Langsung ke konten utama

TENTANG KAMI, NUSANTARA LIRBOYO 2020 (Wisudawan Mahad Aly Lirboyo Tahun 2020)

Falsafah Nusantara

Nama ini bermula dari pemahaman kita. Tentang segala keterkaitan antara kehidupan pesantren, budaya, dan sosial masyarakat Indonesia.
Keteguhan dalam mengikuti tradisi salafussolih melalui pembacaan dan kajian literatur klasik (kitab kuning) menjadi satu pondasi utama. Menjaga nilai-nilai moralitas dan keberadaban menjadi satu cita-cita.
Dan Lirboyo adalah satu dari sekian contoh Pesantren yang aktif berperan dalam mewujudkan ini semua.

Latar belakang sosio-kuktur lirboyo tak lepas dari segala keragamannya. Santri dari penjuru Sabang-merauke bertemu dan melebur menjadi satu ikatan keluarga. Segala perbedaan adat, suku, dan bahasa melebur dalam satu atap yang sama. Bhineka tunggal ika tidak sekedar menjadi semboyan semata. Justru ia telah terpatri dalam keseharian mereka.

Inilah nusantara, saat segala perbedaan itu bertemu untuk mencapai satu tujuan yang sama. Berbeda-beda namun tetap satu jua. Bersama teman-teman santri kita belajar arti menghargai dan toleransi. Sebagai satu tradisi yang sudah selayaknya menjadi jati diri. Dan Nusantara Lirboyo adalah wajah kecil dari kehidupan masyarakat bumi pertiwi.

Membicarakan Nusantara adalah membaca tentang kehidupan dan nilai-nilainya. Keislaman dan kebangsaan menjadi satu tema. Maka, dengan nama Nusantara, kita berharap cita-cita luhur ini bisa tersebar luas di seluruh pelosok negeri. Menjadi satu semangat untuk meneruskan perjuangan para Ulama pendiri bangsa ini. Mewujudkan nilai-nilai Islam Nusantara agar tak sekedar menjadi mimpi.

Sebab nama adalah doa. Maka, melalui nama ini semoga kita mengingat dan tetap mematrikan rasa cinta untuk nusa dan bangsa. Meletakkan semangat persatuan di dada. Berjuang untuk Indonesia terutama dalam pendidikan agama. Bahkan, siap berjuang di garda terdepan untuk memimpin bangsa.
*********

(Tulisan ini saya buat atas desakan yang begitu sangat mendadak dari ketua angkatan. Jadi masih agak belepotan. Gak masalah, yang penting manut perintahe beliau)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAMAMUNNI'MAT

Dalam hidup, tak sedikit orang yang mengira bahwa semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, atau semakin luas kekuasaan adalah tanda bahwa Allah mencintainya. Padahal, ukuran nikmat dalam pandangan manusia belum tentu sama dengan ukuran nikmat dalam pandangan Allah. Tidak semua yang terlihat banyak itu membawa kebaikan. Tidak semua yang ditahan dari kita berarti kita sedang dirugikan. Sebagian ulama berkata,  من تمام النعمة عليك أن يرزقك الله ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك. "Termasuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Allah memberimu apa yang mencukupimu, dan menahan darimu apa yang bisa membuatmu melampaui batas." Ini bukan sekadar nasihat biasa, tapi kunci besar dalam memahami makna hidup. Sebab, betapa sering kita meminta sesuatu dengan sangat ngotot, meyakini bahwa jika hal itu tercapai, maka hidup kita akan lebih tenang. Namun ketika yang diminta tidak kunjung datang, kita kecewa, merasa dizalimi oleh takdir, seakan-akan Allah tidak adil dalam membagikan rezeki. Pada...

KETIKA YANG TERBACA KEMBALI MENYAPA

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads. Isinya tentang bagaimana bacaan yang pernah kita lahap di masa lalu ternyata tidak benar-benar hilang. Renungan sederhana itu seakan membuka pintu ingatan saya sendiri. Pengalaman membaca ternyata memang tidak pernah hilang begitu saja. Setiap bacaan yang kita telaah, meskipun telah lama berlalu, seolah menyisakan jejak halus di dalam otak kita. Jejak itu membentuk semacam partikel-partikel pengetahuan yang kemudian tersusun menjadi kerangka berpikir yang lebih baik. Menariknya, bacaan yang pernah kita simpan jauh di masa lalu seringkali muncul kembali secara spontan ketika kita benar-benar membutuhkannya. Seakan otak memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kembali pengetahuan tersebut. Hal ini bukan sekadar romantisme pengalaman pribadi. Tetapi juga mendapat pengakuan dari penelitian ilmiah tentang memori dan kognisi. Ada sebuah situs yang mengutip statement Daniel T. Willingham dalam buku Why Don’t Students Like...

JEJAK PENYESALAN

Malam itu, langit diselimuti kelam. Di dalam kamar sunyi, seorang pria duduk termenung. Wajahnya tertunduk, matanya menatap lantai yang kian mengusam. Kesalahan besar yang pernah ia perbuat, meski tak diketahui orang lain, kini menjadi bayangan yang tak mau pergi. Rasa bersalah itu seperti duri dalam daging, menusuk tanpa henti. Setiap malam, saat dunia terlelap, ia terjaga. Keheningan malam justru memperjelas suara hatinya yang menjerit. Ia menyadari, penyesalan tak akan mengubah masa lalu. Namun, menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri bukan perkara mudah. Ia berharap, suatu hari nanti, fajar akan membawa cahaya pengampunan. Bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hingga saat itu tiba, ia akan terus bergulat dengan bayang-bayang kesalahannya, mencari jalan menuju damai yang didambakan.