Nderek dawuh atau di masyarakat jawa diistilahkan "sendiko dawuh" adalah suatu perwujudan dari bentuk ketaatan. Taat terhadap dawuh dan sikap dari orang yang dihormati. Terutama masyaikh, guru atau ulama'. Namun harus disertai dengan rasa ikhlas dan harapan mendapatkan keberkahan.
Pada satu kesempatan kelas guru saya pernah mengatakan, dawuh guru itu bukan ranah untuk dipertanyakan, dimusyawarohkan, atau disangsikan. Lantas? Dawuh guru harus diikuti, digugu, ditaati. Dawuh guru harga mati.
Kemudian sebagian kawan berkata, "trus bagaimana dengan guru2 yang berbuat semena-mena, ngawur, dan bahkan tidak layak dijadikan panutan."
Bisa ambil contoh beberapa kasus kekerasan dan asusila yang belakangan terjadi antara beberapa oknum guru dan murid.
Tidak asing di telinga kita, bahwa guru itu artinya digugu dan ditiru. Oleh karena itu jika ada oknum2 yang mengatasnamakan guru tapi melakukan tindakan-tindakan buruk/negatif sebagaimana yang dicontohkan teman saya tadi, maka dia tidak layak disebut sebagai guru.
Sebab seorang guru sejatinya bukanlah yang hanya pandai dalam mentransfer keilmuan, melainkan yang mampu mendidik karakter murid-murid sekaligus memberi contoh suri tauladan yang baik bagi mereka.
Al-Hafidz Hasan Al Mas'udi, dalam karyanya Taisirul Kholaq, menegaskan:
الْمُعَلِّمُ دَلِيلُ التَّلْمِيذِ إِلَى مَا يَكُونُ بِهِ كَمَالُهُ مِنَ الْعُلُوْمِ وَالْمَعَارِفِ فَيُشْتَرَطُ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ ذَوِي الْأَوْصَافِ الْمَحْمُودَةِ لِأَنَّ رُوْحَ التَّلْمِيذِ ضَعِيفَةٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى رُوْحِهِ ، فَإِذَا اتَّصَفَ الْمُعَلِّمُ بِأَوْصَافِ الْكَمَالِ كَانَ التَّلْمِيذُ الْمُوَفِّقُ كَذَلِك
guru adalah penuntun bagi murid untuk meraih kesempurnaan ilmu dan pengetahuan. oleh karenanya, guru dipersyaratkan memiliki sifat-sifat yang baik. Sebab, jiwa murid itu lemah, dibanding dengan jiwa gurunya. Ketika guru memiliki sifat-sifat sempurna maka muridpun akan mengikuti sifat gurunya itu."
(Taisirul Kholaq, hal. 4)
Wallahu A'lam.
Komentar
Posting Komentar