadang mereka teringat dengan luka lama yang menghasilkan sangkalan demi sangkalan. Sesuatu yang sering diucapkan pada diri sendiri. Dalih berbentuk.

"Akan saya balas lihatsaja nanti..." 
Atau
"Ya sudah, lah... Habis gelap terbitlah terang. Setiap kesulitan ada kemudahan."

Sia-sia. Nyatanya manusia sering tidak berbuat apa-apa. Bahkan terlalu lelah untuk membetulkan masalah yang nyata. Lagi-lagi mereka bersembunyi dengan kedok "Biar waktu yang menjawab."

Saya kira menjadi dewasa itu akan menjadi mengerti segalanya. Siap ketika kran di rumah bocor. Tidak kebingungan saat gas habis di tengah malam saat ingin memasak mie instan. Tahu apa yang akan dilakukan setiap lima sampai sepuluh tahun ke depam. Dan paham atas konsekuensi apa saja atas suatu hal yang telah dijalankan.

Ternyata bukan.

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan fakta yang bertolak belakang dengan pemikiran dan bayangam saya di waktu kecil.

Rupa-rupanya semua orang sama. Mereka yang lebih tua hanya sudah bingung lebih lama. Tentu saja, mungkin itu semua adalah akumulasi dari masalah yang tidak teresolusi dengan baik. Mungkin juga salah satu produk yang dihasilkan dari sibuk mencari alasan karena berharap semesta akan mengambil alih. Apalagi hidup di masa pandemi seperti ini. Menghabiskan waktu dan terdistraksi dengan sesuatu yang tidak terlalu penting, rasanya bukan perkara susah.

Lagi-lagi, di tengah kesibukan akan muncul satu momen yang menyambar seperti petir di siang bolong. Sebuah realisasi yang berujung kontemplasi. Teringat lagi macam-macam dalih yang diucapkan beberapa tahun lalu. Atau terbutakan dengan dengki di saat melihat garis akhir seseorang tanpa memikirkan proses yang mereka lalui sebelumnya.

"Kok mereka bisa, sih..."
 Atau versi yang lebih buruk, "Apa yang salah dari saya?"

Saya rasa, setiap orang membawa luka yang berbeda. Tapi semua luka memiliki beban yang sama. Tidak ada yang lebih nelangsa. Tidak ada yang lebih bahagia. Semua relatif. Tergantung cara pandang dan menjalankannya. Pelan-pelan. Yang penting jalan di tempat bukanlah alasan.

Saya belum lama menjalani hidup. Tapi saya tahu satu hal. Bahwa waktu tidak menyembuhkan. Ia hanya membuat manusia terbiasa dengan semua luka yang ada di tubuhnya. Kalau beruntung, perlahan orang-orang akan mencintai luka itu sendiri.  Menganggapnya sebagai kenangan. Bahwa ada pertempuran lain yang sudah berhasil di lalui.

Mungkin itu bukan makna harfiah "sembuh". Tapi saya rasa itu cukup.

Sampai saat itu, harimu kembali bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.