Langsung ke konten utama

BE YOUR SELF

Kemarin saudara saya baru saja menceritakan padaku tentang anak sulungnya yang baru saja dipromosikan menjadi staf tinggi di tempat kerjanya. Dengan sumringah, beliau berkata bahwa anaknya sudah menemukan apa yang ingin dilakukannya sampai tua nanti.

Di lain hari seorang teman juga bercerita tentang naskah bukunya yang baru saja naik cetak. Tentu saja, aku turut berbahagia mendengar kabar dari mereka berdua.

Tapi rasanya aku begitu kecil jika harus membandingkan diri dengan mereka. Seperti rintik hidup aku hanya bisa berjalan menunduk tanpa ada mimpi yang ku bawa dalam diri.

"Apa yang bisa aku kerjakan?!", Bernyanyi? Ah rasanya suaraku cukup fals dan sumbang parah. Menulis? Ah, aku kurang begitu ahli untuk itu. Berbicara dgn orang banyak kah? Rasa-rasanya tidak itu bukan keahlianku sama sekali.

Lalu apa yang aku mau. Tak punya banyak keahlian seperti ini rasanya menyedihkan sekali. Ketika semua orang sudah tau apa yang harus mereka kerjakan setelah lulus, aku masih saja mencari apa kelebihan dan passion ku.

Aku ingin seperti teman-temanku. Mereka tau apa kelebihan diri dan hal2 yang harus mereka capai setelah ini. sedangkan aku, aku hanya bisa memperhatikan satu persatu mimpi dari orang2 terdekatku. Tanpa mimpi yang ingin aku kejar, tanpa kelebihan diri yang bisa aku banggakan. Lagi-lagi, aku hanya bisa berjalan dengan kepala menunduk karena tujuan yang bahkan tak pernah aku miliki.

Dulu, guruku pernah bilang, Mungkin aku akan menemukan bakatku setelah dewasa. Namun hari ini, du usia yg tak lagi muda, aku masih belum menemukan bakatku juga. Sampai kapan ya.

Ah, tapi buat apa terlalu memaksakan diri. Sudahlah, nanti juga bakat itu akan datang seraya meminta maaf karena terlalu telat mengetuk pintu. Toh, kalaupun dia tak pernah datang, tak ada juga yang memaksaku untuk menjadi hebat, bukan?

Jadi tak usah pikirkan mimpi dan bakat yang tak semenonjol dengan orang di luar sana. selama masih bisa terbangun di pagi hari dan melakukan aktifitasku seperti biasa, kurasa itu semua sudah lebih dari cukup. Selama bisa menjadi manusia sepenuhnya, aku tidak perlu menjelma menjadi siapa-siapa lagi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.